Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa sukses menembus 1 juta penonton sejak tayang perdana pada 18 Maret lalu, sekaligus jadi momen spesial bagi Luna Maya sebagai pemeran utama.
Bagi Luna, capaian tersebut terasa makin berkesan karena ini merupakan film Lebaran pertamanya tahun ini. “Kebetulan, ini film Lebaran pertamaku dan berhasil tembus 1 juta penonton. Rasanya spesial banget,” ujar istri Maxime Bouttier itu saat ditemui di kawasan Jakarta Barat, 30 Maret 2026.
Film ini merupakan sekuel ketiga dari waralaba Suzzanna yang pertama kali dirilis pada 2018. Kala itu, film perdananya langsung mencuri perhatian dengan raihan 2,5 juta penonton. Kesuksesan tersebut berlanjut lewat Suzzanna: Malam Jumat Kliwon yang dirilis Agustus 2023 dan berhasil mengantongi 2,1 juta penonton.
Menurut Luna, capaian tersebut jadi bukti kuat bahwa sosok Suzzanna masih punya tempat spesial di hati penonton Indonesia. “Ini membuktikan bahwa Bunda Suzzanna selalu dirindukan,” katanya.
Produser Sunil Soraya menyebut, proyek film Suzzanna memang bertujuan menghidupkan kembali ikon horor legendaris yang melekat pada mendiang Suzzanna Martha Frederika van Osch.
Sementara itu, sutradara Azhar Kinoi Lubis turut mengapresiasi tingginya antusiasme penonton. Ia menilai film ini hadir dengan pendekatan berbeda, mengusung konsep horor kolosal dengan visual yang lebih megah.
“Bukan cuma cerita, tapi kekuatan produksi juga jadi daya tarik utama,” ujarnya.
Film hasil kolaborasi Legacy Pictures dan Navvaros Entertainment ini mengangkat kisah Suzzanna yang diliputi dendam setelah ayahnya dibunuh melalui santet. Namun, di tengah amarah tersebut, ia harus menghadapi dilema antara membalas dendam atau mempertahankan cinta.
Dalam film ini, Luna Maya beradu akting dengan Reza Rahadian yang memerankan Pramuja, sosok pria religius dengan karakter kuat. Menariknya, Clift Sangra—suami mendiang Suzzanna—juga ikut terlibat sebagai Bisman, tokoh antagonis utama.
Dengan capaian 1 juta penonton dalam waktu singkat, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa semakin menegaskan eksistensi film horor lokal yang tetap diminati, sekaligus membuka peluang besar untuk kesuksesan berikutnya. (***)
Reporter : JP Group
Editor : GALIH ADI SAPUTRO