Buka konten ini

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Bintan resmi menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.
Status tersebut berlaku selama 14 hari ke depan, sebagai respons atas meningkatnya jumlah titik api dan kondisi kekeringan yang kian meluas.
Bupati Bintan, Roby Kurniawan, mengatakan keputusan ini diambil setelah melihat tren kebakaran yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

“Penetapan status tanggap darurat ini karena meningkatnya kejadian karhutla dan kondisi kekeringan di Bintan,” ujarnya.
Data Pemkab Bintan mencatat, sejak Januari hingga Maret 2026 terdapat sekitar 317 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai 251 hektare.
Empat kecamatan menjadi penyumbang terbesar, yakni Bintan Timur dengan 81 titik api, Toapaya 68 titik api, Gunung Kijang 64 titik api, dan Bintan Utara sebanyak 60 titik api.
Selain menetapkan status tanggap darurat, Roby menegaskan pentingnya langkah pencegahan. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk turut berperan aktif dalam mengantisipasi kebakaran.
“Kalau melihat atau mengetahui adanya pembakaran lahan, jangan ragu untuk melapor. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Di sisi lain, kekeringan juga melanda hampir seluruh kecamatan di Bintan. Kondisi ini berdampak langsung pada ketersediaan air baku.
Saat ini, keran-keran di rumah warga Tanjunguban mulai lama tak mengalir. Sejak sebelum Lebaran, suplai air dari PDAM Tirta Kepri tersendat, bahkan di beberapa wilayah nyaris berhenti total. Warga pun mendesak solusi nyata.
Muhammad Rajali Lubis, warga Jalan Hang Tuah, Tanjunguban, mengatakan kondisi ini sangat memberatkan masyarakat. Ia meminta PDAM tidak hanya menunggu, tetapi aktif mencarikan jalan keluar, termasuk menyalurkan air menggunakan mobil tangki.
“Kami beli pun tidak apa-apa. Tapi harganya harus lebih murah dari penjual air lainnya,” ujarnya.
Selama krisis ini, Rajali terpaksa membeli air dari penjual dengan harga Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per ton. Itu pun hanya cukup untuk kebutuhan dua hingga tiga hari. “Terakhir mau beli harus antre,” keluhnya.
Tak hanya soal ketersediaan air, ia juga menyoroti tagihan PDAM yang tetap tinggi. Dalam sebulan, ia mengaku harus membayar hingga Rp750 ribu, meski aliran air tidak lancar dan kualitasnya menurun.
Ia berharap PDAM Tirta Kepri dapat menghapus biaya abonemen atau beban tetap pelanggan selama distribusi air tidak normal.
Sementara itu, Kepala PDAM Tirta Kepri Cabang Tanjunguban, Sugito, mengakui kondisi Waduk Sei Jago saat ini kritis. Permukaan air bahkan berada di bawah normal, yakni minus sekitar setengah meter akibat kemarau panjang.
Sebagai langkah darurat, pihaknya membuat saluran air agar genangan dari wilayah lebih tinggi dapat mengalir turun ke waduk.
“Air disedot ke sumur intake, kemudian didiamkan dulu. Setelah terkumpul, disedot lagi ke sumur intake, lalu disalurkan ke reservoir,” jelasnya.
Ia mengklaim distribusi air masih dilakukan, meski terbatas. Saat ini air hanya mengalir dua hari sekali, dengan durasi sekitar empat jam.
Terkait permintaan distribusi air menggunakan mobil tangki, Sugito menyebut hal itu belum bisa dilakukan karena keterbatasan sumber air.
“Kami mau suplai ke tangki, air dari mana? Makanya kami kumpulkan dulu di waduk, lalu dialirkan ke pelanggan,” ujarnya.
Warga Telaga Surya Gelar Salat Istisqa
Sementara itu, warga Perumahan Telaga Surya Regency, Kelurahan Tanjunguban Utara, Kecamatan Bintan Utara, mengambil ikhtiar Rabu (25/3) pagi, mereka menggelar salat istisqa di pelataran Masjid Al Amin.
Sejak pukul 08.00 WIB, jemaah mulai berkumpul. Terdiri dari pria, wanita, hingga anak-anak, mereka datang dengan harapan yang sama—memohon turunnya hujan di tengah kekeringan yang kian terasa.
Salat istisqa dipimpin KH Ahmad Nukhan sebagai imam dan khatib, didampingi Mu’arifin sebagai bilal. Sebelum pelaksanaan, jemaah bersama-sama memanjatkan istighfar.
Dalam tausiahnya, KH Ahmad Nukhan mengajak masyarakat untuk tetap berbaik sangka kepada Allah SWT di tengah ujian kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kita harus terus berikhtiar dan mendekatkan diri. Mungkin ini cara Allah SWT agar kita lebih dekat kepada-Nya,” ujarnya.
Ia menegaskan, salat istisqa merupakan salah satu amalan yang dianjurkan ketika terjadi kekeringan berkepanjangan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menggugah kesadaran masyarakat untuk memperbanyak doa dan introspeksi diri.
Dengan dukungan pengurus masjid dan warga, pelaksanaan salat istisqa berlangsung khusyuk. Nukhan berharap kegiatan serupa dapat diikuti masjid lain di wilayah tersebut.
“Semoga Allah SWT segera menurunkan hujan dan mengakhiri kekeringan ini,” harapnya.
Di tengah krisis air, warga mengaku mulai kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Herman, salah satu jemaah, mengatakan selama ini ia mengandalkan pasokan air dari PDAM Tirta Kepri. Namun sejak Waduk Sei Jago mengering, aliran air terhenti.
“Saya tidak punya sumur, jadi terpaksa beli air dari mobil tangki,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Mu’arifin, warga sekaligus Ketua GP Ansor Bintan. Ia mengaku harus membeli air dua kali dalam sepekan.
“Satu ton paling dipakai dua sampai tiga hari, habis itu beli lagi,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk membantu warga, terutama dalam distribusi air bersih.
“Kami berharap ada bantuan pendistribusian air agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi,” ujarnya. (***)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GUSTIA BENNY