Buka konten ini

Foto kanan bawah, Evakuasi korban kapal tunda yang tenggelam di kawasan galangan Kapal PT ASL, Batuaji, Batam. Foto: Basarnas untuk Batam Pos
KECELAKAAN kerja kembali terjadi di kawasan galangan kapal PT ASL Marine Shipyard, Tanjunguncang, Batuaji, Batam. Sebuah kapal tunda (tugboat) TB ASL Mega terbalik saat memandu kapal tanker MV Kyparissia berbendera Malta, Jumat (6/3).
Peristiwa tersebut menewaskan tiga orang awak kapal, sementara dua lainnya berhasil selamat.
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam bersama Disnaker Provinsi Kepulauan Riau langsung turun ke lokasi kejadian pada Minggu (8/3) untuk meninjau kondisi di lapangan sekaligus berkoordinasi dengan pihak perusahaan dan instansi terkait.
Kepala Disnaker Kota Batam, Yudi Suprapto, mengatakan kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan kejadian berjalan dengan baik serta memperoleh informasi langsung dari lokasi kejadian.
“Pagi tadi kami dari Disnaker Kota Batam bersama Disnaker Provinsi turun langsung ke lokasi kejadian di ASL untuk melihat kondisi di lapangan sekaligus berkoordinasi dengan pihak perusahaan dan instansi terkait,” ujarnya.
Berdasarkan informasi sementara yang dihimpun, kecelakaan terjadi saat kapal tugboat tersebut melakukan kegiatan shifting atau pemindahan posisi kapal dari satu titik sandar ke titik lainnya di area galangan.
Dalam proses tersebut kapal diduga kehilangan keseimbangan dan terbalik dalam waktu yang sangat cepat.
“Informasi sementara, kapal sedang melakukan shifting atau pemindahan posisi kapal. Dalam proses itu kapal tiba-tiba kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terbalik,” jelasnya.
Saat kejadian, kondisi cuaca di sekitar lokasi dilaporkan kurang bersahabat. Hujan disertai angin kencang serta arus laut yang cukup kuat diduga memengaruhi situasi saat proses pemindahan kapal berlangsung.
Akibat insiden tersebut, tiga awak kapal dilaporkan meninggal dunia karena diduga terjebak di dalam badan kapal. Sementara dua awak lainnya berhasil menyelamatkan diri.
Salah satu korban sebelumnya sempat dinyatakan hilang sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat oleh tim SAR.
Korban selamat kini telah mendapatkan penanganan medis, salah satunya dirawat di RS Mutiara Aini Batuaji.
Menurut Yudi, berdasarkan data dari perusahaan dan tim di lapangan, seluruh awak kapal yang berada di tugboat tersebut telah teridentifikasi sehingga tidak ada lagi kemungkinan korban lain.
“Dari data yang kami terima, seluruh awak kapal sudah teridentifikasi, sehingga tidak ada lagi kemungkinan korban lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, perusahaan penyedia awak kapal, PT Pradana Samudra Lines, telah menyatakan bertanggung jawab atas insiden tersebut dengan memberikan santunan serta memenuhi hak-hak keluarga korban sesuai ketentuan yang berlaku.
“Perusahaan telah menyampaikan komitmennya untuk memberikan santunan serta pemenuhan hak-hak kepada keluarga korban sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Yudi.
Disnaker Kota Batam, lanjutnya, akan terus memantau perkembangan penanganan kasus tersebut serta berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait.
“Saat ini proses penanganan masih berlangsung dan kita menunggu hasil investigasi dari pihak yang berwenang,” tutupnya.
Serikat Pekerja Desak ASL Ditutup
Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Logam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PC SPL FSPMI) Kota Batam, Suprapto, meminta pemerintah menutup sementara PT ASL menyusul kembali terjadinya kecelakaan kerja di perusahaan tersebut.
Permintaan itu disampaikan setelah insiden tenggelamnya kapal tugboat TB ASL Mega yang menewaskan tiga awak kapal.
“Perusahaan ini harus ditutup dan dilakukan perbaikan secara menyeluruh,” ujarnya, Minggu (8/3).
Menurutnya, langkah penutupan perusahaan dinilai sejalan dengan pernyataan Menteri Ketenagakerjaan RI, Yassierli, saat melakukan kunjungan sebelumnya ke Batam. Dalam kunjungan tersebut, Menaker menyoroti banyaknya korban jiwa akibat kecelakaan kerja di PT ASL.
“Ini belum sampai 10 hari sejak kunjungan beliau, sudah terjadi lagi kecelakaan kerja,” katanya.
Suprapto menilai berulangnya insiden kecelakaan kerja tersebut menunjukkan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap penerapan sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
“Ini menjadi bukti kegagalan pemerintah dalam mengawasi pelaksanaan sistem K3 di perusahaan itu,” tegasnya.
Ia juga mengaku pihak serikat pekerja telah berulang kali memberikan masukan terkait persoalan keselamatan kerja di perusahaan tersebut.
“Kami sudah memberikan berbagai masukan. Ini harus menjadi perhatian serius. Perbaiki sistem pengawasan pemerintah,” ujarnya.
Menaker Pernah Ancam Tutup ASL
Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan RI, Yassierli, juga telah memberikan peringatan keras kepada manajemen PT ASL menyusul serangkaian kecelakaan kerja di perusahaan tersebut.
Dalam video yang diunggah melalui akun resmi Instagram Kementerian Ketenagakerjaan @kemenaker, Yassierli menegaskan perusahaan wajib menindaklanjuti seluruh temuan pemerintah terkait keselamatan kerja.
“Kalau ada kejadian lagi, saya akan rekomendasikan tutup ini (PT ASL),” katanya saat sidak ke perusahaan tersebut, bulan Februari lalu.
Ia menyoroti banyaknya korban jiwa akibat kecelakaan kerja di perusahaan tersebut yang disebut mencapai puluhan orang.
“Miris tidak kita, nyawa pekerja hilang. Mereka berangkat kerja, keluarga menunggu pulang. Tetapi karena lingkungan kerja dan sistem yang tidak diperhatikan, dampaknya fatal,” ujarnya.
Dalam inspeksi tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan menemukan tujuh persoalan utama yang harus segera diperbaiki perusahaan.
Yassierli menegaskan keselamatan kerja bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan menyangkut nyawa pekerja.“Ini menyangkut nyawa manusia, nyawa pekerja kita. Kalau tidak ditindaklanjuti, kami tidak segan memberikan sanksi,” tegasnya.
KSOP Fokus Evakuasi dan Pengawasan
Sementara itu, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam juga terus memantau penanganan insiden tersebut.
Kepala KSOP Khusus Batam, M. Takwim Masuku, mengatakan pihaknya memprioritaskan evakuasi korban serta memastikan tidak terjadi pencemaran di sekitar lokasi kejadian.
“Kami memastikan tidak ada pencemaran di sekitar galangan dan menjaga keselamatan pelayaran kapal yang melintas di area tersebut,” ujarnya.
KSOP juga mengerahkan kapal patroli KNP 376 dan RBB RB-002 untuk membantu proses evakuasi sekaligus melakukan pengamanan di sekitar lokasi kejadian.
Adpaun, dalam insiden tersebut tiga awak kapal dilaporkan meninggal dunia, yakni Abdul Rahman, 59, nakhoda, warga Tiban, Batam; Guntur Pardede, 59, chief officer, warga Tiban Lama, Batam; dan Jhonson Bertuahman, 47, kepala kamar mesin (KKM), warga Tembesi, Batam.
Sementara, dua awak kapal lainnya selamat, yakni M. Habib Anyari, 20, chief engineer, asal Langkat dan Yusup Tangkin, 57, second engineer, asal Samarinda.
Perusahaan Tanggung Santunan Korban
Manajemen PT Pradana Samudra Lines memastikan akan menanggung seluruh santunan, asuransi, hingga biaya pemakaman korban.
Manajer Agensi PT Pradana Samudra Lines, Moh. Fatur Akbar, mengatakan perusahaan bertanggung jawab penuh terhadap para kru yang menjadi korban.
“Kami memberikan santunan, mengeluarkan asuransi, serta menanggung seluruh biaya pemakaman sampai proses selesai,” ujarnya.
Ia menegaskan para kru memiliki hubungan kerja langsung dengan perusahaan penyedia awak kapal tersebut.
“Kami adalah manajemen kru. Para kru memiliki kontrak kerja langsung dengan perusahaan kami,” katanya. (***)
Reporter : EUSEBIUS SARA – RENGGA YULIANDRA – M. SYA’BAN – ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK