Buka konten ini
WINA (BP) — Harapan meredanya konflik di Timur Tengah mulai muncul. Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengungkapkan Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan menggelar dialog pada akhir pekan ini di Islamabad, Islamabad.
Dalam wawancara dengan harian Corriere della Sera, Grossi menyebut pembicaraan kali ini tidak hanya berfokus pada isu nuklir, tetapi juga mencakup topik yang lebih luas.
“Pembahasan juga akan mencakup rudal, milisi yang terkait dengan Republik Islam, serta jaminan keamanan bagi Iran,” ujarnya.
Ia menilai peluang kesepakatan tetap terbuka, meski tidak harus berupa solusi militer. Salah satu opsi yang dibahas adalah kesepakatan sementara melalui dua pendekatan.
Pertama, penghentian sementara pengayaan uranium karena situasi politik dan militer yang belum kondusif. Kedua, isu tersebut akan dikaji ulang dalam rentang lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Di tengah upaya diplomasi itu, eskalasi konflik di lapangan masih berlangsung. Sejak 28 Februari, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah target, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Serangan tersebut memicu korban jiwa, kerusakan infrastruktur, hingga gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.
Selat Hormuz Lumpuh, Inggris Dorong KTT Global
Dampak konflik juga terasa di jalur energi dunia. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan berhenti total.
Menanggapi kondisi tersebut, Inggris mengusulkan penyelenggaraan konferensi tingkat tinggi (KTT) guna membahas keamanan pelayaran di kawasan tersebut.
Mengutip laporan Politico, London ingin mendorong pembentukan koalisi internasional untuk menjamin jalur pelayaran tetap aman bagi kapal dagang.
Sejauh ini, lebih dari 30 negara, termasuk Prancis dan Jerman, telah menandatangani komitmen bersama untuk menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
KTT tersebut direncanakan dapat digelar di London atau Portsmouth.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi minyak dan LPG dari kawasan Teluk ke pasar global. Tersendatnya arus pelayaran di kawasan ini telah memicu lonjakan harga energi di berbagai negara. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK