Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Megawati Hangestri Pertiwi cukup optimistis untuk menghadapi final four Proliga musim 2026. Di fase reguler, Jakarta Pertamina Enduro (JPE) berada di peringkat kedua dengan 24 poin. JPE berada di bawah Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia dengan 29 poin. Sedangkan posisi ketiga ditempati Jakarta Electric PLN (21) dan Jakarta Popsivo Polwan (20).
Pemain berposisi opposite hitter itu berharap dapat hasil terbaik di final four yang bakal memainkan pekan pertamanya di Jawa Pos Arena Surabaya pada 3-5 April. Terkait evaluasi, dia mengakui banyak kekurangan. “Belajar dari kesalahan yang lalu. Tak boleh puas dan harus perbaiki semuanya,” katanya saat diwawancarai di GOR Simprug Jakarta, Selasa (3/3).
Termasuk ketika melawan Petro -sebutan Gresik Phonska- di pertandingan terakhir. Mereka bermain kurang optimal dengan kekalahan tiga game langsung (20-25, 20-25, 17-25). Megatron -sapaannya- menegaskan, tim tak boleh berpatok dari satu pemain saja.
“Kalau pun satu orang yang bagus, kalau yang lain nggak bagus juga nggak bisa. Kalau satu orang pun yang nggak bagus, tapi yang lain bisa menutupinya ya itu bagus juga, di lapangan kayak gitu,” tambahnya.
Pelatih JPE Bulent Karslioglu menambahkan, di waktu sisa dia fokus membenahi teknik dan fisik. “Dan setelah itu kami coba dengan bola, organisasi, untuk pertandingan kami mengubah sesuatu dan sekarang kita fokus ke pertempuran akhir di final four,” katanya.
Terkait kans pergantian dua legiun asing, Bulent menegaskan cukup puas dengan yang dimilikinya saat ini. Yaitu Yana Shcherban (Rusia) dan Wilma Salas (Kuba). “Kami punya dua orang luar biasa, kenapa kita harus berubah setiap kali? Kita perlu bekerja lebih banyak, kita harus menjadi tim yang bagus. Perubahan itu bukan ide yang bagus, panik itu bukan ide yang bagus,” ujarnya.
Chef de Mission (CdM) JPE Werry Prayogi menuturkan, kekalahan dari Petrokimia di fase reguler diharapkan menjadi hikmah bagi tim. “Coach dengan pengalaman yang sudah 26 tahun, tahu what to do. Tapi juga nggak segampang itu, karena apa? Kondisi pemain tahu kan, naik turun. Apa lagi ini putri ya. Jadi sangat dinamis,” katanya.
Selain itu, dengan status bukan sebagai juara fase reguler, juga membuat beban tim tidak terlalu besar. Dia mencontohkan di beberapa musim terakhir. Tim yang menjadi juara fase reguler tidak menjadi juara Proliga.
“Jadi mungkin beban lebih berat untuk mempertahankan. Tapi dalam perebutan final four ini, yang punya beban harus jadi kelihatan hebat kan si Petro kan. Ya sama kayak Popsivo tahun lalu (juara fase reguler tapi gagal juara),” ucapnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO