Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Raksasa perangkat lunak dan komputasi awan Oracle menghadapi tekanan finansial besar di tengah ambisinya membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) berskala global. Perusahaan yang bernilai 400 miliar dolar AS itu kini menjadi sorotan setelah total utangnya melampaui 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.689 triliun (kurs Rp 16.890 per dolar AS), seiring lonjakan investasi pusat data dan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK).
Tekanan ini muncul di saat Oracle justru masih mencatat pertumbuhan bisnis yang kuat. Para analis memperkirakan pendapatan kuartalan perusahaan meningkat sekitar 20 persen menjadi sekitar 17 miliar dolar AS atau sekitar Rp 287 triliun. Laba per saham, di luar beberapa pos tertentu, diproyeksikan naik sekitar 16 persen menjadi 1,71 dolar AS, didorong meningkatnya permintaan terhadap layanan komputasi awan dan infrastruktur AI.
Namun kombinasi ekspansi agresif dan peningkatan utang membuat pasar mulai berhati-hati. Melansir Fortune, Selasa (10/3), saham Oracle tercatat turun sekitar 20 persen sepanjang 2026. Para analis menilai arah pergerakan saham perusahaan akan sangat bergantung pada apakah investor lebih menekankan potensi pertumbuhan AI atau justru risiko finansial dari investasi besar yang sedang dijalankan.
Di tengah tekanan itu, Oracle juga menjalankan restrukturisasi organisasi untuk mempercepat transformasi bisnisnya dari model lisensi perangkat lunak tradisional menuju penyedia infrastruktur komputasi awan.
Perusahaan mengalokasikan hingga 1,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 27 triliun untuk program restrukturisasi, terutama untuk biaya pesangon karyawan, dengan sekitar 826 juta dolar AS telah dicatat sebagai biaya restrukturisasi.
Laporan Bloomberg juga menyebut perusahaan mempertimbangkan PHK ribuan pekerja sebagai bagian dari penyesuaian bisnis di tengah persaingan ketat dengan penyedia layanan komputasi awan global seperti Amazon dan Microsoft. Ekspansi tersebut sebagian besar dibiayai melalui peningkatan utang. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI