Buka konten ini

SINGAPURA (BP) – Nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar Singapura terus menguat. Meski begitu, kebiasaan warga Singapura berbelanja atau beraktivitas di Johor Bahru tampaknya belum banyak berubah.
Pada Oktober 2023, ketika Niki Lee dan pacarnya memutuskan menyewa apartemen di Johor Bahru, satu dolar Singapura masih bisa ditukar sekitar RM3,45. Bahkan sempat mencapai RM3,55.
Kini nilainya turun menjadi sekitar RM3,10. Sejumlah analis bahkan memperkirakan kurs itu bisa mendekati RM3 untuk satu dolar Singapura.
Bagi warga Singapura yang rutin melintasi perbatasan untuk bekerja, tinggal, atau sekadar berlibur, perubahan kurs ini terasa perlahan namun nyata. Namun sebagian besar mengaku dampaknya masih bisa ditoleransi.
Lee, penasihat keuangan berusia 31 tahun, mengatakan penguatan ringgit membuat pengeluaran bulanannya bertambah sekitar 200 dolar Singapura. Biaya tersebut mencakup sewa apartemen, cicilan mobil, serta kebutuhan harian di Johor yang kini mencapai sekitar RM5.700 atau sekitar 1.860 dolar Singapura.
Meski sempat kecewa ketika ringgit mulai menguat, Lee mengaku tidak terlalu khawatir. Menurutnya, dolar Singapura masih tergolong kuat dan perubahan pengeluaran lebih banyak terkait pengaturan anggaran.
Cerita serupa datang dari Samuel Ho, konsultan pendidikan berusia 30 tahun. Ia biasanya berkunjung ke Johor Bahru sekitar sebulan sekali bersama kekasihnya.
Dalam setiap kunjungan, Ho menghabiskan sekitar RM600 untuk transportasi, makanan, karaoke, hingga pijat. Ia memperkirakan penguatan ringgit hanya menambah sekitar 12 dolar Singapura untuk setiap perjalanan—jumlah yang menurutnya masih kecil.
Belanja Lintas Negara Tetap Tinggi
Data dari penyedia dompet digital multi-mata uang menunjukkan aktivitas belanja lintas negara tetap tinggi.
Perusahaan fintech Revolut mencatat penukaran dolar Singapura ke ringgit meningkat sepanjang 2025. Bahkan pada Januari 2026, volumenya naik hampir 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perusahaan tersebut menyebut belum ada tanda-tanda warga Singapura mengurangi pengeluaran mereka di Malaysia akibat penguatan ringgit.
“Aktivitas lintas negara tetap kuat. Pengguna masih menukar dana untuk perjalanan dan pembelian di Malaysia,” kata juru bicara Revolut.
Hal senada disampaikan platform pembayaran YouTrip. Kepala operasionalnya, Kelvin Lam, mengatakan volume transaksi maupun nilai rata-rata transaksi terus meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Lam, kurs sekitar RM3,30 per dolar Singapura menjadi semacam “angka psikologis” bagi banyak pengguna. Ketika kurs mendekati level tersebut, warga Singapura cenderung segera menukar uang.
“Ringgit yang lebih kuat tidak menghentikan orang Singapura pergi ke Malaysia. Mereka hanya menjadi lebih strategis,” ujarnya.
Sebagian pengguna bahkan tetap menukar uang meskipun kurs sedang tidak menguntungkan. Hal itu dipicu kekhawatiran bahwa nilai tukar bisa menjadi lebih buruk saat mereka benar-benar bepergian.
Mengapa Ringgit Menguat?
Analis menilai penguatan ringgit lebih dipengaruhi faktor global dibandingkan kinerja ekonomi domestik Malaysia semata.
Ekonom mata uang dari DBS, Philip Wee, mengatakan pergerakan kurs ringgit terhadap dolar Singapura lebih banyak dipengaruhi oleh prospek suku bunga Amerika Serikat.
Sementara itu, analis dari OCBC, Christopher Wong, menjelaskan bahwa ringgit cenderung lebih sensitif terhadap perubahan sentimen risiko global, pergerakan dolar AS, serta yuan China.
Di sisi lain, beberapa faktor domestik juga ikut mendukung penguatan ringgit. Kepala riset valas Maybank, Saktiandi Supaat, menyebut permintaan domestik yang kuat, investasi teknologi berbasis kecerdasan buatan, serta data ekonomi yang positif turut berperan.
Namun para analis mengingatkan bahwa tren ini bisa berubah dengan cepat jika kondisi ekonomi global kembali tidak stabil.
Ringgit Bisa Tembus RM3?
Maybank memperkirakan ringgit dapat menguat hingga 3,80 per dolar AS pada pertengahan 2026 sebelum kembali melemah sedikit ke kisaran 3,90–3,95.
Dengan proyeksi tersebut, nilai tukar dolar Singapura terhadap ringgit diperkirakan berada di kisaran RM3,00 hingga RM3,05 pada pertengahan tahun.
Bagi Lee, prediksi itu bukan hal yang terlalu mengkhawatirkan. Ia dan pasangannya bahkan sudah terbiasa menghitung pengeluaran dengan cara sederhana.
“Kami biasanya langsung membagi tiga saja supaya lebih aman. Kami tidak terlalu memikirkan angka desimalnya,” katanya. “ (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO