Buka konten ini

BATAM (BP) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian marak terjadi di sejumlah wilayah Kota Batam sepanjang musim kemarau, mendorong pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat koordinasi lintas sektor.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batam, sejak Januari hingga Maret 2026 tercatat sebanyak 64 titik kebakaran. Sebaran titik api tersebut mayoritas berada di wilayah Sekupang, Nongsa, Galang, hingga kawasan sekitar Pulau Manis.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Batam, Agus Bendri, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca panas yang disertai angin kencang mempercepat penyebaran api. Hal ini membuat risiko kebakaran semakin tinggi di berbagai wilayah.

Menurut dia, sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia yang kurang memperhatikan faktor keselamatan. Praktik membuka lahan dengan cara membakar serta kebiasaan membakar sampah sembarangan menjadi penyebab dominan.
“Penanganan dan sosialisasi terus kami maksimalkan. Kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan atau sampah sembarangan demi mencegah kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Pencegahan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Batam, M. Hafiz, menyampaikan bahwa banyak kasus kebakaran berawal dari hal-hal kecil yang kerap dianggap sepele.
Ia menjelaskan, kebiasaan membakar sampah, membuang puntung rokok di area kering, hingga penggunaan api tanpa pengawasan menjadi faktor dominan penyebab kebakaran. Risiko tersebut semakin meningkat saat musim kemarau, ketika kondisi lingkungan lebih kering dan mudah terbakar.
“Masyarakat kami imbau agar tidak membakar sampah, lahan, maupun hutan sembarangan. Selain itu, hindari membuang puntung rokok di area kering dan mudah terbakar,” kata Hafiz.
Selain faktor api terbuka, penggunaan listrik yang tidak sesuai standar juga menjadi perhatian. Instalasi listrik yang tidak layak atau penggunaan peralatan elektronik secara berlebihan berpotensi menimbulkan korsleting yang dapat memicu kebakaran, baik di permukiman maupun area usaha.
Hafiz juga mengingatkan masyarakat agar tidak meninggalkan api terbuka seperti kompor atau lilin tanpa pengawasan. Ia menyarankan setiap rumah dan tempat usaha menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) sebagai langkah antisipasi dini.
Dalam upaya mempercepat penanganan, masyarakat diminta segera melapor apabila melihat tanda-tanda kebakaran. Pelaporan cepat dinilai penting agar petugas dapat segera bertindak sebelum api meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar.
Untuk layanan darurat, masyarakat dapat menghubungi Call Centre 112 yang siaga 24 jam atau melaporkan kejadian ke pos pemadam kebakaran terdekat. Pemerintah Kota Batam memastikan seluruh pos damkar di berbagai wilayah tetap siaga merespons laporan masyarakat.
Sementara itu, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan aparat keamanan, mulai dari jajaran Polda Kepulauan Riau hingga Polresta Barelang, guna memastikan penanganan karhutla berjalan cepat dan terintegrasi.
“Beberapa titik kebakaran terpantau di wilayah Galang, Nongsa, Sekupang hingga kawasan sekitar Pulau Manis. Kondisi cuaca yang panas dan lahan yang mulai mengering membuat vegetasi mudah terbakar,” ujarnya, Selasa (31/3).
Menurut Amsakar, rumput dan semak yang menguning akibat kemarau menjadi faktor utama meningkatnya potensi kebakaran. Karena itu, upaya pencegahan terus digencarkan melalui pendekatan teknis maupun nonteknis.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar salat Istisqa sebagai bentuk doa bersama memohon turunnya hujan. Ia berharap turunnya hujan dapat membantu memadamkan titik api sekaligus mengatasi krisis air bersih yang mulai dirasakan masyarakat.
“Mudah-mudahan ini bisa mengurai dua persoalan sekaligus, yakni karhutla dan ketersediaan air bersih,” katanya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Batam juga mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat dan pelaku usaha agar menghentikan sementara aktivitas yang berpotensi memperburuk kondisi, khususnya di sekitar daerah tangkapan air (DTA) dan waduk.
“Aktivitas proyek, pembukaan lahan, atau pengambilan air yang tidak terkontrol di sekitar waduk sebaiknya dihentikan sementara. Ini penting untuk menjaga daya tampung air kita,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengawasan terhadap kawasan waduk dan daerah resapan air telah dioptimalkan. Namun, peran masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam mencegah meluasnya kebakaran.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kesadaran bersama, terutama untuk tidak melakukan pembakaran lahan, baik sengaja maupun tidak. Jika terjadi kebakaran, segera lakukan upaya pemadaman,” ujarnya.
Pemko Batam juga telah berkoordinasi dengan pengelola air, yakni PT Air Batam Hilir (ABHi) dan PT Air Batam Hulu (ABHu), guna memastikan pasokan air tetap terjaga di tengah penurunan debit waduk akibat musim kemarau.
Amsakar menegaskan, berbagai langkah akan terus dilakukan demi menjaga keselamatan lingkungan dan ketersediaan air bagi masyarakat.
“Kita harus melakukan semua ikhtiar, baik teknis maupun spiritual, untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat dan daerah,” pungkasnya. (*)
Reporter : M SYA’BAN – EUSEBIUS SARA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO