Buka konten ini

Pagi di Pulau Temawan, Kecamatan Siantan Selatan, biasanya tenang. Air laut berwarna biru kehijauan menghampar, memantulkan cahaya matahari yang hangat. Namun, suasana itu berubah setiap 2 Syawal.
DERU mesin pompong memecah keheningan. Sorak-sorai penonton bersahutan. Laut yang biasanya damai mendadak menjadi arena adu cepat.
Itulah balap pompong, tradisi turun-temurun yang selalu dinanti masyarakat Kepulauan Anambas setiap Lebaran.
Saat sebagian orang masih berkumpul di rumah menikmati suasana hari raya, warga justru berbondong-bondong menuju Pulau Temawan. Dari berbagai desa, mereka datang menggunakan perahu. Membawa bekal, tikar, bahkan tenda kecil.
Di tepi pantai, anak-anak berlarian. Orang tua duduk bersila, menatap laut dengan penuh antusias, menunggu perlombaan dimulai.
Pulau Temawan sendiri bukan tempat biasa. Hamparan pasir putih, air laut yang jernih, serta pepohonan yang masih alami menjadikannya seperti lukisan hidup. Di tengah lanskap itulah, balap pompong digelar memadukan keindahan alam dan semangat kompetisi.
Pompong yang digunakan bukan kapal besar. Ukurannya dibatasi maksimal 2 Gross Ton (GT), dengan mesin sederhana. Aturan ini menjaga keselamatan sekaligus mempertahankan ciri khas pompong tradisional yang kecil, lincah, dan tangguh.
Sebelum lomba dimulai, para peserta berkumpul di bibir pantai. Mereka memeriksa mesin, mengencangkan baut, memastikan baling-baling siap berputar sempurna. Di antara canda, terselip ketegangan.
Ketika aba-aba diberikan, satu per satu pompong merapat ke garis start. Mesin meraung. Air terbelah. Percikan berkilau di bawah matahari.
Peluit ditiup. Dalam sekejap, pompong-pompong itu melesat. Memburu garis akhir. Saling salip. Saling kejar.
Pantai pun riuh. Penonton berdiri, berteriak menyebut nama jagoan mereka. Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi lautan energi.
Namun, balap pompong bukan sekadar soal kecepatan. Dibutuhkan keahlian membaca arus, mengendalikan kemudi, serta keberanian menghadapi gelombang. Salah manuver sedikit saja, pompong bisa oleng, kehilangan ritme.
Sebagian besar peserta adalah nelayan. Laut adalah bagian dari hidup mereka. Pengalaman itulah yang menjadi modal utama. Setiap peserta punya gaya sendiri. Ada yang agresif, ada yang sabar menunggu momentum.
Di luar lintasan, kehidupan tetap berjalan. Pedagang kecil menjajakan makanan. Aroma ikan bakar, gorengan, dan kopi panas menyatu dengan angin laut. Tradisi ini bukan hanya tontonan, tetapi juga penggerak ekonomi warga.
Bagi anak-anak, balap pompong adalah mimpi. Mereka berdiri di tepi pantai, mata tak berkedip mengikuti laju perahu. Dalam diam, tumbuh keinginan—suatu hari nanti ikut berpacu di laut yang sama.
Tokoh masyarakat Anambas, Azwir, menyebut balap pompong lebih dari sekadar perlombaan.
“Ini bukan hanya soal siapa paling cepat. Ini tradisi yang menyatukan masyarakat. Setiap tahun kita berkumpul, saling menyapa, saling mendukung. Ini kekayaan budaya yang harus dijaga,” ujarnya.
Ia juga menilai, tradisi ini berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya. Keindahan Pulau Temawan dan kemeriahan lomba bisa menjadi magnet bagi wisatawan, jika dikelola dengan baik.
Menjelang sore, perlombaan usai. Pemenang diumumkan. Sorak berganti tepuk tangan.
Pompong-pompong yang tadi melesat kini bersandar tenang di tepi pantai. Penonton berkemas. Membawa pulang cerita, tawa, dan kenangan.
Balap pompong di Pulau Temawan akhirnya bukan hanya tentang siapa tercepat. Ia adalah tentang kebersamaan, kebanggaan, dan kecintaan masyarakat Anambas terhadap laut.
Di tengah arus modernisasi, deru mesin pompong setiap 2 Syawal menjadi penanda—bahwa tradisi lama masih hidup, dan tetap punya tempat di hati. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY