Buka konten ini

ZENICA (BP) – ”Bukan Lagi Negara Sepak Bola”, ”Titik Terendah Baru”, ”Malu”, ”Bukan April Mop”. Begitu sederet headline yang menghiasi media seantero dunia setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Kegagalan lolos Piala Dunia kali ketiga beruntun (setelah 2018 dan 2022) bagi timnas peraih empat gelar Piala Dunia (1934, 1938, 1982, dan 2006).
Gli Azzurri – sebutan Italia– mencatatkan sejarah terkelamnya di Stadion Bilino Polje, Zenica, kemarin (1/4). Gianlugi Donnarumma dkk kalah oleh Bosnia-Herzegovina lewat adu penalti 1-4 (1-1).
Surat kabar Corriere dello Sport dalam headline menyebut, Italia tersingkir tanpa alibi. Itu karena di balik tiga kegagalan Italia lolos Piala Dunia, ada kesalahan individu pemainnya. Seperti kemarin, kartu merah bek Alessandro Bastoni empat menit sebelum turun minum mengubah kendali permainan dan mentalitas para pemain Gli Azzurri.
’’Ini menyakitkan, sungguh sangat menyakitkan. Lebih dari sekadar menyakitkan bagiku setelah melihat tim ini benar-benar melakukan yang terbaik dalam beberapa bulan terakhir,’’ ungkap allenatore Italia Gennaro Gattuso di La Gazzetta dello Sport.
”Aku pikir kami pantas mendapatkan lebih dari ini,’’ tambah pelatih yang baru delapan laga menangani Gli Azzurri atau per 14 Juni 2025.
Status Gattuso dan Buffon
Menyusul kegagalan meloloskan Italia ke Piala Dunia 2026, Gattuso belum menyatakan sikapnya terkait statusnya sebagai allenatore Gli Azzurri. Begitu pula dengan Gianluigi Buffon yang menjabat sebagai direktur timnas. Keduanya pernah menyatakan kesiapan mengundurkan diri jika gagal ke Piala Dunia.
Buffon menyebut, dia dan staf kepelatihan baru akan menyatakan sikap pada Juni mendatang. ’’Musim olahraga akan berakhir pada Juni dan saat itu adalah momen yang tepat dan pantas bagi federasi (FIGC) memutuskan hal tentang statusku,’’ ucap Gigi –sapaan akrab Buffon– seperti dilansir dari Fan Page.
Di sisi lain, Presiden FIGC Gabriele Gravina menyiratkan akan memberi Gattuso kesempatan kedua.
Bersama Ringhio –julukan Gattuso, Italia hanya sekali kalah dan menang enam kali (persentase kemenangan 75 persen). ’’Aku pikir dia (Gattuso) pelatih yang hebat. Aku pun sudah meminta dia dan Gigi tetap di sini,’’ kata Gravina kepada Sky Sport Italia.
Dua Insiden Muharemovic
Meski tidak mengubah hasil, ada insiden yang memicu perdebatan di media sosial terkait kepemimpinan wasit Clement Turpin asal Prancis kemarin. Sorotan tertuju pada keputusan Turpin yang tidak memberi kartu merah (hanya kartu kuning) kepada bek tengah Bosnia, Tarik Muharemovic pada menit ke-102 (babak tambahan waktu).
Tepatnya saat Muharemovic menjatuhkan bek kanan Italia Marco Palestra di kotak penalti. Bukan hanya kartu merah, Italia semestinya juga dihadiahi penalti. Begitu pula momen handsball Muharemovic saat bola tembakan striker Italia Francesco Pio Esposito didefleksikan ke sisi kanan gawang pada menit ke-117. Dua insiden itu dianggap pendukung Gli Azzurri bisa memberikan hasil akhir berbeda. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO