Buka konten ini

Halaman Mapolres Kepulauan Anambas siang itu mendadak berubah. Langkah kaki para personel yang biasanya tegas dan tergesa, perlahan melambat. Beberapa bahkan berhenti. Di tengah jalan, seorang perempuan paruh baya berdiri. Sendiri. Diam. Namun tegas.
NAMANYA Helin. Wajahnya tampak lelah, matanya sembab, seolah sudah terlalu lama menangis. Napasnya naik turun, menahan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ketika sebuah mobil dinas berwarna gelap perlahan melaju keluar halaman, Helin melangkah maju—menghadangnya.
Mobil itu berhenti. Di dalamnya, Kapolres Kepulauan Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka.
Tak ada teriakan. Tak ada amarah.
Hanya suara lirih yang nyaris patah di setiap katanya.
“Tolong, Pak… sudah lebih sebulan anak saya tidak tahu keberadaannya. Apa dia masih hidup atau sudah tidak ada,” ucap Helin.
Sejak 22 Februari lalu, hidupnya seperti berhenti di satu titik. Hari-hari yang dilalui hanya diisi dengan menunggu dan berharap.
Anak laki-lakinya, Deni Saputra, hilang tanpa kabar setelah penggerebekan narkoba di sebuah kos-kosan di Desa Tarempa Barat.
Sejak saat itu, tak ada jejak. Tak ada kabar. Bagi Helin, ketidakpastian itu lebih menyakitkan daripada kenyataan apa pun.
“Kalau saya tahu wujud anak saya, baru tenang. Kalau dipenjara, saya antar makanannya. Kalau dia meninggal, bisa dibuat acara duka,” katanya pelan.
Setiap kata yang keluar seperti membuka luka yang belum sempat mengering.
Di mata hukum, Deni Saputra disebut sebagai pemasok narkotika jenis sabu di wilayah Tarempa. Namanya muncul setelah empat tersangka lain Yan, Tik, Saf, dan Dik diamankan dan mengaku mendapatkan barang dari dirinya.
Namun saat aparat mendatangi rumahnya, Deni sudah tidak ada. Ia menghilang.
Bagi polisi, Deni adalah buronan. Tapi bagi Helin, ia tetap anak yang pernah digendong, dibesarkan, dan dipanggil dengan penuh kasih.
Di sela tangisnya, Helin bercerita tentang hal lain yang membuat hatinya semakin perih. Anak bungsunya, Cia, mengaku bermimpi didatangi sang kakak.
Dalam mimpi itu, Deni datang sambil menangis. Ia ingin pulang, tetapi takut dimarahi ibunya, dan takut ditangkap polisi.
“Ko Den bilang dia salah, mau pulang, mau ketemu emak,” tutur Helin, mengulang cerita itu dengan suara bergetar.
Mungkin hanya mimpi. Tapi bagi seorang ibu, itu adalah secercah harapan.
Helin juga menyimpan kegelisahan lain. Ia merasa ada yang janggal dari sikap menantunya, Claudia, istri Deni.
Sejak Deni menghilang, Claudia terlihat menjalani hari seperti biasa. Tanpa raut kehilangan yang ia harapkan.
“Coba gali dari Claudia, Pak. Mungkin dia tahu. Saya sudah resah,” pintanya.
Di hadapannya, Kapolres mencoba menenangkan. Dengan suara yang tegas, ia memastikan pencarian terus dilakukan.
“Ibu tenang dulu. Saya sudah perintahkan Kasat Narkoba untuk terus melakukan pengejaran. Nanti Claudia juga akan kita panggil,” ujar Kapolres.
Janji itu menjadi satu-satunya pegangan bagi Helin saat ini.
Di tengah ketidakpastian yang panjang, ia hanya menunggu satu hal kabar. Apa pun bentuknya.
Bagi orang lain, ini mungkin hanya satu kasus di antara banyak perkara. Namun bagi Helin, ini adalah tentang darah dagingnya sendiri. Tentang seorang anak yang kini hanya tersisa dalam ingatan, doa, dan harapan.
Di bawah langit Anambas yang terik, seorang ibu berdiri dengan hati yang retak. Ia tidak meminta banyak. Hanya satu jawaban.
Apakah anaknya masih hidup atau telah pergi tanpa sempat berpamitan. (***)
Reporter: Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY