Buka konten ini

MENJELANG Hari Raya Idulfitri 2026 atau 1 Syawal 1447 Hijriah, arus mudik mulai terasa. Banyak masyarakat bersiap melakukan perjalanan jauh menuju kampung halaman untuk merayakan lebaran bersama keluarga.
Namun perjalanan mudik yang memakan waktu panjang kerap membuat pengemudi mengalami kelelahan dan mengantuk. Kondisi ini bisa semakin berat ketika waktu istirahat berkurang akibat pola tidur yang berubah selama Ramadan, seperti harus bangun lebih awal untuk sahur dan tidur lebih larut dari biasanya.
Tak hanya soal kurang tidur, jenis makanan yang dikonsumsi juga berpengaruh terhadap tingkat kewaspadaan dan stamina tubuh selama perjalanan.
Ahli Gizi Masyarakat IPB University, dr Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan beberapa jenis makanan justru dapat memicu rasa kantuk ketika dikonsumsi sebelum atau saat perjalanan mudik.
Menurutnya, makanan yang menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat dapat membuat tubuh lebih mudah merasa lelah dan mengantuk. Contohnya adalah roti putih, keripik, gorengan, serta berbagai makanan dengan kadar gula tinggi.
Sebagai gantinya, ia menyarankan pemudik memilih makanan yang mampu menjaga energi stabil. Makanan dengan kandungan karbohidrat kompleks, protein tinggi, serta lemak rendah dinilai lebih baik untuk menjaga stamina selama perjalanan.
Beberapa contoh makanan yang dianjurkan antara lain telur, ayam tanpa kulit, daging tanpa lemak, kacang-kacangan, serta buah-buahan yang memiliki kandungan air tinggi. Jenis makanan tersebut dapat menjaga energi sekaligus mencegah dehidrasi.
Karina juga menjelaskan bahwa sumber karbohidrat kompleks dapat diperoleh dari serealia utuh seperti beras merah, beras hitam, gandum, oat, dan jagung. Selain itu, sayuran berpati seperti kentang dan ubi juga dapat menjadi pilihan untuk menjaga pasokan energi.
Sementara itu, sumber protein rendah lemak dapat berasal dari ayam tanpa kulit, daging tanpa lemak, putih telur, serta ikan. Untuk lemak sehat, pemudik bisa mendapatkannya dari ikan, kacang-kacangan, minyak zaitun, dan alpukat. Ia juga menyarankan agar tetap mengonsumsi buah dan sayuran yang kaya serat, vitamin, mineral, serta mengandung banyak air.
Selain memperhatikan makanan, pemudik juga perlu memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi. Ia menegaskan bahwa pengemudi harus menjaga asupan cairan baik saat sahur maupun berbuka.
Meski sedang berpuasa, konsumsi air putih tetap dianjurkan minimal delapan gelas atau sekitar 1,5 hingga 2 liter per hari.
Terkait minuman berkafein seperti kopi atau teh, Karina menjelaskan bahwa kafein memang dapat membantu mengurangi rasa kantuk, tetapi efeknya hanya bersifat sementara.
Jika dikonsumsi secara berlebihan, kafein justru dapat memicu sering buang air kecil yang berpotensi menyebabkan dehidrasi.
Ia menyebut batas aman konsumsi kafein bagi orang dewasa sekitar 400 miligram per hari atau setara empat cangkir kopi. Meski demikian, ia menyarankan cukup satu hingga dua cangkir saja.
Karina menegaskan, cara paling efektif untuk mengatasi rasa kantuk saat berkendara bukanlah dengan minuman berkafein, melainkan dengan beristirahat.
Menurutnya, jika tubuh sudah terasa lelah, pengemudi sebaiknya menepi dan beristirahat sejenak agar energi kembali pulih sebelum melanjutkan perjalanan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO