Buka konten ini

Eesais Asal Madura
MENCERDASKAN kehidupan bangsa merupakan amanat konstitusi yang harus diselenggarakan sebaik-baiknya dan dengan penuh kesungguhan oleh pengelola negara ini.
Bagaimanapun, hari ini kita semakin tersadarkan dan cukup banyak mengetahui, mengerti, dan memahami bahwa segudang persoalan terkait pendidikan nasional masih menunggu penyelesaian konkret dari pemerintah. Ditambah lagi, sebagian lembaga pendidikan hari ini dinilai belum optimal dalam melahirkan generasi yang cerdas dan berkualitas dari sisi intelektual, emosional, dan spiritual.
Sekolah seakan berubah fungsi menjadi sebatas lembaga pemberi ijazah. Masalah kualitas lulusan kurang mendapat perhatian. Padahal, sekolah sejatinya adalah tempat untuk menempa peserta didik menjadi manusia yang seutuhnya. Sekolah, menurut saya, semestinya menjadi wadah untuk membentuk peserta didik menjadi pribadi yang berakhlak mulia, nasionalis, tangguh, visioner, terampil, cerdas, kreatif, produktif, dan mandiri.
Artinya, setiap sekolah memang memiliki tanggung jawab besar untuk mencetak insan yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Dalam hal ini, peran guru menjadi sangat vital.
Sebab, guru bukan hanya berkewajiban mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Lebih dari itu, guru juga berkewajiban membangun mentalitas dan karakter mereka. Hal ini lebih sukar karena berhubungan dengan pola pikir, sifat, sikap, kebiasaan, dan watak setiap anak didik yang beraneka ragam.
Contohnya, ketika ada siswa yang melakukan perundungan, baik secara fisik maupun verbal kepada temannya, guru harus menegur atau bahkan memberikan hukuman agar menimbulkan efek jera. Hal ini tentu dalam rangka mendidik siswa agar tidak mengulangi perbuatannya. Proses tersebut juga membina moralitas siswa lain agar memahami bahwa aksi bullying adalah perbuatan tercela.
Yang menjadi perhatian saya sebagai penulis adalah ketika fokus atau konsentrasi guru pecah karena urusan dapur belum selesai. Bagaimana mungkin kita bisa menghasilkan generasi berkualitas?
Di sinilah peran negara dipertanyakan. Generasi emas yang kita dambakan bisa jadi hanya menjadi ilusi jika nasib guru terus-menerus diabaikan. Dari tahun ke tahun, mereka hanya disuguhi janji. Perubahan status, kenaikan gaji, jabatan, dan semacamnya sering kali menjadi pemanis di musim kampanye politik.
Arah kebijakan pendidikan nasional masih belum memberikan angin segar yang mampu memercikkan cahaya harapan. Tanggung jawab besar yang diemban guru tidak sebanding dengan apresiasi yang diterima.
Ekspektasi kita kepada guru begitu besar: mereka diharapkan mampu membina moralitas anak-anak kita, mencetak insan yang pintar, beradab, unggul, dan berdaya saing. Sementara itu, kita seolah menutup mata terhadap nasib para pejuang pendidikan yang terkatung-katung.
Namun, patut disyukuri masih banyak guru di negeri ini yang memilih tetap mengajar dan mendidik di tengah ketidakstabilan ekonomi. Masih banyak guru yang konsisten mengabdi dan berdedikasi tinggi untuk mencetak insan berbudi luhur dan mencintai Indonesia.
Kendati negara kerap absen dalam memberikan penghargaan, ikhtiar mereka memajukan pendidikan nasional tak pernah redup. Mereka terjun ke dunia pendidikan karena panggilan jiwa. Mereka rela berpayah-payah demi lahirnya generasi baru yang diharapkan membawa kemajuan dan peradaban emas bagi negeri ini. Bagi saya, mereka mendidik dengan sepenuh hati.
Mendidik generasi penerus tanpa peduli risiko yang dihadapi—seperti kelelahan, keterhimpitan ekonomi, kekecewaan, dan berbagai penderitaan lain—memang berat. Dunia pendidikan penuh tantangan kompleks, liku-liku, dan jalan terjal yang menuntut kesabaran tinggi.
Apalagi, sebagian anak-anak sekarang seakan sukar diatur. Ada yang berani melawan, berkata kasar, bahkan melakukan kekerasan fisik terhadap gurunya sendiri. Sungguh, fakta ini mengejutkan dan membuat dada sesak. Bagaimana mungkin generasi harapan bangsa bersikap kurang ajar kepada gurunya? Dalam situasi semacam itu, kebijaksanaan guru sedang diuji.
Bagaimana respons guru? Apakah memberi hukuman yang tepat, tetap sabar, atau justru marah? Mendidik dengan kelembutan dan kasih sayang memang berat ujiannya, termasuk ketika marwah martabat guru direndahkan oleh anak didiknya sendiri, sementara kondisi finansial belum membaik. Mendidik dengan hati berarti benar-benar tulus menjadi “pelita” dan “kompas” bagi anak-anak bangsa.
Artinya, guru selalu berkomitmen dan konsisten menunjukkan jalan bagi anak-anak Indonesia. Saya percaya, generasi hebat lahir dari guru-guru hebat. Guru hebat adalah mereka yang membimbing dengan ketelatenan, kesabaran, dan ketulusan.
Guru hebat tetap mengajar dan mendidik anak-anak meskipun badai ekonomi menerjang rumah tangganya. Para guru pun legowo menerima ketidakhadiran penguasa dalam meningkatkan taraf hidup mereka. Saya percaya, sebagian besar atau bahkan hampir semua guru hari ini mendidik dengan sepenuh jiwa.
Sayang, sebagian pengambil kebijakan acapkali bertindak sesuka hati. Begitulah secuil potret sekaligus ironi dunia pendidikan kita. Akan tetapi, bagaimanapun kondisi dan persoalannya, kita harus tetap merajut asa dunia pendidikan. (*)