Buka konten ini

BEROLAHRAGA di bulan Ramadhan kerap memunculkan dilema. Di satu sisi, tubuh tidak mendapatkan asupan kalori dan cairan sejak pagi hingga waktu berbuka. Di sisi lain, kebugaran tetap perlu dijaga agar aktivitas harian tidak terganggu.
Dokter dan pegiat gaya hidup sehat, dr. Tirta, menegaskan olahraga tetap dianjurkan selama berpuasa. Namun, pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kondisi tubuh, terutama dari sisi waktu dan intensitas latihan.
“Intensitas olahraga selama bulan puasa tidak boleh lebih berat daripada yang dilakukan harian. Karena tubuh dalam kondisi kekurangan kalori, cairan, mineral, dan pola tidur pun biasanya berubah,” ujar dr. Tirta melalui unggahan di Instagram, Minggu (22/2).
Lantas, kapan waktu yang tepat untuk tetap aktif tanpa mengganggu kondisi fisik?
Menjelang Berbuka
Waktu yang kerap direkomendasikan adalah menjelang berbuka puasa, sekitar pukul 16.00 setelah salat Asar hingga sebelum Magrib. Pada fase ini, kadar gula darah berada pada titik rendah.
Menurut dr. Tirta, kondisi tersebut dapat melatih tubuh beradaptasi dengan energi minimal sekaligus meningkatkan ambang laktat (lactate threshold). Jika dilakukan konsisten selama Ramadhan, latihan ini dinilai mampu meningkatkan daya tahan tubuh (endurance).
Meski demikian, ia mengingatkan agar latihan tidak dilakukan secara berlebihan karena risiko pusing hingga pingsan lebih tinggi. Intensitas tetap perlu dijaga pada level ringan hingga sedang.
Setelah Berbuka atau Tarawih
Pilihan lain adalah satu hingga dua jam setelah berbuka puasa, atau selepas salat Tarawih. Pada waktu ini, tubuh telah mendapatkan kembali asupan energi sehingga latihan dapat dilakukan dengan lebih nyaman.
Namun, olahraga malam hari berpotensi mengurangi waktu istirahat. Karena itu, durasi dan jenis latihan perlu disesuaikan agar tidak mengganggu kualitas tidur.
Sebelum Sahur
Alternatif berikutnya adalah sebelum sahur. Misalnya, bangun sekitar pukul 03.00, minum air putih terlebih dahulu, lalu melakukan olahraga ringan di rumah seperti push-up, sit-up, atau plank jump.
Dr. Tirta menyebut plank jump cukup efektif karena kalori yang terbakar mendekati saat berlari. Latihan ini juga praktis dilakukan tanpa alat khusus dan bisa menjadi pilihan bagi mereka yang memiliki waktu terbatas.
Pada akhirnya, kunci berolahraga saat puasa terletak pada pengaturan intensitas, durasi, serta pemilihan waktu yang tepat. Dengan penyesuaian tersebut, kebugaran tetap terjaga tanpa mengorbankan kondisi tubuh selama menjalani ibadah. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO