Buka konten ini

DI tengah meningkatnya ketegangan global akibat perang di Timur Tengah, United States dan South Korea tetap menggelar latihan militer gabungan berskala besar. Latihan tersebut dimulai Senin (9/3) dan melibatkan puluhan ribu personel.
Latihan yang diberi nama Freedom Shield itu dijadwalkan berlangsung hingga 19 Maret. Menurut Kepala Staf Gabungan militer Korea Selatan, sekitar 18 ribu tentara Negeri Ginseng akan ambil bagian dalam latihan tersebut. Sementara itu, US Forces Korea belum mengungkapkan jumlah pasti personel Amerika yang ikut serta.
Pelaksanaan latihan gabungan ini berlangsung di tengah spekulasi media Korea Selatan bahwa Washington sedang memindahkan sebagian aset militernya dari Korea Selatan ke Timur Tengah untuk mendukung operasi menghadapi Iran.
Pihak US Forces Korea pekan lalu menyatakan tidak akan memberikan komentar terkait pergerakan aset militer tertentu dengan alasan keamanan. Pejabat Korea Selatan juga enggan menanggapi laporan mengenai pemindahan sejumlah sistem pertahanan rudal Patriot Amerika ke Timur Tengah. Meski demikian, mereka menegaskan langkah tersebut tidak akan memengaruhi kesiapan pertahanan gabungan kedua negara.
Latihan Freedom Shield diperkirakan akan memicu reaksi keras dari North Korea. Selama ini, Pyongyang kerap menuduh latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan sebagai simulasi invasi. Tuduhan itu sering dijadikan alasan oleh Korea Utara untuk meningkatkan uji coba senjata dan demonstrasi militer.
Sebaliknya, Washington dan Seoul menegaskan bahwa latihan tersebut bersifat defensif.
Hubungan antara Korea Utara dengan AS dan Korea Selatan sendiri masih membeku sejak gagalnya pertemuan puncak antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden AS saat itu Donald Trump pada 2019.
Dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan semakin meningkat. Kim disebut memanfaatkan momentum Russian invasion of Ukraine untuk mempercepat pengembangan program nuklirnya sekaligus mempererat kerja sama militer dengan Russia. Moskow dilaporkan menerima ribuan tentara Korea Utara serta pasokan senjata untuk mendukung perang.
CNA menulis latihan Freedom Shield juga digelar setelah konferensi politik besar di Pyongyang bulan lalu. Dalam forum itu, Kim kembali menegaskan sikap keras terhadap Seoul yang ia sebut sebagai “musuh”. Namun, ia masih membuka peluang dialog dengan Washington, dengan syarat AS mencabut tuntutan denuklirisasi sebagai prasyarat perundingan.
Freedom Shield merupakan salah satu dari dua latihan “command post” tahunan yang digelar sekutu tersebut. Latihan lainnya adalah Ulchi Freedom Shield yang biasanya digelar pada Agustus.
Sebagian besar latihan dilakukan melalui simulasi komputer untuk menguji kemampuan operasi gabungan militer kedua negara dalam menghadapi berbagai skenario konflik dan tantangan keamanan terbaru.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, latihan Maret ini juga disertai latihan lapangan bernama Warrior Shield. Namun jumlah latihan lapangan tahun ini berkurang menjadi 22 kegiatan, jauh lebih sedikit dibandingkan 51 latihan pada periode yang sama tahun lalu.
Meski militer AS dan Korea Selatan menyebut latihan lapangan biasanya tersebar sepanjang tahun, muncul spekulasi bahwa pengurangan latihan musim semi dilakukan untuk membuka peluang dialog dengan Korea Utara.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dikenal mendorong pendekatan diplomasi. Beberapa pejabat pemerintah bahkan berharap rencana kunjungan Donald Trump ke China pada akhir Maret atau April mendatang dapat membuka peluang komunikasi baru dengan Pyongyang. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO