Buka konten ini

KRISIS air bersih masih dirasakan warga di Kota Tanjungpinang akibat musim kemarau berkepanjangan.
Salah seorang warga Jalan Batu Naga, Fitri, mengaku sumurnya telah kering sejak awal Maret. Ia terpaksa membeli air tangki seharga Rp70 ribu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Walaupun sempat hujan, sumur belum juga terisi. Jadi kami masih beli air tangki,” ujarnya.
Ia juga mengaku tidak mengetahui adanya bantuan distribusi air bersih dari pemerintah.
“Saya tidak tahu harus menghubungi siapa, nomor BPBD saja tidak punya,” tambahnya.
Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, mengatakan pihaknya telah meminta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak di Tanjungpinang dan Bintan.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk melaksanakan salat istisqa guna memohon turunnya hujan.
“Karena ini di luar jangkauan kita,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua LSM Air, Lingkungan dan Manusia (ALIK) Kepri, Kherjuli, menilai pemerintah perlu mengambil langkah strategis dalam menangani krisis air.
Ia mendorong pembentukan satuan tugas (satgas) air bersih untuk mengelola risiko secara terintegrasi, mulai dari sumber air baku, produksi, distribusi hingga pelayanan.
“Satgas ini penting untuk memastikan pengelolaan air berjalan efektif, profesional, dan berkeadilan,” katanya.
Menurutnya, saat ini cakupan layanan Perumda Air Minum Tirta Kepri masih rendah, yakni sekitar 33 persen dari total penduduk atau sekitar 21 ribu pelanggan di Tanjungpinang, Kijang, dan Tanjunguban.
Artinya, masih ada sekitar 67 persen masyarakat Pulau Bintan yang belum terlayani air bersih dari pemerintah.
“Ini yang harus segera menjadi perhatian serius,” tegasnya.
Pemkab Bintan Bangun Konektivitas Waduk
Sementara itu, Pemkab Bintan menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasi kekeringan di Kecamatan Seri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan. Salah satunya dengan membuka aliran antarwaduk atau konektivitas sebagai sumber air baku baru bagi SPAM IKK.
Waduk baru yang akan dimanfaatkan berada di Kampung Sungai Lepan, Desa Kuala Sempang. Nantinya, waduk tersebut akan menyuplai air ke waduk lama yang saat ini mengalami kekeringan.
Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi evaluasi kebakaran dan kekeringan di Kantor Desa Busung, Senin (30/3).
Pengelola SPAM IKK Seri Kuala Lobam, Pardomuan Lumban Raja, mengatakan Dinas PUPRP Bintan siap memfasilitasi pembangunan aliran penghubung antarwaduk. “Waduk baru akan menyuplai air ke waduk lama yang mengalami kekeringan,” ujarnya.
Ia menyebut, pembangunan aliran tersebut membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan, mengingat jarak antarwaduk mencapai 1,2 kilometer. “Ditargetkan dalam dua bulan sudah bisa terealisasi,” tambahnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga berencana membangun sumur bor di setiap desa dan kelurahan di wilayah Seri Kuala Lobam. Sumur bor tersebut akan ditempatkan di kantor desa dan kelurahan agar mudah diakses masyarakat.
“Kita harapkan langkah ini bisa membantu mengatasi kekeringan dan memenuhi kebutuhan air warga,” jelasnya.

Perumda Tirta Mulia Kundur Tambah Jam Distribusi Air
Sementara itu, meski debit air di Waduk Tempan, Desa Lubuk, Kecamatan Kundur, mengalami penyusutan, Perumda Tirta Mulia Karimun Unit Kundur justru menambah jam operasional distribusi air bersih.
Dari sebelumnya 10 jam, kini distribusi diperpanjang menjadi 14 jam per hari.
Manajer Perumda Tirta Mulia Karimun Unit Kundur, Armand, mengatakan penambahan jam operasional dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di tengah cuaca panas yang melanda dalam beberapa waktu terakhir.
“Distribusi air bersih memang tidak pernah 24 jam. Biasanya hanya 10 jam, tapi sekarang kami tambah menjadi 14 jam, mulai pukul 06.00 WIB hingga 22.00 WIB,” ujarnya, Senin (30/3).
Menurutnya, kebijakan tersebut diambil menyusul banyaknya keluhan pelanggan yang tidak mendapatkan pasokan air secara maksimal.
“Banyak pelanggan yang mengeluh tidak mendapat air, sehingga kami menambah jam operasional,” jelasnya.
Ia mengakui, kondisi Waduk Tempan saat ini mengalami penyusutan cukup signifikan akibat hampir dua bulan tanpa hujan.
Dari empat waduk yang dimiliki, hanya Waduk Tempan yang digunakan untuk menyuplai air bersih ke 812 sambungan rumah. Waduk dengan luas 2,27 hektare itu kini mengalami penyusutan sekitar 30 persen. “Meski menyusut, untuk saat ini masih mampu menyuplai kebutuhan air bersih pelanggan,” katanya.
Namun, jika cuaca panas terus berlanjut, penyusutan debit air diperkirakan akan semakin parah. Armand menyebut, Waduk Tempan kemungkinan hanya mampu bertahan hingga tiga bulan ke depan.
“Waduk ini sangat bergantung pada air hujan,” tambahnya.
Ia merinci, pada kondisi normal ketinggian air waduk mencapai 4 meter. Namun, saat ini turun menjadi sekitar 3,7 meter.
Selain faktor cuaca, peningkatan jam operasional pompa juga turut mempercepat penyusutan volume air.
“Dengan jam operasional yang lebih panjang, penggunaan air juga meningkat,” tutupnya. (***)
Reporter : Slamet Nofasusanto – Mohamad Ismail – Sandi Pramosinto
Editor : GUSTIA BENNY