Buka konten ini

PEMERINTAH Kabupaten Bintan bergerak cepat mengatasi krisis air bersih yang melanda Kecamatan Seri Kuala Lobam. Salah satu langkah darurat yang disiapkan adalah pembangunan sumur bor di tiga wilayah terdampak.
Sekretaris Daerah (Sekda) Bintan, Ronny Kartika, mengatakan pembangunan sumur bor tersebut telah mendapat persetujuan Bupati Bintan.
“Kami sudah melaporkan kepada Pak Bupati dan beliau menyetujui pembangunan sumur bor di tiga wilayah terdampak,” ujarnya.
Tiga lokasi yang menjadi prioritas yakni Kelurahan Tanjung Permai, Kelurahan Teluk Lobam, dan Desa Teluk Sasah.
Ronny menyebut, pembangunan sumur bor akan segera dilakukan dan ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu dua pekan ke depan.
“Minimal dua minggu ke depan sudah bisa dimanfaatkan masyarakat,” katanya.
Sumur bor tersebut nantinya akan menjadi sumber air bersih yang dapat digunakan masyarakat secara gratis selama 24 jam.
Untuk mempercepat proses, titik pembangunan direncanakan berada di lahan milik pemerintah, seperti halaman kantor lurah dan kantor desa.
“Karena lahannya milik pemerintah, proses pembangunan bisa lebih cepat. Kami juga akan segera melakukan survei dan kajian teknis,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembangunan sumur bor tidak menutup kemungkinan diperluas ke titik lain, terutama bagi wilayah yang jauh dari lokasi awal.
“Kami akan lihat kondisi di lapangan. Jika ada warga yang jauh dari titik sumur bor, kemungkinan akan ditambah titik baru,” tambahnya.
Sembari menunggu pembangunan rampung, kebutuhan air bersih masyarakat tetap dipenuhi melalui distribusi dari organisasi perangkat daerah (OPD) serta bantuan perusahaan, di antaranya PT Bintan Inti Industrial Estate (BIIE).
Untuk jangka menengah dan panjang, Pemkab Bintan juga tengah mengkaji potensi sumber air baku dari waduk lain, termasuk waduk di Kampung Limau, Desa Busung.
“Secara teknis, volume dan pH airnya sudah memenuhi standar air baku SPAM, tetapi tetap perlu kajian lebih lanjut,” pungkasnya.
Distribusi Air di Siantan mulai Dibatasi
Sementara itu, musim kemarau mulai memberi dampak nyata terhadap ketersediaan air bersih di Pulau Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas. Dalam sebulan terakhir, dua sumber air utama mengalami penurunan debit yang cukup signifikan.
Minimnya curah hujan menjadi pemicu utama menyusutnya cadangan air. Dampaknya, pasokan air bersih untuk kebutuhan masyarakat mulai terbatas.
Kepala Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kepulauan Anambas, Arif Gunawan, mengatakan dua sumber air yang terdampak berada di Gunung Samak dan Embung Gunung Lintang.
Ia menjelaskan, volume air di Gunung Samak saat ini hanya tersisa sekitar 30 ribu ton, turun drastis dari kondisi normal yang mencapai 60 ribu ton.
Sementara itu, Embung Gunung Lintang mengalami penurunan lebih tajam. Dari kapasitas normal 20 ribu ton, kini hanya tersisa sekitar 6 ribu ton.
“Untuk Gunung Samak tersisa sekitar 30 ribu ton dari normal 60 ribu ton. Sedangkan Embung Gunung Lintang tinggal sekitar 6 ribu ton dari biasanya 20 ribu ton,” ujarnya, Selasa (31/3).
Meski demikian, SPAM Anambas tetap berupaya menjaga distribusi air kepada masyarakat. Penyaluran dilakukan melalui jaringan pipa paralel dari waduk ke rumah-rumah warga.
Namun, keterbatasan debit air membuat waktu distribusi harus dikurangi agar pasokan tetap merata.
“Biasanya air dialirkan pagi dan sore dengan durasi lebih lama. Sekarang kami kurangi, misalnya di wilayah Tarempa Selatan Rintis dari dua jam menjadi sekitar satu setengah jam,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, SPAM juga menyiapkan distribusi alternatif menggunakan mobil tangki apabila kondisi semakin memburuk.
Petugas nantinya akan menyalurkan air langsung ke permukiman warga, sekaligus menyiapkan titik-titik pengambilan air.
“Kalau kondisi semakin kering, kami akan turunkan mobil tangki dan siapkan titik distribusi air untuk masyarakat,” tambahnya.
Arif menyebut, cadangan air sebenarnya masih bisa kembali meningkat apabila hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasi lebih lama. Namun, hujan yang terjadi belakangan ini masih sangat singkat.
“Selama ini hujan hanya sekitar 10 menit, sehingga belum cukup menambah debit air di waduk,” katanya.
Pemerintah daerah melalui SPAM mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak selama musim kemarau, agar ketersediaan tetap terjaga hingga kondisi kembali normal. (***)
Reporter : Slamet Nofasusanto – Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY