Buka konten ini

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember
GUGURNYA Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel menandai babak baru yang paling dramatis dalam sejarah konflik Timur Tengah. Bila selama ini perang berfokus pada Israel vs Palestina, perang kini beralih pada Iran.
Perundingan pembatasan nuklir dengan Iran, meski ada kemajuan berarti, dalam konteks ini hanya simbolis. Sebab, sebenarnya Presiden AS Donald Trump sudah ngebet untuk menyerang Iran.
Secara geopolitik, AS memandang Iran selama puluhan tahun sebagai ’’duri terakhir’’ bagi dominasi penuh AS-Israel di Timur Tengah setelah Iraq, Libya, dan Syria melemah.
Revolusi 1979 yang menggulingkan Shah Reza Pahlevi, sekutu utama Washington, masih menjadi trauma strategis bagi AS. Ambisi geopolitik dan kepentingan energi tetap menjadi latar belakang konflik yang tak pernah benar-benar padam.
Sementara Israel –yang memang sejak dulu melihat ancaman utama bagi eksistensi mereka adalah Iran– mendapatkan apa yang disebut pucuk dicinta ulam tiba. Lobi-lobi Israel di AS, yang sering disebut lebih tahu kepentingan Israel daripada Israel sendiri, sejak dulu mendorong AS untuk menyerbu Iran.
Namun, kini pertanyaan yang menghantui banyak orang adalah apakah Iran dapat bertahan dari gempuran koalisi adikuasa AS dan kekuatan regional Israel? Apakah gugurnya Khamenei bakal menurunkan moral rakyat Iran? Orang juga khawatir akan dampak global ekonomi maupun politik apabila ternyata perang berkepanjangan.
Bukan Figur Tunggal
Pada tahap awal ini, bagi Washington dan Tel Aviv, gugurnya Khamenei mungkin dipandang sebagai pencapaian strategis, sebuah pukulan telak yang diharapkan melumpuhkan moral Iran dan mempercepat akhir perang. Namun, sejarah kawasan itu mengajarkan satu hal: menjatuhkan seorang pemimpin tidak selalu berarti menjatuhkan sebuah rezim.
Strategi ’’memenggal kepala’’ (decapitation strategy) kerap diasumsikan efektif apabila loyalitas pengikut bertumpu pada figur tunggal. Dalam sejumlah konflik, kematian atau penangkapan panglima memang memicu disorientasi. Namun, Iran berbeda dengan banyak negara lain. Republik Islam bukan sekadar rezim personalistik, melainkan sistem ideologis dengan jaringan kekuasaan yang tertanam kuat, Revolutionary Guard (IRGC), ulama senior, dan lembaga-lembaga revolusi.
Perbandingan dengan Venezuela atau Iraq tidak sepenuhnya relevan. Presiden Venezuela Nicolas Maduro mudah ditaklukkan. Dia mungkin punya para loyalis, tetapi mereka merasa tidak perlu berkorban sia-sia melawan kekuatan AS. Di Iraq, Saddam Hussein memimpin negara dengan struktur kekuasaan yang terfragmentasi dan oposisi internal yang kuat.
Di Iran, oposisi terhadap rezim memang ada. Namun, mereka semua berada dalam kerangka sistem politik Iran. Sementara alternatif rezim, keturunan Shah Iran, belum menunjukkan kapasitas konsolidasi politik yang mampu mengambil alih kekuasaan secara cepat. Justru dalam banyak kasus, ancaman eksternal sering memperkuat solidaritas internal.
Walau tanpa dukungan militer langsung dari negara-negara lain, Iran tetap menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka tidak akan menyerah dan para pemimpinnya kompak melawan. Meski kekuatan Iran tentu saja di bawah AS yang berkoalisi dengan Israel, tidak ada orang yang berani meramalkan bahwa perang akan cepat selesai.
Peta Kekuatan
Untuk beberapa bulan, Iran menunjukkan mereka memiliki cukup kekuatan senjata untuk bertahan atau menyerang. Mereka memiliki sekitar 610.000 tentara, lebih besar daripada Israel yang hanya 100-an ribu. Iran juga memiliki ribuan misil dan produksi drone yang luas. Secara geografis, wilayah Iran cukup luas sehingga musuh susah menyerang dengan tepat.
Selain itu, Iran memiliki banyak proxy dan sekutu seperti Hizbullah di Lebanon serta milisi di Iraq dan Yaman. Walaupun, mereka punya kelemahan seperti teknologi pesawat perang yang ketinggalan zaman, ekonomi yang melemah karena sanksi, dan industri tingginya jauh tertinggal dari Israel dan AS.
Sementara koalisi AS-Israel punya jet tempur canggih (seperti F-35 dan F-22), amunisi presisi, serta pertahanan udara dan rudal berlapis. Mereka juga unggul di udara dan intelijen serta memiliki koordinasi yang kuat antara jaringan tempur dan logistik AS dan Israel.
Para analis memperkirakan operasi udara berkelanjutan AS dan Israel dapat dipertahankan selama beberapa minggu, mungkin 4–6 minggu sebelum logistik dan tujuan perlu dinilai ulang. Iran dapat melanjutkan beberapa bentuk perlawanan, perang tidak teratur, pembalasan proksi, serangan rudal, bahkan setelah kekuatan konvensional melemah.
Satu hal yang pasti, Iran tahu bahwa mereka berada di pihak yang benar secara hukum internasional maupun etika perang. Mereka adalah pihak yang dizalimi oleh kekuatan besar AS dan Israel yang sewenang-wenang. Mereka tidak mau tunduk dan dijajah negara lain. (*)