Buka konten ini

Bulan Ramadan sering menimbulkan pertanyaan bagi sebagian ibu hamil: apakah aman menjalani puasa? Di satu sisi, banyak yang ingin tetap beribadah seperti biasa, namun di sisi lain kondisi kesehatan ibu dan janin menjadi pertimbangan utama. Lalu, sebenarnya bolehkah ibu hamil ikut berpuasa, dan apa saja hal yang perlu diperhatikan agar tetap aman?

DOKTER Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Nola Yolanda, SpOG, menjelaskan bahwa pada dasarnya ibu hamil tidak dilarang untuk menjalankan puasa. Namun, keputusan tersebut tetap harus mempertimbangkan kondisi kesehatan ibu dan perkembangan janin. “Ibu hamil sebenarnya boleh saja berpuasa, tetapi ada syaratnya. Kondisi kesehatan ibu dan janin harus dipastikan terlebih dahulu melalui pemeriksaan,” ujar dr. Nola dalam live instagram halloawalbros tema Ibu Hamil ikut puasa, boleh gak ya?, Kamis (5/3).
Menurutnya, setiap kehamilan memiliki kondisi yang berbeda. Ada ibu hamil yang tetap kuat dan tidak mengalami keluhan berarti, tetapi ada juga yang mengalami keluhan cukup berat sehingga tidak dianjurkan untuk berpuasa.
Perhatikan Usia Kehamilan
Salah satu hal yang perlu diperhatikan sebelum ibu hamil memutuskan berpuasa adalah usia kehamilan. Dalam dunia medis, kehamilan dibagi menjadi tiga trimester atau tiga fase.
Pada trimester pertama, yaitu usia kehamilan hingga sekitar 13 minggu, sebagian besar ibu hamil biasanya mengalami keluhan seperti mual dan muntah. Kondisi tersebut disebabkan oleh meningkatnya hormon kehamilan.
“Jika pada trimester pertama ibu mengalami mual dan muntah yang cukup berat, sebaiknya tidak dipaksakan untuk berpuasa. Kondisi tersebut dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan atau dehidrasi,” jelasnya.
Namun, apabila ibu hamil pada trimester pertama tidak mengalami keluhan berarti dan kondisi kesehatan dinyatakan baik oleh dokter, maka puasa masih memungkinkan untuk dijalankan.
Memasuki trimester kedua, yakni usia kehamilan sekitar 14 hingga 28 minggu, kondisi ibu hamil biasanya mulai lebih stabil. Keluhan mual dan muntah umumnya sudah berkurang sehingga banyak ibu hamil yang merasa lebih nyaman menjalani aktivitas sehari-hari.
“Pada trimester kedua ini biasanya kondisi ibu lebih tenang secara klinis. Jika tidak ada komplikasi kehamilan, ibu boleh berpuasa dengan tetap memperhatikan asupan nutrisi,” kata dr. Nola.
Sementara itu, pada trimester ketiga atau usia kehamilan di atas tujuh bulan, kebutuhan nutrisi dan cairan ibu hamil akan meningkat seiring dengan perkembangan janin yang semakin besar. Karena itu, ibu hamil perlu kembali mempertimbangkan kondisi tubuh sebelum memutuskan untuk berpuasa.

Atur Pola Makan dan Cairan
Bagi ibu hamil yang diperbolehkan menjalankan puasa, pola makan dan asupan cairan menjadi hal yang sangat penting. Puasa bukan berarti mengurangi kebutuhan nutrisi, melainkan hanya mengubah waktu makan.
“Ibu hamil tetap harus memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Perbedaannya hanya pada pengaturan waktu makan, yaitu saat berbuka hingga sahur,” ujarnya.
Kebutuhan cairan bagi ibu hamil berkisar antara dua hingga dua setengah liter per hari. Jumlah tersebut setara dengan sekitar delapan hingga sepuluh gelas air.
Cairan tersebut dapat dibagi dalam beberapa waktu, misalnya satu hingga dua gelas saat berbuka, dua gelas setelah makan malam, dua gelas sebelum tidur, dan dua gelas lagi saat sahur.
Selain cairan, ibu hamil juga disarankan mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Makanan yang dianjurkan antara lain karbohidrat kompleks seperti nasi atau beras merah, sumber protein seperti ikan, daging, telur, tahu, dan tempe, serta sayur dan buah yang kaya vitamin dan serat.
“Ibu hamil juga tetap perlu mengonsumsi vitamin yang diberikan dokter, seperti asam folat, vitamin D, atau kalsium,” tambahnya.
Tanda Ibu Hamil Harus Membatalkan Puasa
Meski telah mendapatkan izin untuk berpuasa, ibu hamil tetap harus memperhatikan kondisi tubuh selama menjalankan ibadah tersebut. Jika muncul tanda-tanda tertentu, puasa sebaiknya segera dihentikan.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain mual dan muntah yang berlebihan, tubuh terasa sangat lemas, pusing, hingga pingsan. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa tubuh mengalami kekurangan cairan atau energi.
Selain itu, ibu hamil juga perlu memperhatikan gerakan janin, terutama pada usia kehamilan di atas empat bulan. Jika gerakan janin terasa berkurang dari biasanya, ibu disarankan segera membatalkan puasa dan memeriksakan diri ke dokter.
“Jangan memaksakan diri. Jika tubuh sudah memberikan sinyal tidak kuat, lebih baik puasa dihentikan dan segera dilakukan pemeriksaan,” tegasnya.
Setiap Ibu Hamil Memiliki Kondisi Berbeda
dr. Nola mengingatkan bahwa kondisi setiap ibu hamil tidak selalu sama. Ada yang dapat menjalani puasa dengan lancar tanpa keluhan berarti, tetapi ada pula yang harus lebih berhati-hati karena memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Oleh karena itu, keputusan untuk berpuasa sebaiknya tidak diambil secara sepihak tanpa konsultasi dengan tenaga medis.
Dengan pemeriksaan yang tepat serta pengaturan pola makan yang baik, ibu hamil tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman. Namun yang terpenting, kesehatan ibu dan janin tetap harus menjadi prioritas utama selama masa kehamilan.
Puasa bagi ibu hamil dapat dilakukan dengan aman jika kebutuhan cairan dan nutrisi terpenuhi. Menurut dr. Nola, pemenuhan cairan, nutrisi seimbang, dan vitamin merupakan kunci utama agar ibu tetap sehat dan janin berkembang optimal.
“Selama ibu memenuhi kebutuhan cairan dari berbuka hingga sahur, mengonsumsi makanan sehat yang tinggi protein, karbohidrat cukup, sayur, dan vitamin, maka puasa tidak akan berdampak negatif terhadap janin,” jelas dr. Nola.
Namun, ia menambahkan, beberapa kondisi ibu hamil perlu pengawasan ketat. “Bagi ibu dengan risiko tinggi seperti preeklampsia, diabetes gestasional, atau hipertensi, harus dipantau sebelum dan selama berpuasa. Karena gangguan aliran nutrisi dari ibu ke janin dapat memengaruhi pertumbuhan bayi,” ujar dr. Nola.
Anemia dan Dampaknya pada Puasa
Anemia masih menjadi masalah yang umum di Indonesia. dr. Nola menjelaskan bahwa ibu hamil dengan anemia ringan masih bisa berpuasa dengan pengawasan medis. “Kita akan memantau aliran darah ke janin. Selama masih bagus, puasa bisa dilakukan. Namun, anemia sedang hingga berat tidak dianjurkan karena ibu dan janin sudah mengalami kekurangan nutrisi,” ungkapnya.
Program pemeriksaan HB (hemoglobin) gratis di puskesmas menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi anemia sejak awal kehamilan. “Ini membantu kami menentukan apakah ibu bisa berpuasa atau perlu pengobatan lebih dulu,” kata Dr. Nola.
Tips Berpuasa bagi Ibu Hamil
dr. Nola memberikan beberapa tips penting agar ibu hamil tetap sehat saat berpuasa:
– Penuhi Nutrisi dan Cairan
– Makanan berbuka dan sahur harus mengandung protein, karbohidrat, sayur, dan vitamin.
– Vitamin wajib seperti asam folat, vitamin B kompleks, dan kalsium harus dikonsumsi untuk mendukung pembentukan organ janin, terutama pada trimester pertama.
– Aktivitas Ringan dan Peregangan
– Ibu hamil dianjurkan bergerak ringan setiap 2–3 jam, seperti berjalan santai atau peregangan.
– Hindari duduk atau berbaring terlalu lama agar sirkulasi darah tetap lancar.
– Istirahat Cukup
– Tidur dan istirahat yang cukup sangat penting, terutama pada trimester kedua dan ketiga.
Pentingnya Konsultasi dengan Dokter
Sebelum memutuskan untuk berpuasa, ibu hamil disarankan berkonsultasi minimal satu minggu sebelumnya. Hal ini penting untuk memastikan kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik.
“Dalam kehamilan ada dua yang harus kita perhatikan, yaitu kondisi ibu dan kondisi janin. Walaupun ibunya merasa kuat, tetapi jika kondisi janin tidak memungkinkan, maka puasa sebaiknya tidak dilakukan,” jelasnya.
Selain itu, pemeriksaan juga bertujuan untuk mengetahui apakah ibu memiliki faktor risiko tertentu, seperti tekanan darah tinggi, anemia, atau kadar gula darah yang tinggi. Jika terdapat kondisi tersebut, ibu hamil biasanya tidak dianjurkan untuk berpuasa karena dapat meningkatkan risiko bagi kesehatan.
“Kami akan memeriksa kondisi ibu dan janin, termasuk faktor risiko seperti anemia, diabetes, dan hipertensi. Jika kondisi memungkinkan, puasa diperbolehkan, tetapi bila risiko tinggi, ibu akan kami edukasi untuk tidak berpuasa,” jelas dr. Nola.
Pantau kondisi tubuh, kenali tanda lemas berbahaya, seperti pingsan atau tidak mampu berdiri. Bila muncul gejala ini, puasa harus segera dihentikan dan konsultasi ke dokter dilakukan.
Beberapa kondisi khusus memerlukan perhatian ekstra:
– Diabetes Gestasional
Puasa dapat menyebabkan fluktuasi gula darah yang berbahaya bagi ibu dan janin. “Kondisi hipoglikemia atau hiperglikemia dapat terjadi, yang berisiko pada kematian janin jika gula darah naik turun drastis. Konsultasi wajib dilakukan sebelum puasa,” tegas Dr. Nola.
– Hipertensi atau Preeklampsia
Ibu dengan hipertensi yang tidak terkontrol memiliki risiko bayi lahir kecil. “Aliran dari ibu ke janin terganggu sehingga pertumbuhan janin dapat terhambat. Pengawasan ketat tetap diperlukan meskipun ibu berpuasa atau tidak,” tambahnya.
dr. Nola menjelaskan bahwa puasa dapat memberikan efek positif jika dilakukan dengan benar:
– Tubuh lebih rileks dan racun-racun dalam tubuh dapat dikeluarkan
– Ibu merasa lebih sehat dan tenang.
– Pertumbuhan janin tetap optimal jika nutrisi terpenuhi sejak awal kehamilan.
“Persiapan sejak awal sangat penting. Jika nutrisi janin kurang dari awal, meski setelah lahir diberi makanan bergizi, beberapa aspek pertumbuhan seperti otak dan sistem imun bisa kurang optimal. Oleh karena itu, pemantauan sejak awal kehamilan sangat menentukan,” ujar dr Nola.
Puasa bagi ibu hamil aman bila nutrisi dan cairan terpenuhi, vitamin dan suplemen dikonsumsi sesuai anjuran dokter. Aktivitas disesuaikan, cukup bergerak ringan, dan istirahat memadai. Pemeriksaan medis dilakukan, terutama bagi ibu dengan risiko tinggi.
“Dengan persiapan dan pantauan yang tepat, puasa tidak hanya aman bagi ibu, tetapi juga mendukung kesehatan dan pertumbuhan optimal janin,”kata dr Nola. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY