Buka konten ini

Bau amis yang melekat pada sisik ikan, tak lagi terasa menjijikan bagi Suriati, 46 tahun, seorang warga Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara, Kabupaten Bintan. Limbah laut itu justru berubah menjadi bros-bros cantik, bernilai rupiah.
DARI sekadar hobi merangkai pita, Suriati tak menyangka sisik ikan yang selama ini dianggap limbah laut tersebut, telah menjadi pembuka jalan usahanya pada tahun 2016 silam. Awalnya, ia hanya berpikir untuk mencoba hal baru, dengan membuat bros selain berbahan pita.
Perlahan, kerajinan tangan tersebut dinilai menarik di mata wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke pantai-pantai yang ada di Tanjunguban. Dari situ, Suriati membangun tim yang berisikan lima orang, dengan niat menjaga produksi bros sisik ikan.
Di ruang kerjanya yang sederhana, Suriati bersama timnya merangkai sisik demi sisik, menjadi bros berbentuk kelopak bunga, dengan diameter 5 hingga 10 sentimeter (cm).
Bahan baku yang digunakan pun tidak sembarangan, sisik ikan belanak untuk bros ukuran kecil dan sisik ikan karang untuk bros berukuran lebih besar. Semua sisik ikan itu diperoleh di pasar terdekat.
”Sisik ikan itu kita beli di pasar, jadi tidak gratis. Itupun harus pesan dahulu, agar disimpan oleh pedagang ikan. Harganya sekarang Rp50 ribu per kilogram,” kata Suriati, Ketua UMKM Manggar Abadi.
Sisik ikan yang berhasil dibeli langsung dibersihkan, agar tak lagi dinilai sebagai limbah laut. Semua sisik ikan dikeringkan, setelah itu diberikan pewarna untuk mempercantik bros yang telah dirangkai. ”Karena kita sudah biasa, tidak sulit merangkai bros. Dalam 10 menit bisa jadi tiga buah bros sisik ikan,” tambahnya.
Sisik-sisik ikan yang dahulu terbuang, kini menjadi kerajinan tangan yang bernilai, menghadirkan penghasilan tambahan bagi keluarga Suriati hingga menggerakkan ekonomi di lingkungan sekitar.
Melihat peluang yang besar, Suriati memutuskan untuk menjadi pelaku UMKM setelah beberapa tahun mengolah sisik ikan, menjadi barang yang menawan. Ia mulai mengikuti kurasi UMKM Bank Indonesia (BI) guna meningkatkan standar kualitas produk yang dihasilkan.
Bagi ibu dua anak tersebut, usaha yang ia bangun tidak hanya soal menjaga produksi tetap bejalan, melainkan untuk memastikan manfaatnya dirasakan oleh lingkungan sekitar. Kehadiran UMKM Manggar Abadi perlahan membuka ruang kerja baru, terutama bagi perempuan di pesisir Bintan yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap. Sehingga, setidaknya ada lima orang perempuan yang bergabung dengan Manggar Abadi. Semuanya merupakan warga tempatan.
”Semuanya warga Bintan, mereka sangat berminat dengan kerajinan tangan seperti ini. Sekarang sudah pandai-pandai. ungkap Suriati.
Aktivitas yang terlihat sederhana itu, ternyata dapat menjadi rantai ekonomi kecil yang saling terhubung. Dimana, Suriati bersama para pekerjanya berhasil meraup cuan jutaan rupiah dalam sebulan dari hasil penjualan bros sisik ikan.
Dalam skala rumah tangga, penghasilan itu ikut menopang kebutuhan sehari-hari Suriati dan lima anggotanya, terutama ditengah naiknya harga bahan pokok di Kabupeten Bintan.
Menembus Batas Laut
Dalam sebulan, pesanan bros sisik ikan yang dipesan oleh para pelanggannya berkisar 1.000 lebih buah bros. Pelanggan tersebut rata-rata berasal dari travel, hotel, hingga warga asal Malaysia, Singapura dan China.
Jadi tidak heran lagi, usaha yang dibangun oleh Suriati tersebut sangat menjanjikan. Untuk bros sisik ikan ukuran kecil dijual senilai Rp30 ribu per buah, sementara yang lebih besar dijual Rp50 ribu-Rp100 ribu per buah.
Tidak hanya bros sisik, Suriati bersama Manggar Abadi kini mempunyai produk baru, berupa gelang dan gantungan kunci gong-gong, dengan harga yang tidak jauh berbeda.
Sehingga, per bulannya berhasil meraup untung di atas Rp5 juta per orang. Terlebih, saat ini ia kerap menerima pesanan dari para turis yang berkunjung ke Tanjunguban.
”Jadi sekarang kita harus punya stok ratusan pis, karena warga Bintan dan Wisman sudah tahu bros ini telah dijadikan oleh-oleh khas Bintan,” tambahnya.
Perempuan berusia 46 tahun tersebut mengaku, telah menerima bantuan dari BI berupa mesin marking yang digunakan untuk memberi label pada barang-barang yang Manggar Abadi produksi.
Ditengah usaha yang terus berkembang, Suriati ternyata menyimpan harapan besar terutama bagi generasi muda pesisir Bintan. Ia menginginkan agar anak muda, khususnya perempuan untuk berani memulai usaha.
Menurutnya, kreativitas dan kemauan untuk belajar sangat menjadi kunci utama dalam membangun usaha. Jika ditekuni, tidak menutup kemungkinan produk kerajinan tangan yang diolah dapat menembus pasar luar negeri.
”Intinya jangan malu, yang penting harus berusaha. Apalagi perempuan juga harus bisa mandiri, bahkan bisa membantu ekonomi keluarga,” tutur Suriati memberikan motivasi.
Sisik Ikan yang Dulu Tak Diperhitungkan, Kini Diakui
Diragukan, ternyata pernah menjadi bagian perjuangan Suriati saat pertama kali menawarkan produk bros sisik ikan. Tak sedikit pembeli yang memandang sebelah mata dengan produk Manggar Abadi tersebut.
Kebanyakan dari mereka menilai bahwa limbah sisik ikan tidak pantas dijual dengan harga yang dipatok oleh Suriati. Padahal, produk tersebut dibuat dengan susah payah, hingga merogoh kocek sendiri untuk membeli sisik ikan dari pedagang.
”Padahal sisik ikan itu kita beli, bahkan harus dipesan dulu agar tidak dibuang oleh pedagang ikan,” sebut Suriati sambil tersenyum.
Waktu perlahan menjawab, ketika karya Suriati yang dulu diragukan kini mendapatkan tempat yang layak. Bersama Manggar Abadi, Suriati berhasil memperoleh banyak penghargaan dari berbagai pihak.
Seperti penghargaan Indonesia Care yang diserahkan Menteri Pariwisata, Gurindam Award 2024, penghargaan Tenant Terbaik Gebyar Pesisir 2023, penghargaan dari Gubernur Kepri sebagai Perempuan Inisiator Pembangun Kepri, hingga menjadi responden perencanaan mitigasi dan ketahanan usaha.
Menurut Suriati, UMKM yang ia jalankan hingga saat ini juga untuk mendukung program ekonomi syariah dan pengembangan UMKM yang harus terus didorong. Prinsip usaha yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada keuntungan, melakukan mengedepankan nilai kebermanfaatan hingga pemberdayaan masyarakat sekitar.
”Jadi pengembangan UMKM itu benar-benar terasa, terutama bagi ibu-ibu di pesisir,” ujar Suriati.
Perkuat UMKM Lokal, Pacu Ekonomi Syariah yang Inklusif
Pemerintah Provinsi Kepri kini terus mendorong penguatan UMKM lokal melalui pengembangan ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan, melalui kegiatan Kepri Ramadan Fair (KURMA) 2026.
Selama sepekan, berbagai kegiatan digelar mulai dari bazar produk halal, temu bisnis pelaku UMKM syariah, hingga layanan sertifikasi halal.
Menurut Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura menyampaikan Pemerintah daerah ingin menjadikannya sebagai instrumen untuk mendorong UMKM lokal masuk ke dalam rantai ekonomi syariah yang lebih luas.
“Ekonomi Kepri saat ini tumbuh 7,8 persen, tertinggi ketiga secara nasional. Pertumbuhan ini harus kita jaga agar tetap inklusif dan berkelanjutan,” kata Nyanyang.
Ia menilai penguatan ekonomi syariah dapat menjadi salah satu cara memperluas pemerataan pertumbuhan ekonomi di daerah. Karena itu, pemerintah daerah mendorong kolaborasi antara pelaku usaha, lembaga keuangan, serta pemangku kepentingan lain melalui Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto mengatakan, meskipun perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian, Kepri tetap mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dengan tingkat inflasi yang terjaga.
Menurut dia, aktivitas industri dan investasi di Batam menjadi salah satu motor penggerak utama ekonomi daerah. Namun, ia berharap manfaat pertumbuhan tersebut dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat.
”Prinsip ekonomi syariah menekankan pemerataan dan keberlanjutan. Karena itu, penguatan sektor UMKM menjadi sangat penting,” pungkas Rony. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : RATNA IRTATIK