Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Bank Indonesia memastikan ketersediaan uang layak edar dan layanan penukaran pecahan kecil menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, sekaligus mencatat bahwa struktur ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) masih bertumpu pada investasi dan ekspor.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, mengatakan seluruh wilayah Batam serta kabupaten/kota di Kepri terjangkau layanan penukaran uang melalui kerja sama dengan perbankan.
“Semua area Batam mendapat layanan penukaran uang, termasuk kabupaten/kota di Kepri. Kami bekerja sama dengan perbankan untuk menjangkau wilayah. Penukaran dipermudah melalui aplikasi PINTAR sehingga ada kepastian tanggal dan tempat,” ujar Rony, Selasa (3/3).
BI bersama sedikitnya 15 bank membuka sejumlah titik layanan penukaran. Salah satunya digelar pada 9–10 Maret di One Batam Mall. Setiap warga dapat menukar uang hingga maksimal Rp5,3 juta per orang.
Menurut Rony, kebutuhan uang pecahan kecil meningkat seiring tradisi berbagi dan bersedekah selama Ramadan dan Lebaran. Selain itu, konsumsi rumah tangga juga cenderung naik pada periode tersebut.
“Kami pastikan jumlah uang mengikuti kebutuhan masyarakat agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Perbankan juga sudah menyediakan dan kami memastikan distribusi berjalan, apalagi ada libur panjang, jangan sampai terjadi kekosongan,” katanya.
Masyarakat diwajibkan melakukan pemesanan melalui aplikasi SI PINTAR dengan mengisi data terlebih dahulu sebelum mendatangi lokasi penukaran. Sistem ini dinilai mampu mengurangi antrean serta memberikan kepastian layanan.
Antusiasme warga terlihat pada layanan kas keliling BI di kawasan Masjid Agung Raja Ahmad Tabib, Selasa (3/3) pagi hingga siang. Sejak pagi, ratusan warga memadati lokasi untuk menukarkan uang pecahan kecil menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Hingga pukul 12.00 WIB atau menjelang Zuhur, tercatat sekitar 300 orang telah melakukan penukaran. Petugas keamanan BI di lokasi, Roban, mengatakan kuota layanan memang dibatasi sesuai jumlah pendaftar.
“Hari ini yang daftar sampai pukul 12.00 sekitar 300 orang,” ujarnya.
Dalam layanan tersebut, setiap warga dibatasi maksimal penukaran sebesar Rp5,3 juta. Pembatasan dilakukan agar distribusi uang pecahan dapat merata dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Adapun pecahan yang disediakan meliputi Rp50.000 sebanyak 50 lembar, Rp20.000 sebanyak 50 lembar, Rp10.000 sebanyak 100 lembar, Rp5.000 sebanyak 100 lembar, Rp2.000 sebanyak 100 lembar, serta Rp1.000 sebanyak 100 lembar.
BI juga akan membuka gelombang kedua penukaran pada Jumat mendatang. Warga diimbau mendaftar lebih awal melalui aplikasi guna memastikan kuota tersedia dan menghindari antrean panjang.
Program kas keliling rutin digelar menjelang hari besar keagamaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang pecahan kecil, sekaligus menjaga distribusi rupiah tetap tertib dan terkontrol.
Di sisi lain, BI mencermati struktur pertumbuhan ekonomi Kepri yang masih ditopang investasi dan kinerja ekspor. Berdasarkan komponen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut pengeluaran dan lapangan usaha, konsumsi rumah tangga belum menunjukkan daya dorong yang cukup kuat.
“Secara umum pertumbuhan Kepri masih ditopang investasi dan net ekspor. Konsumsi rumah tangga belum sekuat pertumbuhan ekonominya,” ujar Rony dalam kegiatan Bincang Bareng Media di kantor BI Kepri.
Ia menyebut kondisi tersebut berbeda dengan tren nasional, di mana konsumsi rumah tangga cenderung bergerak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Di Kepri, akselerasi lebih banyak digerakkan sektor berbasis eksternal.
Lapangan usaha pertambangan dan industri pengolahan menjadi penopang utama. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Kepri terdorong proyek lapangan minyak dan gas (migas) baru yang memasuki fase produksi (onstream).
Kegiatan pertambangan migas Forel dan Terubuk mulai beroperasi pada 16 Mei 2025 dengan produksi sekitar 20 ribu barel minyak per hari dan 60 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Lapangan tersebut ditargetkan mencapai kapasitas penuh pada akhir 2025.
Selain itu, proyek pipa WNTS–Pemping dijadwalkan rampung pada kuartal I 2026. West Natuna Exploration Ltd. menargetkan estimasi produksi pada akhir 2027, sementara KUFPEC Anambas membidik fase onstream pada kuartal I 2027.
Dengan perkembangan tersebut, BI memperkirakan sektor pertambangan dan industri pengolahan masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi Kepri dalam jangka menengah. Namun, penguatan konsumsi domestik dinilai penting agar struktur pertumbuhan lebih seimbang dan berkelanjutan.
“Penguatan konsumsi rumah tangga diperlukan supaya pertumbuhan tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal,” tegasnya.
Meski demikian, survei konsumen BI menunjukkan optimisme masyarakat tetap terjaga. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Kepri pada triwulan I 2026 hingga Februari tercatat sebesar 137,00, meningkat dibanding periode sebelumnya. Nilai tersebut berada di atas 100 yang berarti responden berada pada level optimistis.
Kenaikan IKK ditopang Indeks Kondisi Ekonomi sebesar 145,34 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) 128,67. Survei tersebut melibatkan 200 rumah tangga responden dan menjadi salah satu rujukan BI dalam memantau daya beli dan persepsi ekonomi masyarakat. (*)
Reporter : AZIS MAULANA – M SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO