Buka konten ini

SINGAPURA (BP) – Peluang kerja bagi lulusan baru universitas di Singapura semakin menantang. Survei ketenagakerjaan lulusan terbaru menunjukkan penurunan jumlah fresh graduate yang berhasil mendapatkan pekerjaan penuh waktu, meskipun tingkat gaji awal masih bertahan.
Hasil Graduate Employment Survey yang dirilis 5 Maret menunjukkan, sebanyak 74,4 persen lulusan memperoleh pekerjaan penuh waktu pada 2025. Angka ini turun dibandingkan 79,4 persen pada 2024.
Meski demikian, jumlah lulusan yang masuk ke pasar kerja justru meningkat. Pada 2025, sebanyak 92,2 persen lulusan tercatat berada dalam angkatan kerja—baik sudah bekerja maupun masih aktif mencari pekerjaan. Angka ini naik dari 90,7 persen pada 2024.
Di sisi lain, median gaji bulanan kotor bagi lulusan yang berhasil mendapatkan pekerjaan penuh waktu tetap stabil di angka SGD 4.500 pada 2025, sama seperti tahun sebelumnya.
Survei juga mencatat semakin banyak lulusan yang melamar pekerjaan tetapi belum mendapat tawaran. Persentasenya naik menjadi 8,5 persen pada 2025, dari 5,7 persen pada 2024 dan 4,1 persen pada 2023.
Straits Times melaporkan jumlah lulusan yang bekerja paruh waktu atau sementara juga meningkat. Pada 2025, sebanyak 7,2 persen lulusan mengambil pekerjaan jenis ini, naik dari 6 persen pada 2024 dan 4,1 persen pada 2023.
Enam universitas lokal dalam pernyataan bersama menyebut pasar kerja mulai melambat dibandingkan masa pemulihan pascapandemi. Penurunan mobilitas tenaga kerja serta perekrutan yang lebih hati-hati turut memengaruhi jumlah lowongan.
“Hal ini mencerminkan sikap perusahaan yang lebih berhati-hati dalam merekrut pekerja di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik,” demikian pernyataan tersebut.
Meski begitu, peluang kerja bagi lulusan baru masih tersedia. Data dari Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan sekitar empat dari sepuluh lowongan entry-level berada di sektor yang terus berkembang, seperti jasa keuangan dan asuransi, serta layanan profesional.
Bidang pekerjaan yang banyak dibutuhkan antara lain petugas kepatuhan keuangan, analis risiko, hingga auditor.
Survei ini melibatkan sekitar 14.400 lulusan dari enam universitas di Singapura, yakni National University of Singapore, Nanyang Technological University, Singapore Management University, Singapore University of Technology and Design, Singapore Institute of Technology, dan Singapore University of Social Sciences.
Para lulusan disurvei pada 1 November 2025, sekitar enam bulan setelah mereka menyelesaikan ujian akhir.
Beberapa bidang studi tetap menunjukkan tingkat penyerapan kerja tinggi, seperti ilmu kesehatan, lingkungan binaan, serta teknologi informasi dan digital. Lulusan bidang teknologi informasi juga masih mencatat gaji awal tertinggi, yakni sekitar SGD 5.500 per bulan.
Ekonom Kepala OCBC Bank, Selena Ling, menilai penurunan lima poin persentase dalam penyerapan kerja penuh waktu bukan hal kecil. Hal itu menunjukkan persaingan kerja bagi lulusan baru semakin ketat.
Namun, ia menilai prospeknya belum tentu suram. “Hampir tiga dari empat lulusan masih berhasil mendapatkan pekerjaan, meski prosesnya mungkin membutuhkan waktu lebih lama,” ujarnya.
Menurut Ling, situasi ini dipengaruhi oleh kehati-hatian ekonomi serta perubahan struktural di pasar kerja, termasuk semakin banyak pekerjaan entry-level yang berpotensi digantikan otomatisasi dan kecerdasan buatan. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO