Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Penutupan Masjidilaqsa selama lebih dari 30 hari menuai kecaman luas. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk serangan terbuka, tidak hanya terhadap warga Palestina, tetapi juga umat Muslim di seluruh dunia.
Ketua Serikat Radio dan Televisi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Amr El-Leithy, mengatakan Masjidilaqsa memiliki nilai keagamaan dan sejarah yang sangat penting bagi umat Islam.
Dalam pernyataannya, ia menilai situasi di Yerusalem membutuhkan respons mendesak dari berbagai pihak. Ia juga mendorong media Arab dan dunia Islam untuk memperkuat peliputan terkait pelanggaran yang terjadi di kota suci tersebut.
“Diperlukan narasi media yang terpadu untuk mendukung perjuangan Palestina, dengan menyoroti penderitaan warga Yerusalem serta mengungkap kebijakan pembatasan dan penutupan yang mengarah pada penggusuran,” ujarnya.
El-Leithy juga menekankan pentingnya pemanfaatan platform digital dan media sosial untuk menyampaikan situasi secara global, sekaligus melawan narasi yang berkembang dari pihak Israel.
Menurut dia, konflik yang terjadi saat ini tidak hanya berlangsung di lapangan, tetapi juga dalam ranah opini publik internasional. “Pertempuran juga terjadi pada kesadaran global,” tegasnya.
Ibadah Umat Katolik Juga Terganggu
Tak hanya berdampak pada umat Muslim, pembatasan yang dilakukan otoritas Israel juga dilaporkan mengganggu aktivitas ibadah umat Katolik di Yerusalem.
Polisi Israel dilaporkan melarang Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, untuk mengikuti Misa Minggu Palma di Gereja Makam Kudus.
Dalam pernyataannya, pihak Patriarkat Latin Yerusalem menyebutkan Kardinal Pizzaballa bersama Kustos Tanah Suci, Romo Francesco Ielpo, dihentikan saat menuju lokasi ibadah dan dipaksa kembali.
Insiden tersebut menjadi yang pertama kalinya seorang pemimpin gereja dicegah menghadiri perayaan Minggu Palma di Gereja Makam Kudus, salah satu situs paling suci bagi umat Katolik.
Langkah itu dinilai sebagai preseden buruk yang mengabaikan perasaan miliaran umat Katolik di dunia, terlebih di tengah Pekan Suci yang menjadi momen penting dalam kalender liturgi. Pihak gereja juga menegaskan, selama ini para pemimpin agama telah mematuhi berbagai pembatasan yang diberlakukan sejak konflik memanas, termasuk dengan membatasi kegiatan publik dan mengalihkan ibadah secara daring.
Namun, pembatasan terhadap tokoh senior gereja dinilai sebagai tindakan yang tidak proporsional dan bertentangan dengan prinsip kebebasan beribadah. “Kami menyampaikan keprihatinan mendalam atas terganggunya pelaksanaan ibadah pada salah satu hari paling suci bagi umat Katolik,” demikian pernyataan tersebut. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK