Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Ketahanan pangan global menghadapi tekanan serius menyusul terganggunya pasokan pupuk dari kawasan Teluk Persia. Hambatan distribusi melalui Selat Hormuz akibat konflik bersenjata berpotensi memicu krisis pangan di berbagai negara.
Selat Hormuz selama ini tidak hanya menjadi jalur vital pengiriman minyak dan gas, tetapi juga rute utama bagi sekitar sepertiga perdagangan bahan baku pupuk dunia. Komoditas seperti amonia, nitrogen, dan sulfur yang dibutuhkan untuk pupuk sintetis melintasi jalur ini, bersamaan dengan sekitar 20 persen pengiriman gas alam global.
Gangguan di jalur strategis tersebut berpotensi menimbulkan dampak ganda, yakni terganggunya pasokan energi sekaligus produksi pangan dunia.
Dilansir dari The Guardian, Kepala International Rescue Committee, David Miliband, memperingatkan bahwa kondisi ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan global.
“Peluang untuk mencegah krisis kelaparan global yang masif semakin menipis,” ujarnya.
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) juga menyebut isu pupuk sebagai salah satu kekhawatiran utama saat ini. Sementara itu, Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan jumlah penduduk yang berisiko mengalami kelaparan akut dapat mencapai titik tertinggi tahun ini jika konflik terus berlanjut.
Ketergantungan dunia terhadap pupuk sintetis sangat tinggi. Sekitar setengah produksi pangan global bergantung pada nitrogen sintetis untuk menjaga hasil panen. Jika pasokan terganggu, produksi pangan berpotensi turun dan memicu kenaikan harga bahan pokok seperti beras, gandum, kentang, hingga produk olahan.
Kondisi ini turut diperburuk oleh lonjakan harga pupuk sejak awal konflik. Harga urea Mesir, sebagai acuan pasar, tercatat naik lebih dari 60 persen menjadi sekitar 780 dolar AS per ton, dari sebelumnya 484 dolar AS pada akhir Februari.
Wakil Presiden Intelijen Pasar CRU Group, Chris Lawson, menyebut pasar pupuk global saat ini berada dalam kondisi “paralisis”, yakni perlambatan drastis perdagangan dan distribusi akibat ketidakpastian.
“Gangguan pasokan sudah cukup parah. Permintaan tetap tinggi, tetapi situasi bisa menjadi lebih buruk jika konflik berlanjut,” katanya.
Sejumlah negara yang sangat bergantung pada impor pupuk dari kawasan Teluk mulai merasakan tekanan, termasuk India, yang merupakan pengguna pupuk terbesar kedua di dunia. Selain itu, negara-negara di Afrika dan Asia Selatan seperti Pakistan, Bangladesh, Malawi, dan Sudan juga berisiko tinggi terdampak.
International Rescue Committee memperingatkan dampak krisis ini berpotensi lebih luas dibandingkan gangguan pangan akibat perang Rusia–Ukraina pada 2022, karena melibatkan disrupsi jalur energi sekaligus pasokan pupuk.
Tanpa penanganan cepat, jutaan orang diperkirakan dapat menghadapi kelaparan akut dalam waktu dekat.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa rantai pasok pangan global sangat rentan terhadap gejolak geopolitik. Gangguan di satu jalur strategis dapat memicu efek domino yang luas, sehingga diperlukan langkah antisipatif melalui diversifikasi pasokan dan penguatan sistem ketahanan pangan. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY