Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat menjalankan misi perdamaian di Timur Tengah.
Ucapan belasungkawa itu disampaikan melalui akun Instagram resmi @prabowo, Selasa (31/3). Prabowo juga memberikan penghormatan atas pengabdian dan pengorbanan para prajurit dalam menjalankan tugas negara.
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Turut berduka cita atas gugurnya Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Prajurit Kepala Farizal Rhomadon saat menjalankan misi perdamaian di Timur Tengah,” tulisnya.
Ia menegaskan, pengabdian para prajurit merupakan bentuk dedikasi dan keberanian dalam menjaga perdamaian dunia, sekaligus membawa nama baik Indonesia di kancah internasional.
Pemerintah Indonesia pun memberikan penghormatan setinggi-tingginya atas jasa dan pengorbanan para prajurit yang gugur dalam tugas mulia tersebut.
Melalui Kementerian Luar Negeri, pemerintah juga mendesak dilakukannya penyelidikan menyeluruh atas serangkaian serangan di Lebanon yang mengakibatkan gugurnya personel Indonesia dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dalam dua hari berturut-turut.
Indonesia meminta penyelidikan dilakukan secara cepat, transparan, dan menyeluruh untuk mengungkap fakta serta menetapkan pihak yang bertanggung jawab.
“Indonesia menyerukan dilakukannya penyelidikan segera, menyeluruh, dan transparan untuk mengungkap fakta, termasuk kronologi kejadian serta pihak yang bertanggung jawab. Akuntabilitas penuh harus ditegakkan,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri melalui akun X, dikutip Selasa (31/3).
Pemerintah menilai, terulangnya serangan terhadap personel Indonesia dalam waktu singkat merupakan tindakan yang tidak dapat diterima. Kondisi tersebut juga mencerminkan memburuknya situasi keamanan di Lebanon.
Dua personel Indonesia gugur pada Senin (30/3) dalam serangan kedua di dekat Bani Hayyan, Lebanon. Insiden itu terjadi sehari setelah Prajurit Kepala Farizal Rhomadon gugur akibat serangan artileri tidak langsung di dekat Adchit Al Qusayr.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah eskalasi konflik antara Israel dan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Kendaraan Meledak, Dua Prajurit Gugur Saat Bertugas
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayor Jenderal TNI Aulia Dwi Nasrullah, mengungkapkan penyebab gugurnya dua prajurit TNI di Lebanon Selatan.
Menurut dia, kedua prajurit gugur saat melaksanakan tugas pengawalan konvoi logistik dalam misi perdamaian.
Berdasarkan laporan Mabes TNI, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan meninggal dunia saat tergabung dalam Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang menjalankan pengawalan Combat Support Service Unit (CSSU).
“Mereka melaksanakan tugas memberikan dukungan dari Markas Komando Sektor Timur UNIFIL di United Nations Post 7-2 menuju Markas Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1,” ujar Aulia.
Ia menjelaskan, insiden terjadi di tengah eskalasi konflik yang tinggi, ketika kendaraan yang digunakan mengalami ledakan.
“Ledakan pada kendaraan tersebut mengakibatkan gugurnya dua prajurit TNI,” katanya.
Selain itu, dua prajurit lainnya mengalami luka, yakni Letnan Satu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana dan Prajurit Kepala Deni Rianto. Keduanya telah dievakuasi dan mendapatkan perawatan di Rumah Sakit St. George, Beirut, Lebanon.
Aulia menegaskan, TNI tetap mengutamakan keselamatan prajurit dalam setiap penugasan, termasuk dengan meningkatkan kewaspadaan sesuai standar operasional prosedur (SOP) UNIFIL.
“UNIFIL saat ini juga tengah melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab insiden. TNI terus memantau perkembangan dan menyiapkan langkah kontinjensi sesuai dinamika di daerah misi,” jelasnya.
PBB Kutuk Keras, Sebut Pelanggaran Resolusi 1701
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, mengutuk keras insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI tersebut.
Ia menegaskan, penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran dalam konflik apa pun.
“Kami mengutuk keras insiden-insiden yang tidak dapat diterima ini. Penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target,” ujarnya.
Menurut Lacroix, insiden tersebut terjadi saat konvoi logistik UNIFIL dihantam ledakan di dekat Bani Hayyan, sehari setelah satu prajurit TNI gugur dalam insiden sebelumnya.
PBB menilai telah terjadi pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, yang mengatur penghentian konflik di wilayah perbatasan Lebanon.
“Kami melihat berbagai pelanggaran terhadap resolusi 1701. Tidak ada solusi militer, yang dibutuhkan adalah solusi politik,” tegasnya.
Ia menambahkan, PBB terus berkomunikasi dengan Indonesia dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan keselamatan pasukan penjaga perdamaian.
“Para penjaga perdamaian tetap berada di lapangan, menjalankan mandat Dewan Keamanan, meski dalam kondisi yang sangat berbahaya,” ujarnya. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK