Buka konten ini

SAO PAULO (BP) – Brasil mencatat sejarah baru di sektor pertahanan. Untuk pertama kalinya, negara Amerika Latin itu berhasil merakit jet tempur supersonik di dalam negeri.
Pesawat tempur Gripen yang diperkenalkan pekan ini menjadi tonggak penting bagi ambisi militer Brasil. Proyek ini bermula dari kontrak dengan perusahaan pertahanan Swedia, Saab, yang diteken sejak 2014.
Saat itu, Brasil memilih Gripen ketimbang pesaing berat seperti F-18 Super Hornet buatan Boeing dan Rafale produksi Dassault Aviation.
Lewat kerja sama tersebut, sebanyak 15 dari total 36 jet tempur akan diproduksi di dalam negeri, tepatnya di fasilitas milik Embraer di Gaviao Peixoto, Negara Bagian Sao Paulo. Kesepakatan ini juga mencakup alih teknologi, yang menjadi kunci penguatan industri pertahanan Brasil.
Langkah ini menempatkan Brasil sejajar dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Prancis, Rusia, India, dan China dalam kemampuan memproduksi jet tempur supersonik.
CEO Saab, Micael Johansson, menyebut proyek ini sebagai momen bersejarah. “Ini pertama kalinya sejak Saab berdiri pada 1937, pesawat tempur diproduksi di luar Swedia,” ujarnya.
Lebih jauh, jalur produksi di Brasil juga diproyeksikan menjadi basis ekspor. Peluang itu menguat setelah negara tetangga, Colombia, menyepakati pembelian jet Gripen.
Produksi ini sekaligus menegaskan ambisi Brasil dalam industri dirgantara militer. Apalagi, pesawat angkut C-390 Millennium buatan Embraer juga mulai diminati pasar Eropa.
Dengan kombinasi alih teknologi dan produksi lokal, Brasil tak lagi sekadar pembeli—melainkan mulai naik kelas sebagai pemain di industri pertahanan global.
(*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO