Buka konten ini

FERRARI datang dengan beban sejarah sekaligus peluang. Sejak kemenangan terakhir Michael Schumacher pada 2004, tim asal Maranello itu belum pernah lagi berjaya di Suzuka. Kini, lewat mobil terbaru mereka, Ferrari berharap bisa memanfaatkan karakteristik sirkuit yang secara teknis—terutama sektor S-Curves—dinilai lebih cocok dengan kekuatan mobil mereka.
Pembalap andalan Ferrari, Charles Leclerc, menilai duel dengan Mercedes akan sangat ditentukan sejak sesi latihan. “Keunggulan Mercedes di lintasan lurus bisa diimbangi Ferrari di sektor teknis, sehingga peluang tetap terbuka,’’ kata Leclerc saat konferensi pers kemarin (26/3) dikutip dari GPBlog. Menurutnya, mobil SF-266 diperkirakan bakal unggul di sektor pertama yang terdiri dari rangkaian tikungan S-Curves.
FIA Ubah Regulasi
Di sisi lain, FIA atau Federasi Automobil Internasional membuat perubahan penting dengan mengurangi batas energi kualifikasi dari 9 MJ (megajoule) menjadi 8 MJ per lap. Tujuannya untuk mengurangi fenomena “super clipping” dan membuat pembalap lebih fokus pada performa murni. Namun, Leclerc menilai perubahan ini tidak mengubah peta persaingan secara signifikan. “Saya tidak berpikir perubahan khusus ini akan menjadi game changer,” kata Leclerc. “Gerakan lift and coast mungkin berkurang, itu hal baik, tapi (hasil balapan) masih akan mirip,” tuturnya.
Ujian Berat Verstappen
Sementara itu, Max Verstappen tiba di Suzuka dengan beban cukup berat. Pembalap Red Bull itu merupakan ‘penguasa’ Suzuka setelah memenangi empat edisi terakhir pada 2022 hingga 2025. Namun, mempertahankan dominasi itu terasa jauh lebih sulit tahun ini.
Setelah gagal finis di Shanghai akibat masalah pendinginan energi mesin Red Bull-Ford, Verstappen mengakui jika tantangan musim ini terasa lebih berat. “Segalanya lebih sulit dari yang diinginkan. Masih banyak pekerjaan rumah. Tapi saya percaya pada tim untuk mengoptimalkan performa mobil,” tutur Verstappen dikutip dari Speedweek. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO