Buka konten ini
Kabar duka itu datang cepat pada Selasa (24/2) dini hari. Telepon berdering dari satu tokoh ke tokoh lain. Pesan berantai menyebar. Mereka yang selama puluhan tahun berjalan bersama dalam organisasi dan kegiatan sosial seakan tak percaya. Datuk Harsono, tokoh Tionghoa Batam, berpulang di usia 82 tahun.

MENURUT keterangan keluarga, Harsono mengembuskan napas terakhir sekitar tengah malam setelah beberapa waktu terakhir kondisi kesehatannya menurun akibat asma.
“Minggu lalu masih sempat komunikasi soal pekerjaan,” ujar salah satu kerabat dekat saat ditemui di Rumah Duka Batu Batam, Rabu (25/2).
Di usia 82 tahun, ia tetap menunjukkan semangat tinggi. Bahkan dalam kondisi fisik melemah, pikirannya masih aktif membahas pembangunan kawasan Tanjung Pantun dan rencana kegiatan sosial lainnya.
Setelah disemayamkan dan menerima penghormatan dari berbagai tokoh lintas agama dan etnis, prosesi kremasi dijadwalkan berlangsung pekan depan. Abu jenazah akan ditaburkan ke laut sebagai simbol kembali menyatu dengan alam yang selama hidupnya menjadi saksi pengabdiannya di Batam.
“Kami benar-benar kehilangan. Tapi kami percaya apa yang beliau tanam selama ini tidak akan hilang,” ujar Datuk Amat Tantoso yang juga tokoh Tionghoa sekaligus pengusaha Batam.
Kepergian Datuk Harsono menutup perjalanan hidupnya, tetapi nilai toleransi, kesederhanaan, dan keberpihakan pada masyarakat kecil yang ia wariskan tetap hidup dalam ingatan banyak orang.
Bagi Datuk Amat Tantoso, kehilangan ini terasa personal. “Beliau itu bukan cuma teman organisasi. Sudah seperti orang tua kami,” ujarnya.
Saat menjabat Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Kepri, Datuk Harsono dikenal tidak memimpin dari balik meja. Ia turun langsung memasang lampion di sepanjang jalan Nagoya menjelang Imlek.
Dari ruko Sari Jaya hingga deretan pertokoan lainnya, setiap toko dipasangi dua lampion, termasuk tiang-tiang lampu jalan.
“Kami sendiri yang pasang. Beliau ikut naik, ikut betulkan lampu,” kenang Datuk Amat.
Suatu ketika ia terjatuh saat memperbaiki lampu dan harus dirawat hingga ke Singapura. Namun dalam kondisi belum pulih dan masih menggunakan kursi roda, ia tetap hadir di malam perayaan.
“Sebagai ketua, dia merasa harus hadir. Itu tanggung jawab,” katanya.
Salah satu peristiwa paling membekas adalah ketika Datuk Harsono dipercaya menjadi Ketua Panitia MTQ di Masjid Jodoh. Di tengah sekat identitas yang kerap muncul, seorang tokoh Tionghoa non-Muslim dipercaya memimpin kegiatan keagamaan Islam.
“Mana ada yang seperti itu? Tapi beliau bersedia,” ujar Datuk Amat.
Ia tidak sekadar menerima jabatan, tetapi aktif menggalang dukungan pendanaan dari sahabat-sahabatnya. Baginya, MTQ bukan sekadar agenda agama, melainkan momentum kebersamaan masyarakat.
Atas pengabdian lintas agama itu, ia kemudian direkomendasikan menerima gelar adat dari zuriat Kesultanan Riau-Lingga.
Merintis Rumah Duka dan Membela Pedagang Kecil
Datuk Harsono juga tercatat sebagai dewan pendiri dan pembina Rumah Duka Batu Aji. Lahan satu hektare dibeli dari hasil gotong royong dan penggalangan dana. Sejak awal, visinya jelas: rumah duka itu terbuka bagi semua kalangan.
“Sekarang justru banyak dari suku lain yang menggunakan. Indonesia Timur, Nias, Batak. Itu memang dari awal visinya sosial,” jelas Datuk Amat.
Belasan tahun berjalan, operasionalnya bertumpu pada donasi dan bantuan dermawan. Tidak pernah mudah, namun selalu tercukupi.
Sebagai Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Kepri, ia juga membangun kios-kios bagi pedagang kecil, termasuk di kawasan depan Melia Panorama. Modalnya terbatas, bahkan sebagian berasal dari kantong pribadinya. Pedagang diperbolehkan mencicil secara ringan.
“Beliau tidak cari untung. Dia ingin pedagang kecil punya tempat yang layak,” kenang Datuk Amat.
Bekerja Tanpa Sorotan
Di dunia profesional, ia dikenal sebagai konsultan pajak yang disegani, tetapi tetap rendah hati. Bahkan menjelang akhir hayatnya, masih ada pengusaha yang menghubunginya untuk berdiskusi soal pajak.
Ia bukan tokoh yang gemar tampil. Ia bekerja dalam diam.
Malam terakhir sebelum kremasi, tokoh lintas agama dan etnis dijadwalkan berkumpul di rumah duka. Mereka datang membawa satu rasa: kehilangan.
Namun di balik duka, tersimpan kebanggaan pernah berjalan bersama sosok yang tak mengenal batas dalam berbuat baik.
Datuk Harsono mungkin telah tiada. Tetapi lampion yang pernah ia pasang, kios yang ia dirikan, MTQ yang ia pimpin, dan rumah duka yang ia rintis menjadi jejak nyata bahwa toleransi dan ketulusan dapat diwujudkan dalam tindakan.
“Beliau tulus. Itu yang paling kami ingat,” tutup Datuk Amat.
Dan di tengah denyut kota yang terus bergerak, nama Datuk Harsono akan tetap dikenang sebagai pribadi yang mengajarkan satu hal sederhana: berbuat baik tanpa memandang siapa yang dibantu. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK