Buka konten ini

DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi peningkatan volume sampah selama masa libur Idulfitri. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memastikan tempat penampungan sampah di kawasan permukiman telah dikosongkan sebelum Hari Raya.
Kepala DLH Batam, Dohar Mangalando Hasibuan, mengatakan lonjakan volume sampah hampir selalu terjadi pada setiap periode libur Lebaran. Kondisi tersebut dipicu meningkatnya aktivitas masyarakat dibandingkan hari-hari biasa.
“Selama libur Lebaran biasanya terjadi peningkatan volume sampah dari sumber. Hal ini dipengaruhi aktivitas masyarakat yang lebih intens dibandingkan hari biasa,” kata Dohar, Minggu (15/3).
Untuk menjaga kebersihan lingkungan, DLH Batam menargetkan pengangkutan sampah dari kawasan permukiman dapat diselesaikan sebelum Lebaran tiba. Dengan demikian, lingkungan tempat tinggal warga tetap bersih dan nyaman saat merayakan hari raya.
“Kami targetkan bak sampah di permukiman sudah kosong sebelum masuk Lebaran. Jadi sampah yang ada kami angkut terlebih dahulu agar warga lebih nyaman menyambut momen Lebaran,” ujarnya.
Dalam mendukung kelancaran pelayanan, DLH Batam bersama tim satuan tugas kebersihan juga mengoptimalkan sistem kerja selama masa libur. Jadwal petugas telah disusun untuk meminimalkan keterlambatan pengangkutan sampah dari berbagai sumber.
“Kami berupaya menekan kemungkinan keterlambatan pengangkutan sampah. Karena itu, jadwal kerja selama libur Lebaran sudah kami atur. Sama seperti tahun sebelumnya, H-1 diharapkan seluruh tong sampah milik warga sudah kosong,” kata Dohar.
Selain pengangkutan dari kawasan permukiman, petugas kebersihan juga akan melakukan penyisiran di sejumlah titik yang diperkirakan ramai aktivitas masyarakat, seperti jalan protokol, pusat perbelanjaan, dan ruang publik.
Saat ini layanan kebersihan DLH Batam didukung sekitar 1.000 petugas yang terdiri dari tenaga pengangkut sampah dan penyapu jalan. Mereka bekerja secara bergiliran dengan sistem shift untuk memastikan pelayanan tetap berjalan dari pagi hingga malam hari.
“Petugas kami tetap bekerja selama libur Lebaran dengan sistem shift. Mereka terdiri dari petugas pengangkut sampah serta penyapu jalan yang bertugas menjaga kebersihan kota,” ujarnya.
Menurut Dohar, keberadaan para petugas tersebut sangat penting untuk menjaga kondisi lingkungan tetap bersih, terutama ketika aktivitas masyarakat meningkat selama periode libur panjang Lebaran.
Di sisi lain, persoalan sampah masih terlihat di sejumlah titik Kota Batam. Salah satunya di drainase sepanjang Jalan Raja H. Fisabilillah, Batam Centre. Tumpukan sampah plastik bercampur berbagai jenis limbah terlihat menutupi sebagian aliran got dan menimbulkan bau tidak sedap.
Kondisi tersebut menimbulkan pemandangan kurang nyaman di salah satu kawasan yang menjadi pusat aktivitas Kota Batam. Jalan Raja H. Fisabilillah sendiri merupakan jalur utama yang setiap hari dilalui banyak kendaraan.
“Jorok bang, belum ada pergerakan untuk dibersihkan,” kata Udin, pengemudi ojek online yang sering mangkal di kawasan tersebut.
Menurutnya, tumpukan sampah di drainase tersebut sudah terlihat sejak beberapa hari terakhir. Selain mengganggu pemandangan, bau yang muncul dari sampah juga cukup menyengat, terutama saat cuaca panas pada siang hari.
Menanggapi kondisi tersebut, Dohar menjelaskan bahwa pengangkutan sampah di Kota Batam telah memiliki jadwal berbeda di setiap kawasan.
Ia menyebutkan, untuk kawasan perkotaan pengangkutan sampah dilakukan setiap hari, sedangkan di kawasan perumahan dilakukan sekali dalam seminggu dan kawasan pertokoan dua kali dalam seminggu.
“Kawasan perkotaan sampah diangkut setiap hari. Untuk kawasan perumahan sekali seminggu dan kawasan pertokoan dua kali dalam seminggu. Armada yang kita kerahkan ada 95 unit di luar kendaraan pick up,” ujarnya.
Armada tersebut disebar ke berbagai titik di Kota Batam untuk memastikan sampah dapat diangkut secara rutin sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Batam, Rudi Panjaitan, mengatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti laporan mengenai tumpukan sampah di drainase Jalan Raja H. Fisabilillah tersebut.
Menurutnya, persoalan tersebut akan dikoordinasikan melalui program Batam Asri, yaitu kegiatan rutin pemerintah daerah untuk membersihkan berbagai titik di Kota Batam.
“Siap, akan segera di-follow up,” kata Rudi.
Persoalan sampah juga terlihat di kawasan Sagulung. Tumpukan sampah mengular di sepanjang Jalan Seibinti hingga kawasan Seilekop. Sampah rumah tangga, limbah pasar, hingga sisa material bangunan bercampur menjadi satu dan menumpuk di pinggir jalan, bahkan sebagian meluber hingga ke badan jalan.
Pemandangan tersebut bukan hal baru bagi warga sekitar. Penumpukan sampah disebut telah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum terselesaikan secara tuntas.
Selain merusak pemandangan, tumpukan sampah juga menimbulkan aroma tidak sedap yang menyengat. Bau busuk dari sampah yang membusuk dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan masyarakat sekitar, termasuk pengendara yang melintasi jalur tersebut setiap hari.
Andri, salah seorang warga Seibinti, mengatakan penumpukan sampah di kawasan tersebut sudah terjadi cukup lama dan volumenya terus bertambah setiap hari.
“Sudah lama sampah ini menumpuk. Setiap hari terus bertambah. Armada yang datang tidak sanggup mengangkut semuanya,” ujar Andri.
Untuk mengurangi penumpukan sekaligus bau menyengat, sebagian warga memilih membakar sampah. Namun cara tersebut justru memunculkan persoalan baru karena asap tebal dari pembakaran sering menyelimuti kawasan tersebut.
Asap pembakaran sampah juga dikeluhkan warga karena berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi. Apalagi titik penumpukan sampah di Jalan Seibinti berada tidak jauh dari kawasan permukiman dan sekolah di sekitar kawasan Candi Bantar.
Kondisi serupa juga terlihat di kawasan Seilekop yang berada dekat galangan kapal. Di wilayah ini, tumpukan sampah hampir memenuhi sepanjang ruas jalan sehingga membuat lingkungan terlihat kumuh.
Penumpukan sampah yang memanjang ini membuat sejumlah titik terlihat seperti tempat pembuangan sementara liar. Sampah yang meluber hingga ke badan jalan juga berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas dan membahayakan pengendara.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, sebelumnya mengakui persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di Kota Batam. Saat bersilaturahmi dengan warga Sagulung dalam acara buka puasa bersama di kawasan Citra Kebun Sagulung belum lama ini, ia menjelaskan bahwa kendala pengelolaan sampah juga berkaitan dengan kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur.
Menurut Amsakar, pengelolaan sampah di Batam sebelumnya menggunakan sistem open dumping yang kini tidak lagi diperbolehkan oleh pemerintah pusat.
“Zona A di TPA tidak lagi boleh digunakan karena modelnya open dumping. Sekarang kita pindahkan ke zona B dan C,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini volume sampah di zona B dan C TPA Telaga Punggur telah mencapai sekitar 7,5 juta ton dengan ketinggian tumpukan sekitar 20 meter. Kondisi tersebut membuat truk pengangkut sampah harus dibantu buldoser untuk dapat naik ke area pembuangan.
“Kadang satu mobil butuh waktu sampai dua jam untuk membuang sampah karena antrean panjang. Itulah sebabnya sering terlihat truk antre berserak di TPA,” katanya.
Pemerintah Kota Batam, lanjut Amsakar, juga sempat menggunakan dana belanja tidak terduga untuk membantu percepatan penanganan sampah. Ia meminta camat dan lurah memetakan titik-titik penumpukan sampah yang paling mendesak agar proses pengangkutan dapat dilakukan secara bertahap. (***)
Reporter : ARJUNA – M SYA’BAN – EUSEBIUS SARA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO