Buka konten ini

BATAM (BP) – Harga minyak goreng premium di Batam mulai mengalami kenaikan seiring meningkatnya biaya produksi, sementara stok minyak goreng bersubsidi Minyakita justru dilaporkan kosong di tingkat distributor.
Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pokok Kota Batam, Ariyanto, membenarkan adanya penyesuaian harga tersebut. Ia menyebutkan, kenaikan terjadi pada minyak goreng premium dengan kisaran sekitar 3 hingga 4 persen.
“Memang ada kenaikan, khusus untuk minyak goreng premium sekitar 3 sampai 4 persen,” ujar Ariyanto, Senin (6/4).
Menurutnya, kenaikan harga ini dipicu oleh meningkatnya biaya produksi di tingkat pabrik. Sejumlah komponen seperti bahan baku utama hingga kemasan plastik mengalami kenaikan, sehingga berdampak langsung pada harga jual di pasaran.
“Dari pabrik sudah naik. Kemungkinan karena bahan baku juga naik, termasuk plastik untuk kemasan. Itu pasti berpengaruh,” jelasnya.
Meski demikian, Ariyanto memastikan kenaikan harga belum sepenuhnya dirasakan konsumen. Hal ini karena sebagian distributor masih memiliki stok lama yang dijual dengan harga sebelumnya.
“Masih ada yang jual harga lama karena stok lama. Tapi minggu ini barang baru mulai masuk, jadi harga baru akan mulai berlaku,” katanya.
Ia menilai kenaikan harga yang terjadi saat ini masih dalam batas wajar dan belum terlalu membebani pasar. Selain itu, distribusi minyak goreng premium juga dipastikan tetap berjalan lancar tanpa kendala berarti.
“Kenaikannya tidak besar, masih relatif aman,” ujarnya.
Di sisi lain, kondisi berbeda terjadi pada minyak goreng bersubsidi Minyakita. Ariyanto mengungkapkan, stok Minyakita di tingkat distributor saat ini mengalami kekosongan.
“Untuk Minyakita, banyak yang kosong di distributor. Karena dari pabrik harus mengutamakan penyaluran ke BUMN seperti Bulog untuk memenuhi kebutuhan program pemerintah terlebih dahulu,” terangnya.
Ia menegaskan, pihak distributor tidak memiliki kewenangan dalam mengatur distribusi maupun harga Minyakita, karena seluruh kebijakan berada di tangan pemerintah.
“Kami tidak bisa intervensi. Itu kebijakan pemerintah. Soal ada penyesuaian harga atau tidak, semua tergantung pemerintah,” sebutnya.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk menyesuaikan kebutuhan dan tetap bijak dalam berbelanja di tengah fluktuasi harga bahan pokok.
“Intinya kami minta masyarakat juga jangan sampai panic buying,” tutup Ariyanto. (*)
Reporter : YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO