Buka konten ini

Guru Besar di Departemen Administrasi Publik FISIP Universitas Airlangga
SALAH satu pekerjaan rumah (PR) yang belum pernah dituntaskan pemerintah adalah inflasi, khususnya dalam bulan Ramadan. Inflasi terus berulang ditandai harga-harga bahan pokok yang menjulang tinggi. Klaim pemerintah klise, yakni stok komoditas aman. Kenyataannya, harga bahan pokok di pelbagai daerah naik.
Harga bawang merah, misalnya, menjadi Rp 41.535/kg alias naik 26,38 persen (yoy). Cabai merah Rp 81.443/kg (naik 22,18 persen); diikuti daging ayam ras Rp 41.184/kg (15,84 persen); dan telur ayam ras Rp 30.906/kg (7,40 persen). Kenaikan harga kebutuhan harian berdampak pada masyarakat berpenghasilan tetap. Alhasil, saat Ramadan, warga tak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan belanja di tengah meningkatnya kebutuhan.
Lonjakan harga kebutuhan itu sejalan dengan data BPS awal 2026 yang menunjukkan inflasi cenderung naik yang dipicu kenaikan harga energi dan pangan. Warga menanggung beban berat berupa penurunan daya beli. Dengan pendapatan konstan, kenaikan harga menyulut uang hanya mampu membeli barang dalam jumlah lebih sedikit.
Kenaikan Demand
Pemerintah diharapkan hadir di tengah derita warga untuk berfokus menyelesaikan masalah berbasis faktor determinan inflasi. Umumnya, inflasi disebabkan kenaikan permintaan (demand) secara drastis. Meski berpuasa, masyarakat cenderung konsumtif membeli pangan dan kebutuhan lain dalam jumlah melampaui bulan-bulan biasa. Warga berduyun membeli gula, daging, telur, dan minyak goreng. Selera pedas pun memicu lonjakan permintaan cabai. Perilaku umat yang sedang berpuasa tampak jor-joran menambah menu buka puasa yang beragam sekadar untuk melepas lapar dan dahaga.
Faktor lain adalah sisi kemampuan pemerintah. Kapasitas pemerintah dalam tata kelola distribusi bahan pangan acap mengganggu pasokan (supply). Dengan permintaan yang sangat tinggi, ternyata stok tak cukup sehingga harga menjulang tinggi. Persoalan bertambah parah tatkala muncul hambatan distribusi sehingga biaya pengiriman menjadi lebih tinggi. Akhirnya, kenaikan harga pangan atau kebutuhan pokok lain tak terhindarkan.
Selain itu, inflasi dapat disebabkan perilaku bermain api para pedagang di pasar. Pedagang dengan seenaknya menaikkan harga komoditas berdasar perkiraan akan naiknya permintaan. Pedagang berasumsi bahwa masyarakat yang sebagian beragama Islam bakal membeli kebutuhan dalam jumlah lebih besar ketimbang saat-saat sebelumnya.
Sah-sah saja dalam dunia bisnis melakukan profit taking. Namun, mentalitas pedagang itu harus dipahami sebagai pemicu tingginya laju inflasi. Bagi pedagang, Ramadan adalah momentum untuk meraup keuntungan, tetapi masyarakat justru menjadi korbannya.
Perilaku pedagang meraih untung diperparah munculnya mental spekulan. Di beberapa kejadian, kenaikan harga pangan dipengaruhi perilaku spekulasi pasar. Caranya, para pedagang atau pelaku usaha menahan stok barang sementara waktu untuk tidak dijual di pasar. Diharapkan, harga akan lebih tinggi tatkala ada lonjakan permintaan seperti saat Ramadan.
Meski pemerintah acap melakukan pengawasan dan penindakan, praktik spekulasi masih terjadi dalam skala tertentu. Aksi pemerintah melalui Kementerian Perdagangan, misalnya, sangat dibutuhkan dalam mengatasi spekulan seraya menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar.
Operasi Pasar
Kenaikan harga berbagai komoditas dapat diupayakan secara preventif melalui pengawasan terhadap tata kelola perdagangan yang lebih transparan. Pemerintah pun harus mampu mendegradasi intensitas spekulan melalui aksi kuratif berupa operasi pasar. Langkah kuratif ini juga bersifat intervensional yang sistematis dan masif agar hasilnya tak sekadar sesaat, tetapi juga berkelanjutan.
Masyarakat dapat menghela napas lega karena adanya operasi pasar murah yang menyasar warga miskin atau berpenghasilan terbatas. Dengan operasi pasar, warga memperoleh kebutuhan dengan harga terjangkau. Intervensi pasar harus menjamin target pembeli secara tepat, yakni masyarakat kelas bawah. Pemerintah harus memastikan operasi pasar diketahui semua warga melalui diseminasi informasi lebih intensif agar semua pihak mendapat kesempatan yang sama.
Sementara itu, layanan pemerintah yang terkesan lip service harus dihindari dengan menunjukkan intervensi pasar yang bersifat substansial, bukan sekadar retorik. Operasi pasar bukan kebijakan omon-omon yang jauh dari harapan masyarakat.
Operasi pasar dinilai sukses mengatasi kenaikan harga jika mampu membuat harga kebutuhan lebih stabil. Stabilitas harga bahan pokok terkait erat dengan upaya menjaga kemampuan daya beli masyarakat, khususnya kelompok rentan dengan pendapatan terbatas.
Operasi pasar yang sukses juga memastikan ketersediaan suplai komoditas dalam jumlah cukup, tepat sasaran, waktu, maupun lokasinya. Kesuksesan operasi pasar juga ditandai penurunan laju inflasi. Secara psikologis, operasi itu juga dapat mengurangi keresahan warga yang dalam tahap tertentu berada dalam posisi panic buying, baik di pasar tradisional maupun di tingkat pedagang eceran lainnya.
Pemerintah harus berani mengambil tindakan tegas bagi spekulan yang berlaku culas dengan menimbun barang demi meraup keuntungan secara tak wajar. Ketegasan regulator dapat menuntaskan PR yang tak pernah usai, yakni inflasi akibat kenaikan harga komoditas. (*)