Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Endeavor Indonesia secara resmi mengumumkan bahwa Jefferson Chen, Co-founder, Group Chairman, dan CEO Advance Intelligence Group, terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur ke-111 dari Indonesia melalui International Selection Panel (ISP) yang diselenggarakan di Singapura pada awal Februari 2026.
Pengakuan ini menempatkan Jefferson dalam jaringan global High-Impact Entrepreneurs yang dinilai mampu mendorong transformasi ekonomi di pasar berkembang. Jefferson Chen mengatakan, kepercayaan adalah fondasi dari ekonomi digital. Tanpa sistem yang mampu mengelola risiko secara akurat dan real-time, pertumbuhan yang ada tidak akan berkelanjutan.
”Melalui Advance Intelligence Group, kami membangun infrastruktur berbasis AI yang memungkinkan institusi keuangan memperluas akses kredit secara aman dan inklusif. Bergabung dengan jaringan Endeavor menjadi langkah penting untuk memperkuat kolaborasi global dan mempercepat inovasi dari Asia Tenggara ke pasar internasional,” katanya, Rabu (4/3).
Endeavor dikenal memiliki proses seleksi yang ketat dengan melibatkan investor dan founder global. Dalam tahap akhir seleksi, Jefferson terpilih setelah melalui proses seleksi global bersama 15 perusahaan dari berbagai negara dan memperoleh enam suara “YES” dari panelis internasional, termasuk investor dan founder global seperti Matt Harris (Partner, Bain Capital Ventures), Rajat Bhargava (CEO & Co-founder, JumpCloud), hingga Tiger Fang (CEO & Co-founder, Kargo).
Managing Director Endeavor Indonesia, Monika Rudijono menyampaikan rasa bangga menyambut Jefferson Chen dan Advance Intelligence Group ke dalam komunitas Endeavor. Seiring dengan semakin berkembangnya ekonomi digital secara global, infrastruktur kepercayaan — mulai dari verifikasi identitas hingga risk intelligence — menjadi fondasi yang semakin penting.
”Jefferson telah membangun salah satu platform AI paling maju di Asia Tenggara untuk menjawab tantangan ini. Kami percaya perjalanannya tidak hanya akan mendapatkan manfaat dari jaringan global Endeavor, tetapi juga akan menginspirasi dan mendukung generasi berikutnya dari para founder yang membangun perusahaan teknologi berdaya saing global dari kawasan kita,” pungkasnya.
Didirikan pada 2016, Advance Intelligence Group kini beroperasi di lebih dari 80 pasar global melalui dua lini bisnis utamanya, antara lain ADVANCE.AI (B2B) dan Atome Financial (B2C). Secara kolektif, perusahaan melayani lebih dari 58 juta pengguna serta mendukung lebih dari 1.000 klien korporasi di berbagai sektor, termasuk perbankan, fintech, dan e-commerce.
Sementara itu, Atome Financial memanfaatkan infrastruktur data dan risk management yang sama untuk menyediakan berbagai layanan kredit konsumen seperti Buy Now Pay Later (BNPL), kartu kredit digital, pinjaman pribadi, hingga produk tabungan.
Advance Intelligence Group didirikan sebagai jawaban atas tantangan bahwa di kawasan Asia Pasifik, lebih dari 80 persen institusi keuangan kini mengandalkan Artificial Intelligence (AI) untuk mendeteksi dan mencegah fraud secara real-time guna menjaga keamanan dan kepercayaan pengguna.
Berbagai studi industri menunjukkan sistem berbasis AI mampu meningkatkan tingkat deteksi fraud hingga 90–95 persen, sekaligus menurunkan tingkat false positive 30–60 persen.
Di sisi operasional, otomatisasi proses onboarding dan monitoring transaksi juga terbukti mampu mengurangi kebutuhan manual review hingga 40–70 persen, serta menekan biaya operasional tim fraud management hingga 30–50 persen. Melalui pemanfaatan teknologi AI, perusahaan membantu institusi memperluas akses kredit lebih aman, presisi, dan inklusif.
Pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara, didorong lonjakan transaksi keuangan online dan penetrasi layanan pembiayaan digital. Namun, ada risiko fraud global dalam pembayaran digital diproyeksikan melampaui USD 40 miliar per tahun. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI