Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pasar properti Indonesia menunjukkan dinamika baru seiring perubahan perilaku masyarakat dalam mencari rumah. Digitalisasi yang semakin masif tidak hanya mempercepat akses informasi, tetapi juga mengubah profil konsumen properti nasional.
Data terbaru yang dirilis Rumah123 sepanjang periode 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan tren penting: generasi muda kini menjadi kelompok paling dominan dalam pencarian properti di Indonesia.
Kelompok usia 25–34 tahun tercatat menyumbang 25,7% dari total pencari properti, disusul usia 18–24 tahun sebesar 21,6%. Temuan ini menunjukkan bahwa kepemilikan rumah mulai diprioritaskan sejak usia produktif awal, berbeda dengan pola sebelumnya yang umumnya menunggu stabilitas finansial di usia lebih matang.
Perubahan ini mencerminkan meningkatnya kesadaran investasi aset sekaligus kebutuhan akan hunian yang lebih cepat di tengah urbanisasi dan perubahan gaya hidup.
Dari sisi geografis, permintaan properti masih terkonsentrasi di kawasan metropolitan dan wilayah penyangga ibu kota. Tangerang menjadi wilayah dengan tingkat pencarian tertinggi sebesar 14,5%, diikuti Jakarta Selatan (11,7%) dan Jakarta Barat (10%).
Dominasi wilayah suburban menegaskan tren pergeseran preferensi hunian masyarakat urban. Faktor harga yang lebih kompetitif, ketersediaan lahan, serta perkembangan infrastruktur menjadikan kota penyangga sebagai alternatif utama dibanding pusat kota.
Fenomena ini juga memperlihatkan semakin kuatnya konsep living outside the city center tanpa kehilangan konektivitas ekonomi.
Rumah Tapak Masih Jadi Pilihan Utama
Meski pembangunan apartemen terus berkembang di kota besar, rumah tapak tetap menjadi tipe hunian paling diminati masyarakat Indonesia. Sebanyak 59,8% pencarian properti mengarah pada rumah tapak, jauh melampaui apartemen yang berada di angka 12,3% dan ruko sebesar 8,6%.
Preferensi ini menunjukkan kebutuhan ruang yang lebih luas serta orientasi hunian jangka panjang masih menjadi pertimbangan utama pembeli, khususnya keluarga muda.
Rumah tapak juga dinilai memiliki fleksibilitas lebih tinggi, baik sebagai tempat tinggal maupun aset investasi jangka panjang.
Dari sisi harga, pasar properti nasional masih didominasi segmen menengah ke bawah. Properti dengan harga di bawah Rp400 juta mencatat pencarian tertinggi sebesar 17,3%. Rentang Rp400–650 juta berada di posisi berikutnya dengan 13,3%, sementara segmen Rp1–1,5 miliar mencapai 11,9%.
Data ini memperlihatkan bahwa kebutuhan rumah pertama (first home buyer) masih menjadi motor utama industri properti nasional. Artinya, permintaan pasar lebih banyak didorong oleh kebutuhan riil masyarakat dibandingkan spekulasi investasi.
Meningkatnya penggunaan platform digital turut mempercepat proses pencarian hunian.
Selama hampir dua dekade terakhir, puluhan juta masyarakat Indonesia tercatat telah memanfaatkan platform pencarian properti online sebagai langkah awal sebelum melakukan transaksi.
Perubahan perilaku ini menunjukkan bahwa keputusan membeli rumah kini semakin berbasis data dan riset mandiri oleh konsumen.
CEO Rumah123, Wasudewan, menilai evolusi platform properti digital mencerminkan perubahan kebutuhan masyarakat yang menginginkan proses pencarian hunian lebih transparan dan efisien.
Rangkaian temuan tersebut memberikan sinyal optimistis bagi sektor properti nasional. Dominasi generasi muda, tingginya minat rumah tapak, serta kuatnya permintaan pada segmen harga terjangkau menunjukkan pasar masih memiliki fundamental yang sehat.
Ke depan, industri properti diperkirakan akan semakin dipengaruhi oleh data dan teknologi yang membantu konsumen mengambil keputusan secara lebih matang.
Perubahan ini sekaligus menandai fase baru pasar properti Indonesia-di mana akses informasi yang lebih terbuka mendorong masyarakat menjadi pembeli yang semakin rasional, terencana, dan berbasis kebutuhan nyata. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI