Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Jababeka memperkenalkan pengembangan kota wisata industri sebagai salah satu konsep baru dan strategi menghadapi tantangan deindustrialisasi dini yang mulai dirasakan sektor manufaktur nasional. Melalui pendekatan ini, kawasan industri tidak lagi hanya berfungsi sebagai pusat produksi, tetapi juga berkembang menjadi destinasi edukasi, promosi industri, dan wisata berbasis pengalaman.
Inisiatif tersebut digagas oleh pengembang kawasan PT Jababeka Tbk yang ingin mengintegrasikan kekuatan industri dengan potensi pariwisata berbasis manufaktur. Konsep kota wisata industri diharapkan mampu menciptakan nilai tambah baru bagi sektor industri sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Presiden Direktur PT Graha Buana Cikarang, Ivonne Anggraini, menjelaskan bahwa masa depan kawasan industri tidak lagi hanya berfokus pada aktivitas produksi semata. Menurutnya, kawasan industri perlu berkembang menjadi ruang pembelajaran, kolaborasi, dan inovasi yang mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan pelaku usaha.
“Pengembangan kota wisata industri merupakan bentuk komitmen kami untuk memperkuat revitalisasi manufaktur sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat, pelaku usaha, dan investor global,” ujar Ivonne di Jakarta, Jumat (6/3) dilansir propertynbank.
Ia menambahkan, transformasi kawasan industri menjadi destinasi wisata berbasis industri merupakan langkah strategis untuk memperluas fungsi industri dari sekadar pusat produksi menjadi pusat pengalaman dan pengetahuan. Dengan pendekatan tersebut, Jababeka berharap dapat memperkuat daya saing industri nasional di tengah perubahan ekonomi global yang semakin dinamis.
Ekosistem Kota Industri Global
Sebagai kota mandiri terintegrasi, Kota Jababeka telah berkembang menjadi kawasan hunian, industri, bisnis, dan pendidikan berskala global. Saat ini kawasan tersebut dihuni sekitar 1,2 juta penduduk dengan komunitas internasional yang terdiri dari lebih dari
10.000 ekspatriat.
“Keberagaman latar belakang masyarakat ini menciptakan ekosistem global yang dinamis sekaligus mendorong interaksi lintas budaya yang produktif bagi pertumbuhan ekonomi kawasan,” imbuh Ivonne Anggraini.
Di kawasan ini, sambungnya, juga beroperasi lebih dari 2.000 perusahaan nasional maupun multinasional. Keberadaan ribuan perusahaan tersebut membuka peluang lahirnya konsep wisata industri yang unik dan edukatif.
Didukung dengan hotel bintang 3 hingga bintang 5, transportasi dan aksesibilitas yang lancar serta pilihan transportasi umum yang cepat dan modern seperti Commuter Line (KRL) dan TransJakarta.
“Melalui konsep ini, masyarakat dapat berbelanja langsung dari pabrik, pelajar memperoleh kesempatan mempelajari proses produksi secara nyata, sementara investor dapat melihat secara langsung potensi bisnis dan ekosistem industri yang berkembang di kawasan tersebut,” ungkapnya.
Transformasi ini juga diperkuat melalui kolaborasi antara sektor industri global, pariwisata budaya, serta pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sinergi tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berdaya saing.
“Kami percaya bahwa industri yang kuat harus tumbuh bersama masyarakat di sekitarnya. Integrasi sektor industri, pariwisata, dan UMKM akan menciptakan perputaran ekonomi yang lebih inklusif serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat lokal,” tambah Ivonne. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI