Buka konten ini
SINGAPURA (BP) – Gejolak di Timur Tengah mulai terasa hingga ke pompa bensin Singapura. Harga BBM kompak naik setelah konflik yang mengganggu jalur vital pasokan minyak dunia kian memanas tanpa kepastian akhir.
Shell menjadi operator pertama yang menaikkan harga bensin RON 95 sebesar 4 sen menjadi 2,92 dolar Singapura per liter pada pagi 3 Maret. Tak lama berselang, Caltex menyusul menyesuaikan harga. Langkah itu kemudian diikuti Esso dan Sinopec.
Hanya SPC yang bertahan. Operator ini tetap memasang harga RON 95 di level 2,87 dolar Singapura per liter hingga 4 Maret siang, berdasarkan data Price Kaki, aplikasi pemantau harga kebutuhan pokok milik Consumers Association of Singapore.
Juru bicara Shell enggan menjelaskan alasan kenaikan harga bensin dan solar mereka. Yang pasti, harga tertera belum memasukkan potongan harga atau diskon, sehingga angka yang dibayar pengendara bisa berbeda.
Untuk RON 92, SPC masih termurah di 2,84 dolar Singapura per liter. Esso dan Caltex mematok 2,88 dolar Singapura. Shell dan Sinopec tidak menyediakan jenis ini.
Sementara itu, RON 98 reguler termurah juga dipegang SPC di angka 3,38 dolar Singapura. Esso dan Sinopec menjual di 3,42 dolar Singapura, sedangkan Shell tertinggi di 3,44 dolar Singapura. Adapun RON 98 premium bergerak di kisaran 3,55 dolar Singapura (Sinopec) hingga 3,66 dolar Singapura (Shell).
Straits Times mencatat, kenaikan juga menghantam solar. Harga tertinggi tercatat 2,70 dolar Singapura per liter di Shell, Esso, dan Caltex. SPC kembali jadi yang terendah di 2,57 dolar Singapura.
Analis menilai lonjakan harga minyak global akibat kekhawatiran terganggunya pasokan dari Timur Tengah langsung diteruskan ke harga ritel. Operator disebut sudah mengantisipasi kenaikan biaya angkut dan premi asuransi.
Konflik memuncak setelah perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menghentikan ekspor dari kawasan kaya minyak tersebut. Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran pada 2 Maret menyatakan Selat Hormuz ditutup dan mengancam kapal yang melintas. Jalur itu biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Serangan balasan pun terjadi di kawasan Teluk, bahkan meluas hingga Lebanon. Pada 4 Maret dini hari, Israel kembali menggempur Iran, sementara militer AS mengklaim telah menghantam hampir 2.000 target di negara itu.
Penasihat ekonomi SDAX, Song Seng Wun, mengatakan kenaikan harga minyak mentah hampir selalu berujung pada naiknya harga BBM. “Efeknya nyaris seketika,” ujarnya.
Kepala ekonom OCBC, Selena Ling, menambahkan operator SPBU cenderung segera memasukkan risiko gangguan pasokan ke dalam struktur harga.
Singapura sendiri sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Negara ini juga menjadi pusat pengilangan dan ekspor ulang produk energi di Asia Pasifik. Tak heran, setiap gejolak geopolitik di Teluk cepat menekan harga komoditas dan biaya logistik.
Di lapangan, reaksi konsumen beragam. Ada yang pasrah, ada pula yang geram. Seorang sopir taksi menyebut kenaikan ini seperti “perampokan di siang bolong”, karena minyak yang dijual dinilai masih stok lama. Namun sebagian pengemudi lain menganggap kenaikan tak terhindarkan di tengah perang.
Pengalaman 2022 menjadi pengingat. Saat krisis Ukraina meletus, harga RON 95 sempat menembus 3 dolar Singapura per liter. Beberapa bulan kemudian, bensin termahal bahkan melampaui 4 dolar Singapura untuk pertama kalinya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO