Buka konten ini

2. Bunga tabebuya juga terlihat mekar di Kawasan Industri Mukakuning, Seibeduk. Foto: Adi untuk Batam Pos
BATAM (BP) – Siang itu, suasana di kawasan Batamindo, Muka Kuning, Seibeduk, terasa berbeda. Di tengah lalu lintas kendaraan dan aktivitas kawasan industri, deretan pohon tabebuya tampak bermekaran.
Kelopak bunga berwarna merah muda, putih, hingga kuning tampak berguguran perlahan.
Sebagian jatuh ke aspal jalan, sebagian lagi menempel di hamparan rumput, seolah membentuk karpet bunga yang memanjakan mata.
Pemandangan tersebut membuat sejumlah pengendara memperlambat laju kendaraan. Ada yang berhenti sejenak, ada pula yang turun untuk mengabadikan momen langka tersebut.
Mariah Anita, seorang pengendara motor yang melintas, termasuk yang tak ingin melewatkan kesempatan itu. Ia memarkir kendaraannya di tepi jalan lalu mengeluarkan ponsel untuk berfoto.
“Bagus bang buat ambil foto-foto,” katanya sambil tersenyum, kemarin.
Fenomena tabebuya yang bermekaran memang kerap menarik perhatian warga Batam. Banyak orang menyebutnya sebagai “sakura-nya Batam” karena bentuk dan keindahan bunganya yang menyerupai bunga sakura di Jepang.
Ari Pradana, salah satu karyawan di kawasan Batamindo, mengatakan bunga tersebut biasanya hanya mekar pada waktu tertentu setiap tahun. “Sekali setahun saja dia ini bang. Kayak sakura,” ujarnya.
Berasal dari Amerika Latin
Tabebuya sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia. Pohon ini berasal dari kawasan Amerika Tengah dan Amerika Selatan, seperti Brasil, Meksiko, dan Paraguay.
Secara ilmiah, tanaman ini dikenal dengan nama Handroanthus atau Tabebuia dan termasuk dalam keluarga Bignoniaceae.
Di beberapa negara, tabebuya dikenal sebagai pink trumpet tree atau golden trumpet tree karena bentuk bunganya yang menyerupai terompet.
Di Indonesia, pohon ini mulai populer sekitar dua dekade terakhir sebagai tanaman penghijauan kota. Banyak pemerintah daerah menanamnya di pinggir jalan karena relatif tahan panas, kuat, dan memiliki bunga yang indah.
Batam menjadi salah satu kota yang cukup banyak menanam tabebuya, terutama di kawasan industri dan sejumlah jalan utama.
Mekar Hanya Sekali Setahun
Keunikan tabebuya terletak pada pola mekarnya. Pohon ini biasanya hanya berbunga satu hingga dua kali dalam setahun, tergantung jenis dan kondisi cuaca.
Menariknya, bunga tabebuya sering muncul ketika pohonnya hampir tidak memiliki daun. Karena itu, saat musim berbunga tiba, seluruh cabang pohon tampak dipenuhi warna bunga yang mencolok.
Musim mekarnya pun relatif singkat, biasanya hanya berlangsung sekitar satu hingga dua minggu. Setelah itu bunga akan berguguran dan pohon kembali dipenuhi daun hijau. Karena durasinya yang singkat, momen tabebuya bermekaran kerap dianggap istimewa.
Selain mempercantik kota, tabebuya juga diyakini memiliki sejumlah manfaat.
Dalam pengobatan tradisional di Amerika Latin, kulit batang tabebuya sering digunakan sebagai bahan herbal yang dipercaya memiliki sifat antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri.
Secara psikologis, pemandangan bunga yang indah juga diyakini memberi efek positif bagi kesehatan mental.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota sekaligus Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, bersama tim dari BP Batam turun langsung melihat keindahan pohon tabebuya yang sedang bermekaran di sejumlah ruas jalan di Kota Batam. Dikutip dari akun Instagram Li Claudia, bunga yang mekar dengan warna-warna cerah ini kerap dijuluki masyarakat sebagai “Sakura-nya Batam”, karena keindahannya yang menyerupai bunga sakura di Jepang.
”Keindahan kota bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang bagaimana kita bersama-sama merawat lingkungan serta menghadirkan ruang yang indah dan nyaman bagi masyarakat. Pohon-pohon tabebuya yang bermekaran ini menjadi salah satu wajah keindahan Batam yang patut dijaga bersama,” tulisnya. (*)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK