Buka konten ini

BATAM (BP) – Kota Batam bersiap menjadi pusat perhatian dunia melalui gelaran International Graffiti Festival 2026: Wave of Wall yang akan menghadirkan puluhan seniman graffiti dari berbagai negara untuk mengubah ruang-ruang urban menjadi kanvas raksasa penuh warna dan pesan visual.
Penanggung jawab acara, Agung, mengatakan Wave of Wall merupakan kolektif seni visual berbasis di Batam yang bertujuan mentransformasi wajah kota industri menjadi galeri
terbuka.
“Kami ingin menghadirkan energi baru di ruang publik, mengubah dinding-dinding monoton menjadi medium ekspresi yang hidup,” ujarnya, Minggu (5/4).
Menurut dia, festival ini tidak sekadar menjadi perayaan seni, tetapi juga upaya membangun identitas baru Batam. Selama ini Batam dikenal sebagai kota industri, namun melalui kegiatan ini diharapkan muncul citra sebagai kota dengan denyut seni urban yang kuat.
Festival dijadwalkan berlangsung selama dua hari, 11–12 April 2026, di kawasan Nagoya City Walk dengan mengusung konsep Wall Invasion. Konsep tersebut dimaknai sebagai “serangan kreatif” yang melibatkan seniman lokal dan internasional dalam menciptakan karya seni skala besar di berbagai titik kota.
“Istilah ‘invasion’ bukan dalam arti negatif, tetapi simbol bagaimana kami merebut kembali ruang visual kota dari kesan abu-abu menjadi lebih hidup dan penuh cerita,” jelasnya.
Koordinator acara, Etek, menambahkan bahwa hari pertama akan dipusatkan di area basement Nagoya City Walk dengan berbagai kegiatan seperti graffiti jamming, uji coba spray painting, pameran seni, hingga penampilan musik dan DJ. Sementara pada hari kedua akan digelar graffiti games, lomba skateboard, talkshow, serta pertunjukan musik lanjutan.
“Kami ingin menghadirkan ruang diskusi, bukan hanya pertunjukan. Graffiti itu bagian dari budaya, bukan sekadar visual,” kata Etek.
Festival ini akan menghadirkan seniman internasional dari Prancis, Turki, India, Malaysia, Singapura, dan Thailand, di antaranya Potinword (Prancis), Kadirmersoy (Turki), Bongster (India), Kart dan Stranger (Singapura), serta 3Top dan Khun (Thailand).
Agung menyebut kehadiran seniman mancanegara tersebut menjadi momentum penting bagi komunitas lokal untuk melakukan pertukaran ide dan teknik.
“Ini kesempatan bagi seniman Batam untuk belajar langsung sekaligus memperluas jaringan di tingkat internasional,” ujarnya.
Dari dalam negeri, sejumlah seniman juga turut ambil bagian, seperti Reaz (Yogyakarta), Mine (Kebumen), Lambok (Medan), serta seniman tuan rumah seperti Stepone, Froston, dan Wepz.
Selain pameran dan pertunjukan seni, festival ini juga diramaikan berbagai aktivitas komunitas, mulai dari area uji coba spray painting, permainan skateboard dan fingerboard, live painting pada mobil, hingga pertemuan komunitas sepeda, Vespa, dan motor kustom. Kegiatan thrifting turut melengkapi rangkaian acara yang memadukan seni, gaya hidup, dan ekonomi kreatif.
Etek berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang memperkuat posisi Batam dalam peta seni urban global.
“Harapannya, ini bukan sekadar acara satu kali, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu menghidupkan ruang kota secara kreatif,” pungkasnya. (*)
Reporter : YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO