Buka konten ini

Dosen Pascasarjana FEB UNMUL & Dewan Pembina ISEI Samarinda
GIMANA, wal? Aman saja kah kolesterol, asam urat, dan tensi darah pian? Atau malah naik gara-gara terlalu semangat menyantap soto Banjar atau martabak dengan kari kambing saat Lebaran? Kayaknya pian pada balas dendam banar, heh…
Momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba ketika sidang isbat Kementerian Agama RI menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Suasana seketika berubah. Hanya dalam hitungan jam, langit seolah bergetar. Dari masjid besar di pusat kota hingga surau kecil di pelosok desa, gema takbir, tahmid, dan tahlil bersahut-sahutan: Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.
Idulfitri pun resmi tiba, membawa rasa lega yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Malam sebelumnya menjadi puncak suasana yang syahdu. Di teras-teras masjid, panitia zakat sibuk menyalurkan amanah. Infak dan sedekah mengalir kepada kaum miskin dan dhuafa, memastikan bahwa di hari kemenangan ini tidak ada satu pun yang kelaparan. Inilah esensi ibadah kita: sukses secara spiritual di hadapan Tuhan, sekaligus tetap membumi secara sosial.
Kita sering mengatakan bahwa Lebaran adalah momen kembali ke fitrah, seperti bayi yang baru lahir—bersih tanpa noda. Itulah idealnya hasil dari perjalanan panjang Ramadan.
Namun, ujian sesungguhnya justru dimulai setelah Lebaran usai. Apakah kita mampu tetap menjadi pribadi yang lurus, atau kembali simpang siur menabrak aturan dalam kehidupan sehari-hari? Di situlah letak ukuran keberhasilan yang sebenarnya.
Di Nusantara, ada satu tradisi yang membuat Lebaran terasa sangat istimewa, yaitu halalbihalal. Tradisi ini mungkin tidak ditemukan di banyak negara Muslim lain, tetapi di Indonesia, Malaysia, hingga Brunei, ia menjadi perekat sosial yang luar biasa. Antar keluarga saling berkunjung, tetangga berjabat tangan, bahkan hubungan antara pimpinan dan masyarakat menjadi cair. Sejenak, konflik seolah menghilang.
Kalau sudah bicara Lebaran, pasti identik dengan “all out”. Tidak peduli gaji atau THR terkuras habis, yang penting meja makan penuh dan baju baru siap dipakai.
Di atas meja, berbagai hidangan khas tersaji: opor ayam yang gurih, soto Banjar dengan aroma rempahnya, ketupat yang padat dan legit, hingga martabak Maryam dan kari daging yang menggoda selera. Sebagian rezeki juga berubah wujud menjadi pakaian baru yang mengilap. Mau di kota atau di desa, euforia Lebaran terasa sama: semua orang harus bahagia.
Keajaiban Lebaran juga terasa di dunia digital. Grup WhatsApp yang biasanya jadi “arena gladiator” untuk berdebat isu panas—mulai dari geopolitik hingga hal-hal remeh—mendadak adem. Konflik mereda, perdebatan berhenti.
Pesan-pesan yang biasanya keras berubah menjadi deretan ucapan hangat: “Mohon maaf lahir dan batin”, lengkap dengan stiker ketupat. Kerukunan pun menjadi pemenang tunggal di hari raya ini.
Namun, seperti pesta pada umumnya, selalu ada “oleh-oleh” yang tersisa. Setelah Lebaran usai dan semua piring sudah dicuci, realitas mulai terasa.
Yang muncul kemudian adalah asam urat naik, kolesterol melonjak, trigliserida ikut “berpesta”, hingga tekanan darah meningkat. Obat-obatan seperti atorvastatin, allopurinol, hingga methylprednisolone mendadak laris di apotek.
Tapi jangan khawatir. Di Samarinda, rumah sakit seperti RS AWS, RS Hermina, RS Dirgahayu, hingga puskesmas siap membantu pian, apalagi kalau pakai BPJS. Kalau masih ada yang diminta bayar di puskesmas, pian tinggal lapor saja… bisa-bisa ada yang “hamuk” nanti.
Menariknya, meski tahu risikonya, kita tidak pernah benar-benar kapok. Karena bagi kita, kesehatan fisik mungkin bisa diperbaiki dengan diet setelah ini. Namun kesehatan hati, kehangatan silaturahmi, dan kebahagiaan kebersamaan adalah hal yang tidak ternilai.
Selamat Hari Raya. Selamat kembali beraktivitas. Mari jaga fitrah ini agar tidak luntur ditelan waktu. (*)