Buka konten ini

HO CHI MINH CITY (BP) — Wabah penyakit tangan, kaki, dan mulut (HFMD) di Ho Chi Minh City, Vietnam, meningkat tajam sejak awal tahun. Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) kota ini melaporkan tiga kematian terkait HFMD hingga 24 Maret 2026, padahal periode sama tahun lalu nihil korban jiwa.
Dalam pekan ke-11 (9–15 Maret), kota mencatat 837 kasus HFMD, naik 97,1 persen dibanding rata-rata empat pekan sebelumnya (424 kasus) dan 241,3 persen lebih tinggi dibanding periode sama tahun 2025. Secara total, hampir 7.300 kasus telah tercatat sejak awal tahun.
Sebanyak 117 dari 168 kelurahan melaporkan peningkatan kasus, dengan 37 wilayah mengalami lonjakan signifikan. Kota ini juga mencatat 30 klaster sekolah dan 49 klaster komunitas. Beberapa area dengan peningkatan mencolok antara lain Kelurahan Ho Tram, yang melaporkan empat klaster HFMD.
Rumah sakit kota juga menerima 138 pasien HFMD dari luar kota pada pekan ke-11, sekitar 20,6 persen dari total pasien. Dari seluruh kasus berat, delapan tercatat sejak awal tahun, enam di antaranya berasal dari provinsi lain, atau 75 persen dari total kasus berat.
Kepala CDC Ho Chi Minh City mengatakan kota berfungsi sebagai pusat perawatan utama pasien penyakit menular di seluruh negeri, terutama kasus berat. “Ini memberi tekanan besar pada sistem kesehatan, terutama rumah sakit tingkat tinggi,” ujarnya.
Ke depan, sektor kesehatan akan meningkatkan pengawasan, deteksi dini, penanganan cepat saat wabah, serta intensifikasi komunikasi publik tentang pencegahan, khususnya di tempat penitipan anak dan kelompok pengasuhan di rumah.
CDC juga sedang melakukan pemantauan patogen, termasuk uji laboratorium terhadap semua pasien dengan klasifikasi klinis 2B ke atas. Dari 25 sampel yang diuji sejak awal tahun, enam positif Enterovirus 71 (EV71), virus yang diketahui dapat menimbulkan komplikasi berat pada pasien HFMD.
Selain itu, pihak berwenang lokal diminta memperkuat pengawasan pencegahan dan pengendalian HFMD, serta melacak penyebab penularan di tiap wilayah. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO