Buka konten ini
SHANGHAI (BP) – Formula 1 resmi membatalkan penyelenggaraan Grand Prix Bahrain dan Arab Saudi 2026 karena konflik militer yang terus memburuk di Timur Tengah. Keputusan ini diumumkan pada Minggu pagi di Shanghai, tempat berlangsungnya GP China akhir pekan ini.
Pembatalan ini membuat jeda 35 hari antara GP Jepang pada 29 Maret dan GP Miami pada 3 Mei, karena seri April terpaksa ditiadakan. GP Bahrain awalnya dijadwalkan pada 12 April, sedangkan GP Arab Saudi pada 19 April.
Selain balapan Formula 1, keputusan ini juga berdampak pada seri Formula 2 di kedua negara, F1 Academy di Arab Saudi, serta Formula 3 di Bahrain. Demikian seperti dilansir oleh NewYorkTimes.
Dalam pernyataan bersama, Formula 1 dan Federasi Otomotif Internasional (FIA) menyatakan, “Setelah evaluasi mendalam, karena situasi yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah, GP Bahrain dan Arab Saudi tidak akan digelar pada April. Berbagai alternatif telah dipertimbangkan, namun akhirnya diputuskan tidak ada pengganti di bulan tersebut. Seri F2, F3, dan F1 Academy juga dibatalkan sesuai jadwal.”
Keputusan ini diambil setelah berkonsultasi penuh dengan Formula One Group, promotor lokal, dan anggota FIA di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari, dengan serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran, memicu ketegangan lebih luas. Beberapa negara di Timur Tengah menutup ruang udara mereka, membatasi perjalanan, dan serangan ini menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta lebih dari 1.000 warga sipil.
F1 sebelumnya memantau situasi secara ketat. Namun, keterbatasan waktu dan kebutuhan logistik membuat pengiriman kargo dan pergerakan tim ke Bahrain dan Arab Saudi semakin sulit. Beberapa peralatan masih berada di Bahrain International Circuit setelah uji coba pra-musim seminggu sebelum konflik terjadi, dan tim belum bisa mengambilnya.
“Kami mengikuti arahan FIA dan Formula 1 seperti biasa. Mereka selalu memimpin kami ke arah yang tepat,” kata kepala tim Audi, Jonathan Wheatley, saat konferensi pers Jumat di China.
Pembatalan dua balapan ini berdampak finansial pada seluruh tim karena tidak ada pengganti yang ditetapkan, dan kalender yang padat membuat sulit menjadwalkan ulang GP Bahrain dan Arab Saudi. CEO McLaren Racing, Zak Brown, mengaku pembatalan ini mungkin memengaruhi anggaran, tetapi dibandingkan keselamatan dan situasi saat ini, hal itu menjadi hal kecil.
Sementara itu, pembalap Mercedes, Kimi Antonelli, yang memulai GP China dari pole position, menyatakan simpati bagi korban konflik. “Pikiran saya bersama mereka yang terdampak. Semoga keadaan segera membaik. Tapi F1 dan FIA akan menangani situasi ini sebaik mungkin untuk memastikan keselamatan semua pihak,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO