Buka konten ini
SINGAPURA (BP) – Konflik di Timur Tengah kian memanas. Kini bukan hanya menyasar target militer, tetapi juga infrastruktur energi kawasan. Dampaknya bisa langsung terasa hingga Asia, termasuk Singapura.
Konsumen dan pelaku usaha di Negeri Singa diperkirakan akan kembali menghadapi kenaikan harga bahan bakar setelah pekan lalu harga sudah lebih dulu melonjak. Jika gangguan pasokan energi dari Timur Tengah terus berlanjut, tarif listrik juga berpotensi ikut naik karena pembangkit listrik di Singapura sangat bergantung pada gas alam.
Eskalasi konflik terbaru membuat sejumlah fasilitas minyak dan LNG di negara-negara Teluk menjadi sasaran serangan. Iran dilaporkan menargetkan infrastruktur energi di Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Sebaliknya, Israel menyerang fasilitas minyak penting di Teheran.
Selain itu, terganggunya jalur pelayaran di Strait of Hormuz memperparah situasi. Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia itu menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Penutupan jalur tersebut membuat distribusi energi global terganggu.
Harga minyak dunia pun melonjak tajam. Patokan global Brent crude sempat menyentuh 119,50 dolar AS per barel pada 9 Maret. Angka itu melonjak sekitar 29 persen dibandingkan penutupan harga pada 6 Maret. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022, ketika harga minyak meroket setelah Rusia menginvansi Ukraina.
Analis menilai penurunan produksi minyak di kawasan Teluk tak terhindarkan. Sejumlah produsen disebut mulai kehabisan kapasitas penyimpanan karena distribusi minyak terganggu.
Perusahaan energi Abu Dhabi National Oil Company menyatakan telah mengaktifkan protokol darurat untuk melindungi pekerja, aset, dan operasional mereka. Sementara Kuwait Petroleum Corporation juga menurunkan produksi di ladang minyak dan kilang setelah muncul ancaman dari Iran terhadap keamanan kapal yang melintas di Selat Hormuz. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO