Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Perlambatan daya beli masyarakat dan tingginya suku bunga sepanjang 2025 terasa di sektor otomotif nasional. Setelah sempat tumbuh kuat pada periode sebelumnya, industri kini memasuki fase normalisasi, ditandai dengan melemahnya permintaan kendaraan roda dua dan pembiayaan konsumen.
Kondisi tersebut tercermin pada kinerja PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) yang mencatatkan penurunan laba bersih sepanjang tahun buku 2025. Berdasar laporan keuangan yang telah diaudit, MPMX membukukan pendapatan sebesar Rp 16,2 triliun, relatif stagnan atau turun tipis satu persen secara tahunan (YoY). Sementara itu, laba bersih turun lebih dalam sebesar 19 persen menjadi Rp 462 miliar.
Group Chief Executive Officer MPMX Suwito Mawarwati menyebut, tekanan makro ekonomi menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja perseroan. ”Tekanan terhadap daya beli masyarakat, suku bunga yang masih tinggi, serta moderasi konsumsi domestik berdampak pada melambatnya beberapa sektor, termasuk otomotif roda dua dan pembiayaan,” ujar Suwito Mawarwati melalui keterangannya.
Meski demikian, dia menilai 2025 menjadi momentum untuk memperkuat fondasi bisnis. Perusahaan fokus pada efisiensi biaya, peningkatan kualitas operasional, serta penguatan kolaborasi antar lini usaha guna menjaga daya tahan di tengah perubahan pasar.
Permintaan Motor Melemah, Aftermarket Jadi Penopang
Di segmen distribusi dan ritel kendaraan roda dua, pendapatan turun dua persen YoY menjadi Rp15,2 triliun seiring moderasi permintaan. Penjualan tercatat 699 ribu unit di distribusi dan 187 ribu unit di ritel.
Namun, bisnis aftermarket seperti suku cadang dan layanan purna jual justru menunjukkan ketahanan. Penjualan suku cadang di distribusi naik 3,5 persen, sementara di ritel melonjak 24 persen YoY, mencerminkan pergeseran konsumsi ke perawatan kendaraan dibanding pembelian baru.
Asuransi dan Investasi Tumbuh Signifikan
Di tengah tekanan sektor otomotif, lini asuransi menjadi salah satu penopang kinerja. Pendapatan asuransi naik tipis 1,6 persen menjadi Rp 927,8 miliar, namun laba bersih melonjak hampir 70 persen YoY.
Kenaikan ini didorong hasil investasi yang meningkat 45 persen. Terutama dari instrumen ekuitas, obligasi, dan reksa dana, di tengah strategi pengelolaan portofolio yang lebih optimal.
Bisnis Lain Variatif, Pembiayaan Masih Tertekan
Segmen penyewaan kendaraan relatif stabil dengan armada sekitar 15.000 unit dan tingkat utilisasi tinggi mencapai 92 persen. Sementara itu, bisnis lelang kendaraan mencatat pertumbuhan penjualan enam persen menjadi 4.000 unit.
Di sisi lain, lini jasa keuangan masih menghadapi tekanan. Kerugian operasional memang menyusut 53 persen menjadi Rp 437 miliar, namun perbaikan kualitas aset dan manajemen risiko masih menjadi pekerjaan utama.
Prospek 2026: Menunggu Pemulihan Konsumsi
Manajemen melihat peluang perbaikan pada 2026 seiring potensi pemulihan konsumsi domestik dan aktivitas ekonomi. Fokus perusahaan ke depan diarahkan pada penguatan bisnis inti, efisiensi biaya, serta optimalisasi portofolio usaha.
Selain itu, MPMX juga terus mengintegrasikan prinsip keberlanjutan (ESG) dalam operasional. Perseroan tercatat memiliki risiko ESG rendah berdasarkan penilaian global serta tetap masuk dalam indeks berbasis keberlanjutan di pasar modal.
Dengan strategi tersebut, perusahaan berharap dapat menjaga daya saing di tengah dinamika industri sekaligus menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI