Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Pelataran Masjid Agung Baitul Ma’mur, Tarempa, sore itu dipenuhi warna dan suara. Deretan tenda berdiri rapi, aroma takjil bercampur dengan angin laut yang berembus pelan.
Bazar Ramadan yang digelar Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas bukan sekadar tempat berburu menu berbuka, tetapi juga ruang tumbuhnya semangat anak-anak muda untuk berwirausaha.
Di antara pedagang yang mayoritas kaum emak-emak, terlihat sejumlah wajah remaja yang tak kalah sibuk. Mereka datang membawa ide, tenaga, dan harapan. Ramadan menjadi momentum untuk membuktikan bahwa generasi muda Anambas mampu menciptakan peluang sendiri.
Salah satunya Nevil, pemuda asal Desa Tarempa Barat. Saat ditemui, ia tampak sigap melayani pembeli yang datang silih berganti. Senyumnya tak lepas meski tangannya terus bekerja meracik minuman.
Nevil menjual es kelapa rainbow dengan dua varian rasa, melon dan coco pandan. Warna minumannya cerah menggoda, kontras dengan es batu yang memenuhi gelas plastik bening.
Bahan dasarnya sederhana, yakni kelapa murni segar, perasan jeruk nipis, dan sirup pilihan. Perpaduan manis dan asam menciptakan rasa segar yang pas untuk melepas dahaga setelah seharian berpuasa.
“Setiap Ramadan selalu jualan minuman ini. Daripada tidur tidak ada kerjaan, jadi jualan saja. Dari 2021 sudah jualan,” ujar Nevil saat dijumpai Batam Pos, Senin (23/2).
Baginya, Ramadan bukan waktu untuk bermalas-malasan. Justru di bulan inilah peluang terbuka lebar. Keramaian bazar menjadi kesempatan untuk menambah penghasilan sekaligus melatih mental usaha.
Dalam sehari, hampir 50 cup es kelapa rainbow terjual. Dengan harga Rp12 ribu per cup, omzetnya bisa mencapai sekitar Rp500 ribu per hari. Hasil yang cukup menjanjikan untuk usaha musiman.
Nevil juga menghadirkan promo khusus setiap Jumat. Ia menyebutnya “promo berkah”, dengan harga diturunkan menjadi Rp10 ribu per cup. Menurutnya, berbagi sedikit keuntungan justru membawa rezeki yang lebih luas.
Usaha ini tidak ia jalankan sendiri. Ia menggandeng rekannya yang juga remaja setempat. Mereka patungan modal, berbagi tugas, dan sama-sama merasakan hasilnya.
Ada yang bertugas menyiapkan bahan sejak siang hari, ada yang fokus meracik minuman, dan ada yang melayani pembeli. Kerja sama itu membuat usaha kecil mereka berjalan lebih efektif dan terasa ringan.
“Kalau hari-hari biasa kami kerja di gudang ikan, kadang serabutan. Nah, Ramadan ini khusus jualan minuman,” tutur Nevil.
Pengalaman bekerja serabutan tidak membuatnya kecil hati. Justru dari situlah ia belajar bahwa penghasilan tidak harus selalu bergantung pada satu pintu pekerjaan.
Nevil mengajak generasi milenial di Anambas untuk berani menciptakan peluang usaha sendiri. Menurutnya, lapangan kerja tidak cukup jika hanya berharap pada pemerintah daerah.
Selama ini, banyak anak muda bercita-cita menjadi honorer atau PPPK setelah lulus sekolah. Namun, kondisi saat ini tidak lagi memungkinkan semua orang masuk ke jalur tersebut.
“Sekarang tidak bisa lagi kerja di Pemkab Anambas, makanya kita milenial yang ciptakan peluang usaha dan buka lapangan kerja. Jangan takut untuk memulai, sakit dahulu senang kemudian,” katanya penuh keyakinan.
Semangat itu mendapat apresiasi dari Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, yang hadir meninjau bazar. Ia menyempatkan diri berdialog dengan para pedagang muda dan memberikan dukungan.
Menurut Aneng, keikutsertaan remaja dalam bazar membuktikan bahwa anak-anak daerah tidak manja. Mereka mau berusaha, tidak gengsi berjualan, dan berani bersaing secara sehat.
“Ini bagus, anak-anak kita semangat wirausahanya luar biasa, tidak gengsi,” ujar Aneng.
Ia pun berkomitmen mendorong akses permodalan bagi generasi milenial melalui skema kredit usaha yang lebih mudah dijangkau. Harapannya, semakin banyak anak muda yang berani memulai usaha tanpa terbebani modal besar.
Di tengah hiruk-pikuk bazar menjelang azan magrib, semangat itu terasa nyata. Dari gelas-gelas es kelapa yang terjual, terselip mimpi tentang kemandirian.
Ramadan di Tarempa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang keberanian generasi muda menata masa depan. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : PUTUT ARIYO