Buka konten ini

Di sudut-sudut kampung di Kepulauan Riau, malam menjelang akhir Ramadan selalu terasa berbeda. Lebih hangat, lebih syahdu. Lorong-lorong kecil, halaman rumah, hingga tepian jalan dipenuhi cahaya lampu tradisional yang berkelip lembut, seolah menyapa siapa saja yang melintas.
ITULAH suasana khas tradisi 7 Likur. Sebuah warisan turun-temurun masyarakat Melayu yang menandai datangnya malam-malam terakhir Ramadan—malam yang diyakini sarat keberkahan, termasuk harapan bertemu Lailatul Qadar.
Bagi masyarakat Melayu, 7 Likur bukan sekadar menyalakan lampu cangkok. Cahaya yang memancar dari pelita sederhana itu mengandung makna mendalam: doa, harapan, sekaligus rasa syukur atas nikmat Ramadan yang hampir usai.
Peneliti sejarah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dedi Arman, menyebut tradisi ini sebagai bagian penting dari khazanah budaya Melayu di Kepulauan Riau—meliputi Tanjungpinang, Bintan, Lingga, hingga Karimun.
Ia menjelaskan, tradisi 7 Likur bahkan telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia melalui Surat Keputusan Nomor 362/M/2019.
“Yang diakui sebagai WBTb adalah tradisi 7 Likur. Lampu cangkok menjadi bagian yang memperindah dan menghidupkan perayaan itu,” ujarnya.
Cahaya lampu cangkok yang dinyalakan menjelang akhir Ramadan, kata Dedi, bukan sekadar dekorasi kampung. Lebih dari itu, ia menjadi simbol spiritual yang merefleksikan harapan masyarakat akan datangnya malam penuh kemuliaan.
“Tradisi ini bukan hanya tentang lampu, tetapi tentang memaknai malam istimewa di penghujung Ramadan,” tambahnya.
Dalam catatan budaya Melayu, kebiasaan menerangi kampung saat Ramadan telah berlangsung sejak lama. Lampu-lampu cangkok dipasang di depan rumah, di sepanjang jalan, hingga lorong-lorong permukiman.
Bahan yang digunakan pun sederhana. Kaleng bekas atau wadah logam kecil diisi minyak tanah dan sumbu, lalu digantung atau disusun berderet. Namun seiring waktu, kreativitas masyarakat berkembang.
Lampu-lampu itu kini dirangkai menjadi berbagai bentuk artistik—kubah masjid, bintang, hingga kaligrafi bernuansa Islami. Bahkan di beberapa kampung, warga membangun gerbang besar dari rangkaian lampu cangkok sebagai simbol kemeriahan.
Pantulan cahaya pelita di malam hari menciptakan atmosfer religius yang khas. Kampung terasa hidup, bukan hanya oleh cahaya, tetapi juga oleh semangat kebersamaan.
Menjaga Tradisi di Tengah Modernitas
Bagi masyarakat Melayu, 7 Likur juga menjadi wujud kegembiraan menyambut Idulfitri. Cahaya lampu cangkok yang menerangi kampung menjadi simbol rasa syukur sekaligus kebersamaan.
Proses pemasangan lampu biasanya dilakukan secara gotong royong. Anak-anak, remaja, hingga orang tua terlibat. Mereka bersama-sama menyiapkan lampu, menyusun rangka, hingga menyalakan sumbu saat malam tiba.
Momentum ini bukan hanya meramaikan suasana, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Ini wujud suka cita masyarakat menyambut keberkahan Ramadan dan Idulfitri,” kata Dedi.
Di tengah hadirnya teknologi pencahayaan modern, tradisi lampu cangkok tetap bertahan. Bahkan di sejumlah daerah, 7 Likur kini dikemas dalam bentuk festival budaya yang melibatkan masyarakat luas.
Lebih dari sekadar tradisi, 7 Likur menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya mereka.
“Tradisi ini telah menghiasi kehidupan masyarakat sejak lama. Karena itu, penting untuk terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Melayu,” tutup Dedi. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : GUSTIA BENNY