Buka konten ini
KETEGANGAN bersenjata antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran serius di kalangan pelaku usaha di Batam. Konflik di kawasan Timur Tengah itu dinilai berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global, terutama apabila berdampak pada jalur distribusi energi dunia seperti Selat Hormuz.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, menyebut eskalasi konflik membuka peluang terjadinya lonjakan harga minyak dunia. Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dari kawasan Teluk yang memegang peranan krusial dalam rantai pasok global.
“Selat Hormuz itu menjadi lalu-lalang sekitar 80 persen minyak dari kawasan Arab. Ketika jalur ini ditutup, hampir bisa dipastikan harga minyak dunia akan melonjak,” katanya, Rabu (4/2).
Kenaikan harga minyak, lanjut Rafki, akan berdampak langsung terhadap biaya transportasi dan logistik. Sebagian besar aktivitas distribusi barang dan jasa masih sangat bergantung pada bahan bakar minyak. Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga komoditas secara luas dan menekan daya beli masyarakat.
“Ketika harga minyak naik, biaya transportasi ikut terdorong. Kalau transportasi naik, harga barang dan jasa juga akan terdampak. Dalam situasi seperti ini, tekanan inflasi akan sulit dihindari,” ujarnya.
Menurut Rafki, kalangan pengusaha di Batam kini tengah menghitung berbagai skenario risiko, mulai dari dampak jangka pendek hingga potensi konsekuensi jangka panjang. Mitigasi disusun untuk mengantisipasi kemungkinan konflik berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.
Selain tekanan harga, ia juga memperkirakan arus investasi ke Batam berpotensi tertahan. Dalam situasi geopolitik yang tidak stabil, investor umumnya mengambil posisi wait and see sebelum memutuskan ekspansi atau membuka penanaman modal baru.
“Kalau perang berlarut, biasanya investor menahan diri. Mereka tidak akan terburu-buru menambah ekspansi atau masuk ke pasar baru. Ini bisa menyebabkan stagnasi investasi,” kata Rafki.
Jika perekonomian global terganggu, ekspor dari Batam berpotensi melemah. Penurunan permintaan luar negeri bisa memicu langkah efisiensi di tingkat perusahaan.
“Kalau permintaan turun, biasanya perusahaan melakukan penyesuaian. Kita tentu tidak berharap efisiensi itu sampai berdampak pada pengurangan tenaga kerja,” ujarnya.
Dalam situasi tersebut, dunia usaha berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan responsif guna menjaga stabilitas iklim usaha dan kelancaran ekspor di tengah potensi gangguan distribusi global.
BI Kepri Wanti-Wanti Dampak Gejolak Energi Global
Kewaspadaan serupa disampaikan Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau. Otoritas moneter daerah menilai gejolak geopolitik di Timur Tengah bukan sekadar isu luar negeri, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi Batam.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepri, Rony Widijarto, mengatakan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melintasi Selat Hormuz.
“Kalau terjadi gangguan di kawasan itu, implikasinya pasti ke harga BBM dunia. Dampaknya bisa sampai ke Batam dan Indonesia secara umum,” katanya.
Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar minyak akan mendorong peningkatan biaya logistik dan berpotensi mengganggu arus ekspor-impor. Batam yang bertumpu pada perdagangan internasional dan industri manufaktur dinilai sangat sensitif terhadap dinamika biaya energi dan distribusi.
“Ekspor-impor bisa terganggu, ongkos logistik naik. Ini tentu menjadi perhatian karena bisa berdampak pada harga-harga di dalam negeri,” ujar Rony.
Ia menjelaskan transmisi dampak terjadi berlapis: kenaikan harga energi global mendorong biaya produksi, lalu merambat ke harga barang dan jasa. Di daerah dengan struktur ekonomi terbuka seperti Batam, efeknya cenderung lebih cepat terasa.
Bayangi Manufaktur dan Rantai Pasok
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Batam, Suyono Saputra, menilai dampak terhadap perdagangan nasional masih berada pada fase eskalasi, terutama setelah penutupan Selat Hormuz.
Sekitar 20–30 persen arus minyak dunia melintasi jalur tersebut. Negara produsen seperti Arab Saudi, Irak, Qatar, Kuwait, dan Iran bergantung pada perairan strategis itu untuk distribusi energi global.
Perkembangan situasi langsung tercermin pada harga energi dunia. Minyak mentah jenis Brent Crude per 3 Maret tercatat naik sekitar 2 persen dibandingkan sesi sebelumnya. Jika konflik meluas dan distribusi energi terganggu dalam waktu lama, harga diperkirakan masih berpotensi meningkat.
Menurut Suyono, lonjakan harga minyak mentah dan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) akan meningkatkan biaya produksi sektor manufaktur global. Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya dapat menekan utilitas pabrik dan daya saing industri.
“Jika harga barang meningkat, maka daya beli masyarakat akan menurun. Dalam jangka panjang, ini bisa berdampak pada utilitas pabrik manufaktur yang tergerus,” jelasnya.
Batam sebagai simpul rantai pasok internasional dinilai rentan terhadap gejolak energi dan gangguan logistik global. Ketergantungan pada bahan baku impor membuat kawasan industri di daerah ini harus mencermati perkembangan konflik secara berkala.
Data Perdagangan Indonesia
Secara nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan nilai perdagangan Indonesia dengan sejumlah negara di jalur strategis Selat Hormuz.
Sepanjang 2025, impor nonmigas Indonesia dari Iran tercatat USD 8,4 juta, didominasi buah-buahan, besi dan baja, serta mesin dan peralatan mekanis. Impor dari Oman mencapai USD 718,8 juta dengan komoditas utama besi dan baja. Sementara impor dari Uni Emirat Arab tercatat USD 1,4 miliar, termasuk logam mulia dan perhiasan.
Dari sisi ekspor, pengiriman nonmigas Indonesia ke Iran mencapai USD 249,1 juta. Ekspor ke Oman tercatat USD 428,8 juta, sedangkan ke Uni Emirat Arab menjadi yang terbesar dengan nilai USD 4,0 miliar.
Data tersebut menunjukkan hubungan dagang Indonesia dengan kawasan Timur Tengah cukup signifikan, meskipun tidak dominan secara keseluruhan. Namun gangguan logistik akibat konflik tetap berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan dan harga.
Di tengah dinamika tersebut, pelaku usaha di Batam diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap fluktuasi harga energi dan potensi gangguan rantai pasok. Gejolak di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada harga minyak, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas produksi, daya beli, serta keberlanjutan investasi di kawasan industri. (***)
LAPORAN : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK