Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas. Iran secara terbuka menolak tuntutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meminta Teheran menyerah tanpa syarat dalam konflik yang kini memasuki hari kedelapan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan tuntutan tersebut tidak realistis dan menyebutnya sebagai sekadar “mimpi”.
Pernyataan itu disampaikan dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Minggu (8/3).
Melansir The Guardian, Pezeshkian menolak keras tekanan Washington yang menjadikan penyerahan tanpa syarat sebagai syarat utama untuk mengakhiri perang.
“Musuh-musuh Iran harus membawa mimpi tentang penyerahan tanpa syarat rakyat Iran itu ke dalam kubur mereka,” kata Pezeshkian.
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, serta Amerika Serikat kini meluas ke sejumlah negara di kawasan Teluk. Serangan rudal dan drone dilaporkan terjadi di beberapa negara Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan, termasuk potensi gangguan terhadap pasokan energi global serta jalur penerbangan internasional.
Minta Maaf kepada Negara Teluk
Dalam pidato yang sama, Pezeshkian juga menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang terdampak serangan Iran selama konflik berlangsung. Pernyataan tersebut dinilai sebagai langkah yang jarang dilakukan oleh pemimpin Iran dalam situasi konflik militer.
“Saya secara pribadi meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak oleh tindakan Iran,” ujarnya.
Permintaan maaf itu muncul setelah sejumlah negara Teluk melaporkan serangan rudal dan drone dalam sepekan terakhir, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Beberapa negara tersebut diketahui menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pezeshkian juga menyebut dewan kepemimpinan sementara Iran memutuskan menangguhkan serangan terhadap negara-negara tetangga, kecuali jika serangan terhadap Iran berasal dari wilayah negara tersebut.
Trump Ancam Serangan Lebih Keras
Pernyataan Pezeshkian segera mendapat respons keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Melalui platform media sosial Truth Social, Trump memperingatkan Iran dapat menghadapi kehancuran total jika tidak memenuhi tuntutan Washington.
Trump menegaskan perang hanya dapat dihentikan apabila Iran menyerah tanpa syarat. Ia juga memperingatkan bahwa penolakan Teheran akan memicu eskalasi militer yang lebih besar.
Dalam unggahannya, Trump menulis bahwa jika Iran tidak menyerah, negara itu “akan dihantam oleh serangan yang sangat keras”.
Ia juga mengklaim permintaan maaf Iran kepada negara-negara Teluk menunjukkan bahwa tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel mulai memberikan dampak terhadap Teheran.
Di tengah perang yang terus memanas, Israel dilaporkan meluncurkan gelombang serangan udara baru terhadap Iran. Sekitar 80 jet tempur Israel disebut dikerahkan dalam serangan dini hari yang menargetkan sejumlah fasilitas militer penting di Teheran.
Salah satu target serangan adalah Bandara Internasional Mehrabad, salah satu bandara utama di ibu kota Iran. Foto dan rekaman video menunjukkan kobaran api besar serta asap tebal membumbung dari area bandara setelah serangan terjadi.
Iran juga melancarkan serangan balasan. Sirene peringatan serangan udara dilaporkan berbunyi di Yerusalem, sementara ledakan terdengar di sejumlah kota Teluk seperti Dubai dan Manama.
Uni Emirat Arab menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 15 rudal balistik serta 119 drone yang diluncurkan pada Sabtu (7/3).
Konflik Meluas di Timur Tengah
Konflik yang kini memasuki pekan kedua tersebut dipicu oleh serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Peristiwa itu memicu eskalasi militer besar yang kini meluas hingga Lebanon serta wilayah Laut Mediterania timur.
Israel juga meningkatkan serangan udara terhadap Lebanon, terutama di wilayah yang menjadi basis kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran.
Menurut laporan otoritas kesehatan Iran, sedikitnya ratusan warga sipil tewas dan ribuan lainnya terluka sejak konflik meletus. Sementara di Lebanon, ratusan korban jiwa juga dilaporkan akibat intensifikasi serangan udara Israel.
Dengan konflik yang terus meluas dan melibatkan sejumlah negara di kawasan, para pejabat Barat masih menilai apakah permintaan maaf Presiden Pezeshkian menandai upaya meredakan ketegangan atau sekadar langkah diplomatik sementara di tengah tekanan militer yang semakin besar.
Israel Serang Kilang Energi di Teheran
Israel melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas energi Iran pada Sabtu (7/3) malam. Serangan tersebut memicu ledakan besar dan kobaran api yang menerangi langit di atas Teheran serta kota Karaj di sekitarnya.
Melansir The New York Times, militer Israel menyerang beberapa fasilitas penyimpanan bahan bakar dan kompleks energi di Teheran yang disebut digunakan oleh angkatan bersenjata Iran.
Serangan itu menjadi yang pertama secara langsung menargetkan infrastruktur energi Iran sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap negara tersebut pada akhir pekan sebelumnya.
Sebelumnya, serangan gabungan kedua negara lebih banyak menyasar struktur kepemimpinan Iran, layanan keamanan, kantor polisi, serta kemampuan produksi dan peluncuran rudal.
Perubahan target ke fasilitas energi menunjukkan eskalasi baru yang berpotensi memperluas dampak konflik.
Media pemerintah Iran melaporkan kerusakan cukup luas di sekitar lokasi serangan. Rumah penduduk, toko, jalan raya, pipa air, hingga beberapa rumah sakit dan sekolah dilaporkan mengalami kerusakan akibat gelombang ledakan.
Kementerian Perminyakan Iran menyatakan beberapa depot penyimpanan minyak di Provinsi Teheran dan Alborz menjadi sasaran serangan. Tim pemadam kebakaran dan layanan darurat segera dikerahkan untuk mengendalikan kobaran api.
Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan pasokan energi nasional tetap aman karena sejumlah langkah antisipatif telah disiapkan sebelumnya.
Mayoritas Warga Eropa Tolak Serangan AS–Israel ke Iran
Sejumlah survei opini publik di Eropa menunjukkan mayoritas warga di beberapa negara menentang serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Jajak pendapat yang dirilis pekan lalu menunjukkan tren penolakan muncul di Spanyol, Italia, Jerman, hingga Inggris.
Di Spanyol, survei lembaga riset 40dB untuk surat kabar El Pais dan radio Cadena SER menemukan sekitar 68 persen responden menolak serangan AS–Israel terhadap Iran.
Sementara itu, 57 persen responden mendukung keputusan pemerintah Spanyol untuk tidak memberikan dukungan militer kepada kedua negara tersebut.
Di Italia, survei YouTrend untuk televisi Sky TG24 menunjukkan 56 persen responden menentang intervensi militer AS–Israel.
Di Jerman, survei lembaga penyiaran publik ARD mencatat 58 persen responden menilai perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran tidak dapat dibenarkan.
Sedangkan di Inggris, jajak pendapat YouGov menunjukkan 49 persen warga menentang serangan terhadap Iran, sementara 28 persen mendukungnya.
Hasil survei tersebut juga menunjukkan kekhawatiran luas masyarakat Eropa bahwa konflik tersebut dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih besar di Timur Tengah. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK