Buka konten ini

NEW DELHI (BP) – India resmi mengumumkan pembaruan ambisi iklimnya pada 25 Maret lalu. Negara dengan populasi terbesar di dunia ini menargetkan 60 persen kapasitas pembangkit listrik berasal dari energi non-fosil pada 2035, naik dari level saat ini yang sudah lebih dari setengah kapasitas listrik nasional.
Meski beberapa pihak menilai target ini konservatif, langkah ini tetap diapresiasi sebagai bukti komitmen India untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, terutama di tengah tantangan geopolitik, gangguan pasokan energi, dan ketidakpastian komitmen global terhadap iklim.
“Yang menarik bukan angka targetnya semata, tapi arah pergeseran menuju energi terbarukan, apalagi ketika negara lain mulai mundur dari janji iklim,” ujar Aarti Khosla, pendiri Climate Trends, konsultan isu lingkungan dan keberlanjutan, kepada The Straits Times.
Sebagai negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ketiga, India menghadapi tekanan untuk menekan emisi sambil memenuhi permintaan energi yang terus meningkat, seiring prediksi ekonomi India menjadi terbesar ketiga dunia sebelum 2030.
Pada 2025, India menambah kapasitas energi terbarukan 48 gigawatt (GW), jauh lebih tinggi dibanding tambahan kapasitas listrik batu bara baru sekitar 9 GW.
Pembaruan target ini termasuk dalam kontribusi nasional yang diperbarui (NDC) India. Target lain yang diumumkan mencakup pengurangan intensitas emisi per unit PDB sebesar 47 persen pada 2035 dibanding 2005, sementara sejak 2005 hingga 2020, India telah menurunkan intensitas emisi sebesar 36 persen.
India juga berencana memperluas penyerap karbon (carbon sink) melalui tambahan tutupan hutan dan pohon hingga mencapai 3,5–4 miliar ton CO2 ekuivalen pada 2035, naik dari 2,29 miliar ton pada 2021. Pohon menyerap CO2 saat tumbuh, menyimpan karbon di batang, cabang, dan akar.
Target NDC terbaru datang di tengah gangguan pasokan bahan bakar fosil dari Timur Tengah. Konflik di Iran mendorong India untuk meningkatkan energi terbarukan domestik agar lebih mandiri dan mengurangi impor bahan bakar yang mahal dan tak menentu.
“Target ini menunjukkan bahwa pembuat kebijakan India memanfaatkan gangguan pasokan energi global untuk memperkuat pentingnya kapasitas energi non-fosil demi keamanan energi jangka panjang,” kata Harjeet Singh, aktivis iklim dan pendiri Satat Sampada Climate Foundation. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO