Buka konten ini

Ketika slot kursi pesawat menipis dan harga tiket melambung, ribuan warga Batam dipaksa menyusun ulang peta mudiknya sendiri, mulai dari mencari alternatif kapal RoRo, Pelni, hingga jalur berlapis antarpelabuhan. Lebaran menunjukkan satu hal: mudik bagi pekerja perantauan tak lagi sekadar perjalanan, melainkan perjuangan mencari jalur yang tersedia menuju kampung halaman.
KETERSEDIAAN kursi pesawat terbang hampir tak tersisa. Jika pun ada, harganya melambung jauh dari jangkauan sebagian besar pekerja. Menjelang Lebaran Idulfitri 2026, ribuan warga Batam yang ingin pulang kampung mendadak dihadapkan pada pilihan sulit: menunda mudik, merogoh kocek lebih dalam, atau mencari jalan lain yang lebih panjang dan berliku.
Situasi ini membuka satu realitas yang jarang disorot: bagi kota yang dihuni mayoritas pendatang seperti Batam, perjalanan pulang kampung bukan sekadar mobilitas tahunan, melainkan kebutuhan sosial yang kuat. Ketika akses udara menjadi mahal dan terbatas, warga mulai memutar otak—menyusuri jalur laut domestik, berpindah moda dari pelabuhan ke pelabuhan, bahkan menyeberang ke negara tetangga demi mendapatkan tiket pesawat yang lebih terjangkau.
Dalam beberapa hari terakhir, berbagai alternatif perjalanan mulai bermunculan. Ada yang memilih kapal penumpang antarpulau dengan waktu tempuh berhari-hari. Sebagian lainnya memanfaatkan kapal RoRo dari Pelabuhan Telaga Punggur menuju wilayah pesisir Sumatra dan Riau sebelum melanjutkan perjalanan darat. Bahkan, tidak sedikit yang memilih rute yang lebih tidak lazim: menyeberang ke Singapura atau Malaysia menggunakan feri, lalu terbang kembali ke kota tujuan di Indonesia dengan tarif yang lebih murah.
Namun, pilihan-pilihan tersebut tidak selalu mudah. Moda transportasi laut domestik memang tersedia, tetapi memerlukan waktu perjalanan panjang.
Bagi pekerja dengan masa cuti terbatas, waktu di perjalanan sering kali justru menggerus kesempatan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.
Sementara itu, moda feri antarkota di wilayah Sumatra dan Riau menawarkan perjalanan lebih cepat, tetapi harga tiketnya kerap mendekati tarif pesawat.
Di sisi lain, jalur internasional yang belakangan mulai dilirik juga menyisakan kendala tersendiri. Skema menyeberang ke Singapura atau Malaysia untuk mengejar penerbangan murah memang menarik secara biaya, tetapi mensyaratkan paspor dengan masa berlaku aktif—dokumen yang belum dimiliki banyak warga Batam.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa kota dengan mobilitas tinggi seperti Batam justru menghadapi keterbatasan akses transportasi menjelang musim mudik? Apakah tambahan penerbangan dan kapal yang tersedia sudah cukup menjawab kebutuhan masyarakat, atau masih menyisakan celah yang berpotensi memicu praktik perjalanan tidak aman?
Di Tengah Tiket Pesawat Mahal, Jalur Laut Masuk Akal
Ketika tiket pesawat dari Batam ke berbagai kota di Indonesia kian mahal dan sulit didapat, perhatian mulai bergeser ke jalur laut. Pelabuhan Domestik dan Pelabuhan RoRo Telaga Punggur diperkirakan menjadi simpul penting bagi warga yang mencari rute alternatif untuk pulang kampung menjelang Lebaran Idulfitri 2026.
Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Perhubungan (Dishub) mulai memetakan kesiapan fasilitas di pelabuhan tersebut. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan penumpang yang beralih dari moda udara ke moda laut akibat keterbatasan kursi pesawat dan harga tiket yang melambung.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Batam, Leo Putra, mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan langsung ke Pelabuhan RoRo dan Pelabuhan Domestik Punggur bersama sejumlah instansi terkait. Pemeriksaan dilakukan guna memastikan kesiapan fasilitas, pengaturan arus penumpang, serta dukungan pengamanan selama masa mudik.
“Baru selesai pengecekan di lapangan. Untuk fasilitas dari Dishub semuanya sudah siap. Di setiap titik nanti akan dibuat pos terpadu,” kata Leo kepada Batam Pos, Jumat (6/3).
Pengecekan tersebut melibatkan Direktorat Lalu Lintas Polda Kepri, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), serta Jasa Raharja. Sejumlah instansi itu akan terlibat dalam pengawasan arus mudik, terutama di kawasan pelabuhan yang menjadi pintu keluar utama warga Batam menuju berbagai daerah di Sumatra dan wilayah Kepulauan Riau.
Menurut Leo, pos terpadu akan diisi petugas dari berbagai unsur, mulai dari kepolisian, Dishub, hingga otoritas pelabuhan. Pos tersebut berfungsi memantau pergerakan penumpang sekaligus mengendalikan potensi kepadatan selama periode mudik.
“Pos ini nantinya menjadi pusat pemantauan arus penumpang dan koordinasi antarinstansi,” ujarnya.
Hasil pemantauan di lapangan akan dilaporkan melalui BPTD sebagai perpanjangan tangan Kementerian Perhubungan di daerah. Data tersebut kemudian diteruskan ke pemerintah provinsi untuk koordinasi lintas wilayah, mengingat sebagian besar pemudik dari Batam akan melanjutkan perjalanan ke kota lain di Sumatra.
“Setelah pengecekan ini, kami juga akan turun bersama memastikan kesiapan mudik sekaligus membangun pos-pos terpadu tadi,” jelasnya.
Di tengah mahalnya tiket pesawat, jalur laut diperkirakan menjadi salah satu alternatif utama bagi warga Batam yang ingin pulang kampung. Dari Pelabuhan Telaga Punggur, pemudik dapat menyeberang ke sejumlah daerah seperti Kuala Tungkal, Dabo Singkep, hingga wilayah lain di pesisir Sumatra. Sebagian penumpang juga memanfaatkan kapal RoRo untuk melanjutkan perjalanan darat ke kota tujuan.
Namun, Leo menegaskan bahwa peran pemerintah daerah dalam pengelolaan pelabuhan bersifat mendukung. Sebab, kewenangan operasional pelabuhan berada di bawah instansi pusat seperti Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), sementara bandara berada di bawah otoritas pengelola penerbangan.
“Kami dari pemerintah daerah sifatnya supporting. Karena pelabuhan ada KSOP, bandara juga ada pihak pengelolanya sendiri,” katanya.
Dishub Batam juga masih menunggu arahan lebih lanjut dari BPTD terkait langkah antisipasi jika terjadi lonjakan penumpang. Koordinasi lintas instansi terus dilakukan untuk memastikan arus mudik tetap berjalan aman dan terkendali.
“Masih menunggu surat dari BPTD terkait kesiapan lanjutan, termasuk langkah-langkah yang perlu dilakukan jika terjadi lonjakan penumpang,” pungkas Leo.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelabuhan menjadi salah satu simpul penting dalam peta alternatif mudik warga Batam tahun ini. Ketika jalur udara semakin mahal, jalur laut—meski memerlukan waktu tempuh lebih panjang—mulai dilirik sebagai jalan lain menuju kampung halaman.
Lintasan Punggur–Tanjunguban Jadi Pilihan
Ketika tiket pesawat dari Batam ke berbagai kota di Indonesia kian mahal dan sulit diperoleh menjelang Lebaran Idulfitri 2026, jalur penyeberangan laut kembali menjadi pilihan bagi sebagian warga yang ingin pulang kampung. Lintasan RoRo dari Pelabuhan Telaga Punggur menuju sejumlah wilayah di Kepulauan Riau dan pesisir Sumatra diperkirakan akan menjadi salah satu rute alternatif yang paling ramai.
Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, PT ASDP Indonesia Ferry menyiapkan 20 kapal roll on-roll off (RoRo) yang akan melayani angkutan Lebaran di wilayah Batam dan sekitarnya.
Dari jumlah tersebut, lima kapal disiapkan khusus untuk lintasan Pelabuhan Telaga Punggur Batam menuju Pelabuhan Tanjunguban, Kabupaten Bintan, yang selama ini menjadi jalur penyeberangan paling padat.
General Manager ASDP Batam, Reno Yulianto, mengatakan lintasan Punggur–Tanjunguban menjadi fokus utama pemantauan selama periode mudik karena jumlah pengguna jasanya paling tinggi dibanding lintasan lainnya.
“Untuk lintasan Punggur–Tanjunguban kami siapkan lima kapal. Jalur ini memang menjadi prioritas karena selama ini jumlah penumpangnya paling tinggi, sehingga menjadi pantauan nasional saat angkutan Lebaran,” ujar Reno.
Selain lima kapal yang melayani lintasan tersebut, total armada yang disiapkan ASDP untuk berbagai lintasan penyeberangan di wilayah Kepulauan Riau mencapai 14 unit. Jika digabung dengan enam kapal milik operator swasta, maka total kapal RoRo yang akan beroperasi selama periode mudik mencapai 20 unit.
“Untuk swasta ada enam kapal yang melayani lintasan antardaerah di wilayah provinsi. Jadi total kapal yang tersedia mencapai 20 unit,” sebutnya.
Beberapa lintasan yang dilayani kapal RoRo dari Batam antara lain menuju Dabo Singkep dan Kuala Tungkal di pesisir Jambi. Bagi sebagian pemudik, rute ini menjadi jalur awal untuk melanjutkan perjalanan darat menuju berbagai kota di Sumatra.
ASDP juga merencanakan penambahan waktu operasional kapal guna mengantisipasi lonjakan penumpang. Jika pada hari biasa kapal di lintasan Punggur–Tanjunguban hanya beroperasi sekitar 13 jam per hari, maka selama periode mudik operasional akan diperpanjang hingga 24 jam.
“Rencananya mulai H-5 sampai H+5 Lebaran, operasional kapal di lintasan Punggur–Tanjunguban akan kita jalankan selama 24 jam,” kata Reno.
Meski demikian, penambahan armada masih bersifat situasional dan akan disesuaikan dengan permintaan masyarakat.
“Kalau penambahan kapal kami lihat dulu demand atau kebutuhan pengguna jasa. Tetapi untuk penambahan trip operasional sudah kami rencanakan,” tambahnya.
Dari sisi keselamatan, Reno memastikan seluruh kapal yang akan beroperasi telah melalui pemeriksaan kelaikan atau ramp check oleh otoritas pelabuhan. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan kapal memenuhi standar keselamatan sebelum melayani penumpang.
“Ramp check dan uji petik sudah dilakukan oleh KSOP, serta pemenuhan standar pelayanan minimal dari BPTD,” jelasnya.
Untuk menghindari kelebihan penumpang, ASDP juga menerapkan sistem tiket daring. Jumlah penumpang yang diizinkan naik kapal akan dibatasi sesuai kapasitas yang tercantum dalam Surat Keterangan Kecakapan Kapal (SKKP).
“Dengan sistem tiket online, kuota penumpang dibatasi sesuai kapasitas kapal. Jadi kemungkinan penumpang melebihi kapasitas sangat kecil,” tegas Reno.
Kapal RoRo sendiri menjadi moda transportasi yang cukup diminati pemudik yang membawa kendaraan pribadi. Kapal jenis ini memungkinkan penumpang menyeberang bersama kendaraan seperti sepeda motor maupun mobil, sehingga perjalanan darat dapat dilanjutkan langsung setelah tiba di pelabuhan tujuan.
“Dengan RoRo, masyarakat yang mudik menggunakan mobil pribadi tidak perlu berganti kendaraan. Dari rumah sampai tujuan bisa tetap menggunakan kendaraan yang sama,” katanya.
Penjualan tiket mudik untuk lintasan RoRo ini sudah mulai dibuka sejak 10 Maret. Masyarakat diimbau memesan tiket lebih awal untuk menghindari kehabisan, mengingat potensi peningkatan penumpang menjelang Lebaran cukup tinggi.
“Kami sarankan masyarakat membeli tiket dari sekarang agar lebih mudah mengatur jadwal perjalanan,” ujar Reno.
Dalam peta alternatif mudik warga Batam tahun ini, jalur penyeberangan RoRo diperkirakan menjadi salah satu opsi penting. Ketika jalur udara semakin mahal dan terbatas, jalur laut—meski membutuhkan waktu tempuh lebih lama—tetap menjadi jalan yang memungkinkan ribuan warga Batam kembali ke kampung halaman.
Pelni Tambah Armada, Antisipasi Peralihan Jalur Udara
Di tengah mahalnya tiket pesawat dan terbatasnya kursi penerbangan menjelang Lebaran Idulfitri 2026, jalur laut kembali menjadi pilihan bagi sebagian warga Batam untuk pulang kampung. Kapal penumpang milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) diperkirakan akan menampung lonjakan pemudik, terutama yang menuju wilayah Sumatra.
PT Pelni Cabang Batam pun menyiapkan tambahan armada untuk menghadapi peningkatan jumlah penumpang selama masa angkutan Lebaran. Jika pada hari biasa hanya satu kapal yang melayani rute dari dan menuju Batam, maka pada periode mudik tahun ini jumlahnya ditambah menjadi dua kapal.
Kepala PT Pelni Cabang Batam, Edwin Kurniansyah, mengatakan armada yang disiapkan yakni KM Kelud dan KM Ngapulu.
“Untuk angkutan Lebaran 2026 ini ada dua kapal yang disiapkan. Biasanya rutin masuk hanya satu kapal yaitu KM Kelud, namun pada periode Lebaran ini akan ada tambahan satu kapal lagi yakni KM Ngapulu,” ujarnya.
Kedua kapal tersebut memiliki kapasitas angkut penumpang yang cukup besar. KM Kelud mampu membawa hingga 3.457 penumpang sesuai sertifikat keselamatan kapal, sedangkan KM Ngapulu memiliki kapasitas sekitar 2.955 penumpang.
Penambahan armada ini diharapkan dapat menampung peningkatan jumlah pemudik yang diperkirakan terjadi menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, terutama bagi masyarakat yang tidak mendapatkan tiket pesawat atau memilih jalur laut karena pertimbangan biaya.
Menurut Edwin, dari berbagai rute yang dilayani Pelni dari Batam, jalur menuju Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, menjadi tujuan paling dominan setiap musim mudik.
“Kalau untuk Batam sendiri, rute yang paling diminati adalah Batam–Belawan. Selain itu ada juga rute Batam–Tanjung Priok, tetapi yang paling mendominasi tetap Batam–Belawan,” katanya.
Pada kondisi normal, rute Batam–Belawan biasanya dilayani sekitar empat kali pelayaran dalam satu bulan. Namun selama periode angkutan Lebaran, frekuensi tersebut ditingkatkan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.
“Biasanya dalam kondisi normal satu bulan sekitar empat kali perjalanan. Tapi pada angkutan Lebaran ini frekuensinya bertambah, mulai tanggal 11, 14, 15, 16, 19, hingga 21. Jadi totalnya bisa sampai enam kali perjalanan,” jelasnya.
Selain menambah armada dan frekuensi pelayaran, Pelni juga mengimbau calon penumpang untuk memperhatikan kenyamanan selama perjalanan. Penumpang diminta tidak membawa barang bawaan secara berlebihan, mengingat jumlah penumpang selama periode mudik meningkat cukup signifikan.
“Kami imbau penumpang untuk tidak membawa barang terlalu banyak. Bawa seperlunya saja, karena pada masa angkutan Lebaran jumlah penumpang juga meningkat,” katanya.
Untuk menghindari kepadatan di pelabuhan, Pelni juga mengatur proses embarkasi dan debarkasi penumpang. Calon penumpang diminta datang lebih awal ke pelabuhan guna menukarkan tiket menjadi boarding pass sebelum keberangkatan kapal.
“Kami sarankan penumpang sudah berada di pelabuhan minimal dua jam sebelum kapal berangkat. Bahkan tiket sebenarnya sudah bisa ditukarkan menjadi boarding pass sejak 12 jam sebelum keberangkatan,” ujarnya.
Berdasarkan data penjualan tiket pada periode H-15 hingga hari Lebaran, tingkat keterisian penumpang pada sejumlah jadwal keberangkatan saat ini masih berada di kisaran 75 hingga 80 persen.
“Kalau kita lihat dari jadwal keberangkatan seperti tanggal 9, 11, 14, 15, 16, 19 dan 21, rata-rata keterisiannya masih sekitar 75 sampai 80 persen. Artinya tiket masih cukup tersedia,” jelas Edwin.
Meski demikian, penjualan tiket dilakukan secara bertahap untuk mencegah potensi penyalahgunaan oleh pihak yang ingin mengambil keuntungan di tengah tingginya permintaan mudik.
“Kami melakukan penjualan tiket secara bertahap untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Biasanya pada momen seperti ini ada saja pihak yang mencoba memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan pribadi,” katanya.
Dengan tambahan armada dan frekuensi pelayaran tersebut, jalur kapal penumpang diperkirakan akan menjadi salah satu rute alternatif penting bagi warga Batam yang ingin pulang kampung tahun ini—terutama ketika akses penerbangan semakin terbatas dan mahal menjelang hari raya.
Kapal Patroli Disiagakan di Perairan Kepri
Ketika jalur udara dari Batam menuju berbagai kota di Indonesia semakin terbatas dan mahal menjelang Lebaran Idulfitri 2026, arus mudik diperkirakan bergeser ke jalur laut.
Pergerakan penumpang melalui pelabuhan domestik maupun lintasan penyeberangan di wilayah Kepulauan Riau pun diprediksi meningkat, sehingga aspek keselamatan pelayaran menjadi perhatian utama pemerintah.
Melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DJPL) Kementerian Perhubungan, pengawasan terhadap kapal penumpang mulai diperketat. Pemeriksaan kelaiklautan kapal dilakukan untuk memastikan seluruh armada yang mengangkut pemudik memenuhi standar keselamatan sebelum beroperasi selama masa angkutan Lebaran.
Langkah ini merujuk pada Instruksi Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor IR-DJPL 1 Tahun 2026 tentang Uji Kelaiklautan Kapal Penumpang Angkutan Lebaran 2026. Dalam instruksi tersebut, seluruh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) di Indonesia diminta melakukan uji petik terhadap kapal penumpang yang akan melayani masyarakat selama periode mudik.
Uji petik kelaiklautan kapal telah dilaksanakan sejak 19 Januari 2026 oleh seluruh KSOP, termasuk KSOP Khusus Batam. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan kapal yang melayani rute mudik memenuhi standar keselamatan, keamanan, dan kenyamanan sebelum diizinkan mengangkut penumpang.
Selain pemeriksaan teknis kapal, setiap pelabuhan juga diwajibkan melaporkan kesiapan sarana angkutan laut paling lambat 19 Februari 2026. Laporan tersebut mencakup data kapal, hasil pemeriksaan di lapangan, temuan teknis, hingga rekomendasi perbaikan bagi operator kapal.
Operator kapal yang ditemukan memiliki kekurangan diberi waktu melakukan perbaikan hingga 1 Maret 2026. Jika rekomendasi tersebut tidak dipenuhi hingga batas waktu yang ditentukan, kapal bersangkutan tidak diperbolehkan beroperasi selama masa angkutan Lebaran.
Pelaksana Tugas Kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Tanjung Uban, Alfaizul, menjelaskan bahwa kewenangan pemeriksaan penumpang berada di bawah KSOP selaku syahbandar. Sementara itu, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) berperan dalam pengawasan keselamatan pelayaran serta patroli di perairan.
“Kewenangan regulasi pemeriksaan penumpang ada di KSOP sebagai syahbandar. KPLP tidak memiliki kewenangan itu. Namun protap pemeriksaan sudah dilakukan oleh KSOP sejak Februari lalu sebagai bagian dari persiapan angkutan Lebaran,” ujar Alfaizul.
Ia menambahkan, salah satu persoalan yang kerap muncul saat musim mudik adalah penumpang yang datang ke pelabuhan tanpa memiliki tiket. Kondisi ini sering memicu penumpukan penumpang karena masyarakat tetap berharap dapat berangkat menuju kampung halaman.
“Kadang masyarakat belum memiliki tiket, tetapi tetap datang ke pelabuhan dengan harapan bisa berangkat. Sekarang sudah diarahkan menggunakan tiket online, baik untuk ASDP maupun Pelni. Pemeriksaan tiket juga dilakukan di pintu masuk pelabuhan,” katanya.
Untuk mengantisipasi potensi kepadatan sekaligus menjaga keselamatan pelayaran, KPLP Batam menyiagakan tiga kapal patroli yang akan beroperasi selama masa angkutan Lebaran. Kapal tersebut adalah KN Sarotama P112, KN Kalimasadha P115, dan KN Rantos
P210 yang bertugas melakukan pengawasan di perairan Kepulauan Riau.
Selain itu, Pangkalan KPLP Batam juga menyiapkan 11 kapal negara yang ditempatkan di sejumlah wilayah kerja, termasuk hingga perairan Dumai. Sebanyak 113 personel dikerahkan untuk mendukung pengamanan angkutan Lebaran, dengan 71 di antaranya merupakan awak kapal negara.
“Keselamatan penumpang adalah prioritas utama. Kami berharap angkutan Lebaran tahun ini berjalan aman seperti saat Natal dan Tahun Baru lalu. Seluruh personel dan kapal patroli sudah disiagakan untuk memastikan masyarakat dapat pulang kampung dengan selamat,” tutup Alfaizul.
Dalam konteks meningkatnya minat masyarakat menggunakan jalur laut sebagai alternatif mudik dari Batam, pengawasan keselamatan pelayaran menjadi kunci penting. Ketika ribuan pemudik beralih dari pesawat ke kapal, kesiapan armada, pengawasan di pelabuhan, serta patroli di laut menjadi faktor penentu agar perjalanan pulang kampung tetap aman.
248 Extra Flight Disiapkan di Hang Nadim
Di tengah keluhan mahalnya tiket pesawat menjelang Lebaran Idulfitri 2026, Bandara Internasional Hang Nadim Batam tetap menjadi pintu utama pergerakan pemudik menuju berbagai kota di Indonesia. Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, maskapai mengajukan ratusan penerbangan tambahan selama periode angkutan Lebaran.
Pengelola bandara mencatat sedikitnya 248 extra flight diajukan sejumlah maskapai untuk melayani rute-rute favorit dari Batam ke berbagai daerah. Tambahan penerbangan ini menjadi salah satu upaya menjaga ketersediaan kursi pesawat di tengah tingginya permintaan masyarakat yang ingin pulang kampung.
Pelaksana tugas Direktur Utama PT Bandara Internasional Batam (BIB), Annang Setia Budhi, mengatakan seluruh penerbangan reguler saat ini masih berjalan normal.
“Untuk total penerbangan, seluruh jadwal reguler masih berjalan seperti biasa. Saat ini terdapat sekitar 24 rute domestik yang tetap beroperasi sesuai jadwal,” kata Annang, Jumat (6/3).
Selain jadwal reguler tersebut, sejumlah maskapai mengajukan tambahan penerbangan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang selama periode mudik. Total pengajuan extra flight mencapai sekitar 248 penerbangan.
Tambahan penerbangan tersebut melayani sejumlah rute dengan permintaan tinggi dari Batam, seperti Jakarta, Pekanbaru, Padang, Yogyakarta, hingga Jambi. Kota-kota tersebut menjadi tujuan utama pemudik yang bekerja di Batam dan ingin pulang ke kampung halaman di berbagai wilayah Sumatra maupun Jawa.
“Extra flight dijadwalkan berlangsung mulai 13 Maret hingga 30 Maret,” ujar Annang.
Beberapa maskapai yang mengajukan penerbangan tambahan antara lain Citilink, Super Air Jet, Lion Air, dan Sriwijaya Air. Tambahan kapasitas ini diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan permintaan tiket yang meningkat tajam menjelang Lebaran.
Dari sisi pergerakan penumpang, kepadatan diperkirakan mencapai puncaknya pada 18 Maret. Pada hari tersebut jumlah penumpang yang datang dan berangkat melalui Bandara Hang Nadim diproyeksikan menyentuh sekitar 18 ribu orang.
“Perkiraan puncak arus penumpang terjadi pada 18 Maret dengan estimasi sekitar 18 ribu penumpang datang dan berangkat melalui bandara,” katanya.
Pengelolaan arus penumpang tahun ini juga mempertimbangkan pengalaman angkutan Lebaran sebelumnya serta periode Natal dan Tahun Baru. Salah satu faktor yang diperhitungkan adalah kemungkinan maskapai mengganti jenis pesawat dengan kapasitas lebih besar.
Annang menjelaskan, maskapai terkadang mengganti pesawat berbadan sempit (narrow body) dengan pesawat berbadan lebar (wide body). Perubahan ini tidak memengaruhi jadwal penerbangan, tetapi berdampak pada peningkatan kapasitas penumpang dalam satu penerbangan.
“Misalnya pada rute Batam–Jakarta yang biasanya menggunakan pesawat Boeing 737-900 dengan kapasitas sekitar 200 penumpang. Maskapai bisa mengganti dengan pesawat yang lebih besar sehingga kapasitasnya bisa mencapai sekitar 400 penumpang,” ujarnya.
Namun peningkatan kapasitas tersebut juga berpotensi menimbulkan antrean lebih panjang di area check-in apabila banyak penerbangan dengan kapasitas besar berangkat pada waktu yang berdekatan.
Saat ini Bandara Hang Nadim memiliki 28 konter check-in untuk melayani penumpang. Fasilitas tersebut dinilai cukup memadai, meskipun lonjakan penumpang dalam waktu bersamaan tetap menjadi perhatian pengelola bandara.
Hingga kini, seluruh penerbangan masih berjalan normal dan belum ada pemberitahuan pembatalan penerbangan dari maskapai.
Meski demikian, di tengah tingginya permintaan tiket, sebagian warga Batam mulai melirik moda transportasi lain seperti kapal penumpang atau kapal RoRo sebagai rute alternatif mudik. Kondisi ini menunjukkan bahwa arus mudik dari Batam tahun ini tidak hanya bertumpu pada jalur udara, tetapi juga semakin bergeser ke jalur laut.
Rute Favorit Jakarta, Padang, Palembang, Jogja, Semarang, dan Lampung Jadi Rebutan
Permintaan tiket pesawat dari Batam menuju berbagai kota di Indonesia terus meningkat menjelang Lebaran Idulfitri 2026. Sejumlah rute favorit ke Pulau Jawa dan Sumatra mulai dipadati pemudik, sementara ketersediaan kursi pada hari-hari menjelang Lebaran semakin menipis.
Merespons kondisi tersebut, Lion Air Group membuka sejumlah penerbangan tambahan dari Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Penambahan ini dilakukan untuk mengakomodasi lonjakan mobilitas masyarakat yang ingin pulang kampung.
Area Manager Lion Air Group wilayah Kepulauan Riau, Amar Fernando, mengatakan pihaknya menyiapkan enam extra flight untuk melayani rute dengan permintaan tinggi seperti Jakarta, Padang, Palembang, Yogyakarta, Semarang, dan Lampung.
“Total sementara kami tambah enam extra flight. Untuk Jakarta dan Padang kami menambah jumlah penerbangannya, sedangkan beberapa rute lainnya ditambah frekuensi penerbangannya,” kata Amar, Selasa (10/3).
Menurutnya, tingkat keterisian kursi pada sejumlah rute sudah mulai meningkat menjelang hari raya. Untuk rute Palembang dan Padang, tingkat keterisian (load factor) bahkan telah mencapai sekitar 60 persen.
Sementara itu, kursi pada penerbangan menjelang puncak arus mudik mulai terbatas. Berdasarkan pemantauan maskapai, penerbangan pada H-2 dan H-1 Lebaran sudah mendekati penuh.
“Sekitar itu berdasarkan pantauan kemarin. Untuk H-2 dan H-1 Lebaran kursinya sudah hampir penuh. Namun angka ini bisa berubah karena pemesanan masih terus berjalan,” ujarnya.
Terkait harga tiket yang sempat dikeluhkan sebagian calon pemudik, Amar menegaskan maskapainya tetap mematuhi batas tarif tertinggi yang ditetapkan pemerintah. Harga tiket, menurutnya, bersifat dinamis mengikuti ketersediaan kursi.
“Tidak mungkin kami menjual di atas batas tarif atas. Penyesuaian harga tetap mengikuti ketentuan yang berlaku serta ketersediaan seat,” katanya.
Dalam kondisi normal, Lion Air Group mengoperasikan sekitar 25 penerbangan setiap hari dari dan menuju Batam. Selama periode Lebaran, jumlah tersebut diproyeksikan meningkat seiring penambahan penerbangan pada rute-rute dengan permintaan tinggi.
Direktur Utama PT Bandara Internasional Batam, Annang Setia Budhi, mengatakan pengelola bandara saat ini memfokuskan pengaturan operasional pada kelancaran pergerakan penumpang selama periode padat.
Menurutnya, koordinasi intensif dilakukan dengan maskapai, otoritas penerbangan, serta instansi terkait untuk memastikan jadwal tambahan penerbangan dapat berjalan tanpa mengganggu slot penerbangan reguler.
Selain itu, pengelola bandara juga melakukan penyesuaian operasional di area terminal, termasuk pengaturan alur penumpang dan kesiapan fasilitas layanan guna menghindari kepadatan pada jam-jam sibuk.
Di tengah upaya maskapai menambah kapasitas penerbangan, tingginya permintaan tiket tetap membuat sebagian warga Batam mulai mempertimbangkan moda transportasi lain seperti kapal penumpang maupun kapal RoRo sebagai alternatif perjalanan mudik. Kondisi ini menunjukkan arus mudik dari Batam tahun ini tidak hanya bertumpu pada jalur udara, tetapi juga mulai bergeser ke jalur laut bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan tiket pesawat. (***)
Reporter : M SYA’BAN – YASHINTA – EUSEBIUS SARA – ARJUNA – AZIS MAULANA – RENGGA YULIANDRA – YOFI YUHENDRI
Editor : RATNA IRTATIK