Buka konten ini

KEMARAU panjang yang menggulung wilayah Bintan tak hanya mengeringkan sumur-sumur warga, tetapi juga memaksa ribuan keluarga bertahan di tengah keterbatasan air bersih. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan pun bergerak cepat.
Sedikitnya 24.479 kepala keluarga (KK) di delapan kecamatan kini terdampak kekeringan. Untuk meredam krisis, ratusan ton air bersih mulai digelontorkan langsung ke permukiman warga, Kamis (26/3).
Bupati Bintan, Roby Kurniawan, mengatakan penyaluran tahap awal mencapai lebih dari 150 ton air bersih yang didistribusikan oleh 15 organisasi perangkat daerah (OPD).
“Hari ini dan besok kita terus salurkan air bersih. Setiap OPD minimal menyalurkan 10 ton. Dalam dua hari hampir 300 ton air bersih kita distribusikan,” ujarnya.
Distribusi ini belum berhenti. Pada Jumat (27/3), sebanyak 14 OPD lainnya kembali diturunkan untuk menjangkau wilayah-wilayah yang paling terdampak.
Pemkab, kata Roby, akan terus mengevaluasi kondisi di lapangan. Jika kebutuhan masih tinggi, penyaluran tambahan akan kembali dilakukan secara bertahap dengan skala prioritas.
“Wilayah yang paling terdampak akan kita dahulukan,” tegasnya.
Ia juga meminta jajaran lurah, kepala desa, hingga RT/RW untuk aktif mengoordinasikan distribusi agar bantuan tepat sasaran.
“Pastikan warga yang benar-benar membutuhkan bisa mendapatkan air bersih,” tambahnya.
Langkah distribusi ini disebut sebagai solusi cepat di tengah krisis, sembari pemerintah menyiapkan langkah jangka panjang untuk mengatasi persoalan kekeringan yang berulang.
Di tengah ikhtiar fisik tersebut, Pemkab Bintan juga menempuh jalan spiritual. Pada pagi harinya, ratusan masyarakat dan pegawai berkumpul di halaman Kantor Bupati Bintan di Bintan Buyu untuk melaksanakan salat istisqa.
Salat memohon hujan itu dipimpin KH Rustam Efendi sebagai imam sekaligus khatib.
Dalam tausiahnya, Rustam mengingatkan bahwa kekeringan bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga bisa menjadi peringatan bagi manusia.
“Boleh jadi kita menikmati banyak fasilitas, tetapi lupa menunaikan kewajiban. Dari situlah Allah SWT mengingatkan kita,” ujarnya.
Ia menggambarkan bagaimana manusia sering terlena menikmati kenyamanan, namun abai terhadap sesama yang membutuhkan.
“Bisa jadi kita tidur dengan nyaman, tapi lupa pada penderitaan orang lain,” tambahnya.
Menurutnya, kemarau panjang yang hampir tiga bulan melanda menjadi momentum untuk introspeksi dan kembali mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Yang memiliki kekuasaan menurunkan hujan hanya Allah SWT. Hari ini kita memohon dengan hati yang sadar,” katanya.
Bupati Roby Kurniawan menyebut salat istisqa sebagai bentuk ikhtiar batin di tengah upaya nyata yang telah dilakukan pemerintah.
“Selain distribusi air bersih, kita juga memohon keberkahan dan ampunan. Mudah-mudahan hujan segera turun di Bintan,” ujarnya.
Wakil Bupati Bintan, Deby Maryanti, turut mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana lain selama musim kemarau, seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Jika terjadi kebakaran di sekitar lingkungan, segera laporkan agar bisa cepat ditangani,” imbaunya. (***)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GUSTIA BENNY