Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP dipastikan berjalan lancar pada hari pertama. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyebut sistem pengamanan telah disiapkan sejak awal untuk mencegah potensi kecurangan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, meninjau langsung pelaksanaan TKA di SMP Negeri 2 Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (6/4). Dari hasil pemantauan, ia menilai kesiapan sekolah sudah sesuai prosedur, baik dari sisi teknis maupun penataan ruang ujian.
“Secara umum pelaksanaan sudah sesuai ketentuan. Kami berharap TKA bisa berjalan lancar hingga akhir,” ujarnya.
Mu’ti menegaskan, TKA tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Kewenangan tersebut tetap berada di masing-masing sekolah. TKA hanya berfungsi untuk memetakan kemampuan akademik, khususnya literasi dan numerasi, yang dilengkapi dengan survei karakter serta lingkungan belajar.
Menurutnya, hasil TKA akan menjadi pelengkap dari penilaian yang sudah ada, seperti nilai rapor dan capaian nonakademik. Data tersebut nantinya digunakan sebagai salah satu rujukan dalam sistem penerimaan murid baru melalui berbagai jalur.
“Melalui TKA, kita ingin mendapatkan gambaran utuh kemampuan siswa, baik akademik maupun karakter,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya integritas selama pelaksanaan ujian. Siswa diminta mengerjakan soal dengan jujur dan tetap rileks.
Sementara pengawas diimbau bekerja profesional tanpa aktivitas tambahan seperti merekam atau mengunggah konten selama ujian berlangsung.
Untuk menjaga kredibilitas, Kemendikdasmen telah menyiapkan berbagai mekanisme pencegahan kecurangan, termasuk sistem proteksi teknis yang dirancang sejak tahap awal.
Secara nasional, tingkat kehadiran peserta pada hari pertama mencapai sekitar 98 persen.
Sisanya, sekitar 2 persen, belum mengikuti ujian karena alasan tertentu, seperti kesiapan mental maupun pertimbangan orang tua. Di SMP Negeri 2 Curug sendiri, seluruh peserta tercatat hadir 100 persen.
Mu’ti menjelaskan, TKA dirancang sebagai sistem “lima dalam satu” yang menghasilkan lima jenis data sekaligus, yakni kemampuan akademik, literasi, numerasi, karakter, serta kondisi lingkungan belajar.
Untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), pemerintah menerapkan skema fleksibel. Ujian tidak sepenuhnya berbasis daring, sehingga sekolah dengan keterbatasan fasilitas tetap dapat melaksanakan TKA, termasuk melalui mekanisme berbagi sarana.
Sementara itu, bagi sekolah yang terdampak bencana seperti banjir atau kebakaran, disiapkan jadwal ujian susulan berbasis komputer agar seluruh siswa tetap bisa mengikuti asesmen.
“Kami optimistis TKA dapat menghasilkan data yang valid sebagai dasar penyusunan kebijakan pendidikan ke depan,” tegasnya.
Kepala SMP Negeri 2 Curug, Purwaningsih, menyebut pelaksanaan hari pertama berjalan tanpa hambatan berarti. Sekolah menyiapkan tiga ruang ujian dengan total 60 siswa per sesi dan berlangsung dalam tiga sesi.
“Alhamdulillah lancar, baik dari sisi jaringan maupun sistem. Token juga keluar tepat waktu,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekolah hanya mendorong siswa beradaptasi dengan pola soal TKA tanpa bimbingan khusus. Guru pun mulai menyusun soal serupa agar siswa terbiasa.
Salah satu siswa, Heiba Anindya, mengaku sempat merasa gugup saat menghadapi ujian.
Namun, rasa penasaran terhadap bentuk soal membuatnya tetap antusias.
“Awalnya deg-degan karena ini pengalaman baru, tapi juga penasaran,” katanya.
Ia mengaku telah mempersiapkan diri sejak beberapa bulan terakhir, dengan intensitas belajar yang meningkat menjelang pelaksanaan. (***)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO